Wine Tasting, Alpaca and Free Day Trip

Happy alpaca

Happy alpaca

Kalo jalan-jalan dalam bentuk kelompok atau rombongan saya memiliki kecenderungan untuk menjadi pemalas, malas browsing, googling dan cari tahu tempat yang mau didatengin maksudnya. Saya ngikut ke mana aja rombongan pergi tanpa bertanya mau ke mana dan ngapain, pokoknya ngekor aja yang penting saya menikmatinya. Malah enak sih, nggak perlu pake mikir dan pusing bikin itinerary dan mencari tahu ‘how to get there’ hehe.

2 tahun lalu, selama di Australia sepertinya saya kurang mengexplore keindahan alam Queensland dengan alasan kesibukan. Saya sibuk sendiri dengan rutinitas di dalam kelas dari hari senin-jumat dari pagi sampe sore, dan kehidupan dapur setiap hari. Saya bahkan udah bawa berkas aplikasi visa New Zealand lengkap, beserta dengan dokumen asli tapi karena saya anak baik-baik yang takut mbolos dari kelas makanya saya mengurungkan niat saya buat cabut ke NZ dan baru bisa berangkat 1 tahun kemudian.

Waktu di kelas General English part 2 saya berteman dengan seorang cowok korea yang ramah banget. Temen korea di kelas GE part 1 agak tertutup dan jarang ngajak saya ngobrol padahal setiap hari saya duduk di sebelahnya buat nyontek, kerjaannya di luar kampus sibuk main golf mulu sampe pergelangan tangannya ditempelin koyo haha. “Murah, murah! Main golf di Brisbane itu murah banget daripada di Korea, makanya gua maen golf mulu.” kata Jongshik. Iya dahhhh. Saya diceritain juga, sebenernya tujuan memperdalam golf ini adalah buat kerjaan, buat ngeloby client gitu dah, kayak di drama-drama korea itu lho!

Setelah Jongshik pulang ke negaranya, datanglah peserta General English part 2 dari perusahaan yang sama. Namanya Ahn Jae Guk, dia jauh lebih supel daripada Jongshik, Jaeguk Oppa dengan baik hati menawarkan saya untuk bergabung dengannya ke Lamington National Park dengan cuma-cuma saat weekend. Saya hanya harus datang ke meeting point di depan casino di city dan ikutan masup ke bus bersama dengan rombongan korea lainnya pas weekend besoknya. Dasar sayanya yang demen gratisan, saya nggak pake mikir lagi buat bilang ‘Iyak!’ padahal di hari yang sama teman-teman seapateu juga pada mau jalan ke Stradbroke Island rame-rame. Tentu saya pilih yang gratisan dong. Tapi kalo dipikir-pikir saya sirik juga sama foto temen-temen seapateu, mereka pamerin foto pelican, kangguru, koala yang lagi nangkring di pohon, di alam liar. Pemandangan Stradbroke island di musim dingin itu bagusssss sodara-sodara! Nggak boleh sirik! Saya juga punya pengalaman yang nggak kalah seru kok hihi.

Saya nggak tau mau diajak ke mana dengan rombongan tur korea se-bus, namanya juga gratis dan dadakan, terserah aja deh. Saya sih asik aja dengerin mbak pemandu ngoceh dalam bahasa korea. Pas banget, saya kan belom pernah nyobain ikutan paket tur dengan bus saat di luar negeri, jadi itu adalah kali pertama saya ikut tur dan dengerin guidenya ngejelasin dengan bahasa yang samar-samar saya mengerti artinya.

Saya udah agak lupa nih, dulu pemberhentian pertama kami adalah Mountview Alpaca Farm, sebuah bangunan yang difungsikan sebagai toko souvenir yang dikelilingi oleh peternakan alpaca dan hamparan perbukitan hijau yang terletak di Lamington National Park, Queensland. Alpaca, baru kali itu saya denger ada binatang yang bernama alpaca. Bentuknya mirip-mirip kayak llama, cuma lebih mungil ukurannya daripada llama. Padahal saya belom pernah liat llama juga hahaha. Si alpaca ini juga lucu bentuknya, unik aja gitu nemuin binatang kayak gitu.

Kenalan sama alpaca

Kenalan sama alpaca

Setelah dari Mountview Alpaca Farm, perjalanan di lanjutkan ke O’Reilly’s Rainforest Retreat. Di sini ada O’Reilly’s Tree Top Walk, jadi semacam jembatan gantung dari kayu dengan tinggi 16 meter dari dasar tanah. Sebelum mencapai jembatan gantung ini kami harus berjalan kaki di jalanan kayu di tengah hutan, di sini kami sempat menemukan burung liar dengan warna bulu mencolok, warna merah, kayak burung kakak tua gitu, saya nggak tau namanya. Kontras, pemandangan hijau dengan burung berwarna merah yang nemplok di dahan pohon.

Di dekat  O’Reilly’s Tree Top Walk ini juga ada semacam menara pantau, gimana yah jelasinnya. Jadi kita bisa manjat ke atas salah satu puncak pohon supaya bisa liat pemandangan di sekitaran, ada tangga buat berpijaknya sih yang dipasang di pohon tapi dasar saya yang takut ketinggian sayanya nggak nyobain naik. Padahal kalo naik ke atas pemandangannya pasti bagus banget deh.

O’Reilly’s Tree Top Walk

O’Reilly’s Tree Top Walk

Setelah puas main-main di jembatan gantung ber-3 (saya, Jae Guk, Alex), kami memutuskan untuk kembali ke keramaian ke luar hutan. Nggak boleh liat ada akar pohon yang panjang gelantungan, si Jae Guk langsung gelayutan kayak Tarzan. Namanya juga rainforest, hutannya lembab banget, lumutan dan jarang kena sinar matahari sepertinya. Saya suka banget mblasuk ke hutan, aromanya itu beda, segerrrrr luar biasa.

Setelah puas masup hutan, tiba saatnya makan siang. Kami dapet nasi box yang biayanya udah sepaket sama tur bus, lumayan banget, nasi dan ayam katsu plus teman-temannya. Saya udah takut aja kalo makanan yang disajikan itu b2, makanya saya cerewet banget nanyain daging apa ini? Daging apa ini!? Sambil makan siang kami ngobrol dan curhat soal kerjaan kami masing-masing di negara asal.

Saya sempet ketemu orang Indonesia di sini. Kelar dari O’Reilly’s Rainforest Retreat, kami melanjutkan perjalanan ke Mount Nathan Winery. Wine, wine, wine! Wohooo, saya udah kesenengan ngebayangin jalan-jalan di vineyard di cuaca yang cerah dan udara yang sejuk. Kami masuk ke dalam sebuah bangunan yang dipenuhi dengan berbagai jenis botol berisi wine dan kendi kayu besar yang berjejer di pojokan. Kami dipandu oleh seorang om-om, yang menjelaskan berbahai jenis wine yang diproduksi di situ. Saya sempat nyobain beberapa jenis wine, tapiiii, saya nggak doyan wine. Lidah saya kan lidah kampung, saya nggak cocok minum yang beginian, emang nggak doyan minuman beralkohol juga. Kata bang roma, minuman keras itu haram haha.

Sementara yang lain pada sibuk nyicipin berbagai jenis wine, saya langsung ke bagian belakang bangunan itu dan berharap menemukan vineyard. Setelah menemukan jalan keluar di belakang saya menemukan hamparan perbukitan hijau yang dipenuhi oleh alpaca. Iyak, alpaca lagi! Kali ini lebih banyak dan tempatnya lebih keren lagi. Saya sempat ngerekam dengan menggunakan kamera saku saya mengamati alpaca. Alpaca di sini sehat-sehat dan nggak stress kali ya.

Buka

Buka

Tampilan dalam winery

Tampilan dalam winery

CIMG5320

CIMG5326

Red wine (jenis apa saya nggak tau)

Red wine (jenis apa saya nggak tau)

Pemandangan di belakang Mount Nathan Winery

Pemandangan di belakang Mount Nathan Winery

Alpaca lagi akting

Alpaca lagi akting, tau aja mau difoto 😀

Puas mainan sama alpaca akhirnya kami kembali melanjutkan perjalanan ke… saya nggak tau ke mana haha. Gini nih kalo nggak nyatet tempat-tempat yang didatengin pas lagi jalan-jalan, saat itu kan pikiran saya cuma liburan, bukan buat nyari bahan tulisan di blog haha. Kami datang ke suatu tempat  dengan puluhan, atau ratusan perahu (atau yacht?) yang diparkir dengan rapi. Di situ kami jalan-jalan sambil makan es krim dan nongkrong di dermaga. Saya sambil makan Doritos sambil foto-foto juga. Saking asiknya ngobrol kami hampir ditinggal rombongan di bus. Abisan enak banget suasananya. Waktu nggak kerasa kalo dipake buat jalan-jalan. Sore harinya akhirnya kami kembali ke Brisbane dan membawa pulang kenangan indah yang dapat saya ceritakan di blog. Kayaknya saya udah pernah posting beginian deh.

Trus setelah kembali ke city, perjalanan kami ber-3 sudah berakhir? Belum dong! Kami melanjutkan makan malam di restoran korea, nama restorannya Wara-Wara. Dan seperti biasa, saya selalu was-was kalo makan di restoran yang bukan di Indonesia, bukan apa-apa, cuma takut kemakan b2 doang, hiks. Gimana mau wisata kuliner kalo makannya aja pilih-pilih. Malam itu saya makan sundubu doangan, sementara mereka makan menu daging b2 dengan nikmatnya. Rasa sundubu pesenan saya biasa aja, yah emang kayak gitu rasanya juga. Saya cinta restoran Thailand dan restoran Indonesia di Brisbane. Masakan Thailand lebih kaya rasa daripada masakan korea. Kelar makan malam kami misah deh, pulang ke rumah masing-masing. Sungguh hari yang melelahkan dan menyenangkan. Dalam sehari saya cuma keluar duit sebesar 15an dolar buat beli makan malam, ongkos citycat ke rumah juga gratis kan pas weekend, murah bukan!? Mwahaha. *gak mau rugi*

5 thoughts on “Wine Tasting, Alpaca and Free Day Trip

  1. Lebih doyan bir pletok ya haha
    Duuhh foto-fotonya memanjakan mata 😍😍 sering lihat Ilama, ditipi haha mirip banget sama Alcapa ini ya. Apa masih serumpun?

  2. Saya pertama kali lihat alpaca di Batu Secret Zoo. Sempat salah kira sebagai llama, tapi yang belakangan ini tampaknya tubuhnya lebih gede ya, Mbak.
    Seru banget bisa menemukan mereka di alam bebas. Mereka tampak sangat bahagia. Memang ya, binatang itu paling senang apabila mereka hidup dengan bebas, sebagaimana halnya manusia :hehe.
    Winery-nya bersih sekali! Penataannya seperti sebuah museum yang memajang anggur-anggur :hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s