Cerita Visa

Dokumen untuk ditukarkan dengan selembar stiker visa

Dokumen untuk ditukarkan dengan selembar stiker visa

Okeh, mumpung masih anget-anget taik ayam nih saya mau cerita udah ngapain aja dari pagi tadi. Pagi ini saya ngerasa gugup, deg-degan, gelisah, sampe mules gara-gara stress mikirin visa. Rencananya pagi ini, sekitar jam 10an saya pengen capcus ke belakang kantor buat apply visa. Semua dokumen udah saya siapin sejak kemarin, lengkap dengan bukti keuangan dan bukti konfirmasi tiket pesawat dan ho(s)tel yang sudah dibayar dengan lunas atau digaransi dengan kartu kredit. Saya tau banget kalo mau apply visa konon katanya kudu ada duit sebanyak 50 juta rupiah di rekening yang dibuktikan dengan rekening koran dan surat referensi dari bank tempat kita naro duit. Tapiiii berhubung jumlah saldo di rekening saya pas-pasan, maka saya nekad mengajukan aplikasi visa hari ini.

Setelah menyiapkan mental saya memberanikan diri untuk melangkahkan kaki ke lift dan jalan kaki ke pusat aplikasi visa yang berjarak selemparan kolor dari kantor saya. Sambil berjalan saya merasakan betapa kerasnya degup jantung saya. Tegangnya kelewatan, melebihi tegangan listrik di pusat pembangkit listrik. Saya harus berangkat ke pusat aplikasi visa hari ini, kalo enggak sekarang kapan lagi. I’m running out of time. Now or never.

Bener aja dong, saat tiba di sana dan duduk manis di depan mbak petugas penerima berkas visa, berkas yang pertama kali dicek adalah rekening koran saya yang berjumlah 5 halaman. Dicek angkanya bolak-balik sampai tiba di lembaran paling akhir yang berisi jumlah saldo di rekening saya dan.. Mbaknya bilang gini, “Maap-maap nih, jumlah saldonya minim banget, ada rekening lagi nggak? Ada simpenan lain? Sekedar saran aja sih, kalo bisa direkening ada banyak. Kurs hari ini berapa? Paling enggak buat biaya hidup di sana bisa40 juta kan.”

Jedeeer!! I knew it, pasti dia akan bilang begitu. Apa yang saya takutkan ternyata menjadi kenyataan. Rekeningnya kurang banyak, huaaaaa!! Iyaaa sih biaya hidup di negara-negara skandinavia itu mahal, tapi kan saya udah bayar tiket pesawat dan hostel, jadi di sana nanti tinggal bayar setengah akomodasi, transportasi dalam kota dan biaya masuk objek wisata (kalo mau). Saya juga ditanyalah apakah saya punya rekening lain atau tidak, rekening orang tua, atau siapapun yang bisa membiayai perjalanan saya. Ealah boro-boro mbak, saya kan single fighter, ini saya mau ke sana juga kan mau investasi, maksudnya investasi memori jangka panjang. Saya nggak punya investasi dalam bentuk logam mulia atau aset tak bergerak. Namanya juga backpacker kere, bisa sampe ke sana aja udah alhamdulillah, saya nggak bakalan macem-macem selama di sana.

Kemudian, si mbaknya langsung bolak-balik ngecek kelengkapan aplikasi visa saya satu persatu. Dimulai dari rekening koran, tiket pesawat, pokoknya semuanya deh. Sambil ngecek sambil nanya-nanya saya kerja di mana, berapa lama, interview kecil-kecilan gitu deh. Sambil ngejawab pertanyaannya sambil saya jelasin. “Ini lho tiket pesawatnya dari Jakarta ke Kuala Lumpur”. Kemudian dia nanya lagi, “Tiket pulangnya mana? Dari Kuala Lumpur ke Jakarta kok nggak ada!?”

“Begini lho mbak, jadi rute terbangnya itu saya berangkat dari Jakarta ke Kuala Lumpur, kemudian dari Kuala Lumpur ke Abu Dhabi, dari Abu Dhabi ke hatimu…”

Setelah dicek dengan seksama, sebagian besar berkas di halaman belakang yang nggak penting dikembaliin lagi ke saya. Cukup halaman pertama dan bukti kalo saya udah bayar tiket atau hotelnya. Di website pusat aplikasi visa disebutkan, kalo pemohon seharusnya gak beli tiket pesawat dulu. Kalo dipikir-pikir, saya ini nekad banget, beli tiket pesawat pp dan tiket antar kota duluan. Ya ampun, saya takut banget! Beneran!

Dokumen yang diperlukan

Dokumen yang diperlukan

Setelah semua dokumen diterima dengan lengkap, selanjutnya saya melakukan pembayaran dan menerima bukti pembayaran. Biaya visa ini lebih murah daripada visa New Zealand. Saya langsung pindah ngantri di depan loket ruangan tertutup untuk pengambilan sidik jari dan foto biometrik. Sidik jari dan foto biometrik diperlukan untuk database di negara-negara schengen, jadi kalo nanti mau apply visa lagi kita gak perlu ambil sidik jari dan biometrik. Mirip-mirip kayak mau bikin paspor gitu deh. Setelah selesai pengambilan foto biometrik dan sidik jari akhirnya selesai sudah tahapan-tahapan dalam mengajukan aplikasi visa ini. Saking gugupnya saya sampe blank pas keluar dari pusat aplikasi visa, nyari pintu keluar aja nyasar hehe.

Sebelum memilih di kedutaan mana saya akan mengajukan aplikasi visa, saya sempat browsing mencari informasi mengenai pengalaman orang-orang yang pernah apply visa di kedutaan Denmark, tapi karena minimnya postingan blog orang yang pernah apply visa di denmark saya nggak nemu. Kebanyakan orang-orang apply visa melalui kedutaan Belanda dan Perancis (TLS contact) karena katanya di kedutaan ini paling mudah prosesnya. Awalnya saya juga hampir memilih apply visa di kedutaan Perancis, tapiiii.. mahal *pelit*. Lagian saya males memodifikasi itinerary, berhubung saya orangnya jujur, baik hati, rajin menabung dan tidak sombong maka saya memilih mengajukan aplikasi visa melalui kedutaan Denmark. Kan katanya harus apply visa di negara yang paling lama didatengin. Proses aplikasi visa di kedutaan Denmark ini akan memakan waktu maksimal 15 hari, mohon doanya ya teman-teman. Bismillah…

29 thoughts on “Cerita Visa

  1. Aah bijo mo ke yurop!!! Asiik.. Kapan nih? Aku ikut doong, masukin aja kedalam ransel, pasti muat koqq ! Aku kan kaya manusia plastik, bisa dilepit lipet! Hihihi

  2. Woahhh.. Mahal juga yahh 50juta.. Jd pengen tau apa requirement di semua tempat itu sama, harus ada jumlah segitu untuk berangkat.. Mudah2an cepet ke approve yaa 🙂

    • Amiiin, makasih ya..
      Aku nggak ngerti juga harus ada saldo berapa di rekening koran, kalo kedutaan belanda minimal perhari 34 Euro dikali lama tinggal di sana, katanya ada juga yang kudu sampe 70 juta di rekening entah ketentuan di kedutaan mana, gilak gak tuhh.

      • Iyaaa, gak tau kali ya kalo nyari duit segitu susah, apalagi kurs rupiah jatoh banget kalo dibandingin dengan euro. Harus nabung berapa lama buat dapet dana segitu dengan bekerja sebagai karyawan biasa-biasa saja di jakarta *eh malah curhat 😀

  3. Ini visa Schengen itu ya, Mbak? Wah, mesti ada saldo sebanyak Rp50juta minimal di rekening, lumayan juga ya syaratnya, tapi dari pengalaman Mbak itu saya menyimpulkan kalau saldo di bawah Rp40juta juga cuma ditanyakan saja oleh petugasnya, tidak langsung ditolak? Atau kalau ditolak butuh pemberitahuan resmi?

    Good luck buat visanya ya Mbak, semoga berkah Lebaran, visanya di-approve jadi bisa halan-halan ke luar negeri deh :amin :)).

    • Saldo 50 jt di rekening untuk meyakinkan pihak kedutaan kalo kita memiliki bukti financial untuk bertahan hidup di negara mereka. Padahal kalo gaya travelingnya kayak aku (backpacker ngenes bin pelit yang super irit), gak perlu budget sebanyak itu, kan udah bayar tiket pesawat pp dari/ke indonesia, tiket pesawat antar negara, tiket bus, sama hotel. Yang dihitung harusnya biaya transportasi dalam kota, dan biaya tak terduga lainnya. Untuk biaya makan sehari-hari kan belanja di groceries, jadi gak seboros kalo beli makan di restorang.

      Kalo visa ditolak nanti ketauan pada saat ambil paspor (amit-amit). Aku udah kayak petugas imigrasi aja ya ngejelasinnya hehe.

      Amin, makasih ya doanya 🙂

      • Tak apa Mbak :hihi, terima kasih ya, sekarang sudah semakin jelas, apalagi kalau baca postingan yang bagian dua itu :hehe. Sip, sip, sama-sama, jangan lupa ceritanya kalau berhasil tembus ke negara Eropa itu :hehe.

  4. Oohh kirain sudah jadi Visanya, ternyata baru masukin ya. Mudah2an lancar ya. Kalo dikedutaan Belanda sehari sudah ada hasilnya. Sekarang masukin, ntar sore atau besoknya sudah ada hasilnya. Tapi antri onlinenya susah katanya *aku belum pernah coba yang di Jakarta

    • Di kedutaan belanda di jakarta lebih murah dan gampang karena gak pake biaya tambahan pihak ke-3, syarat di rekening pun gak terlalu berat, min 34 euro perhari dikali lama tinggal di sana, makanya peminatnya banyak.
      Tapi ya tetep aja aku bikin kudu di kedutaan denmark kalo ngikutin prosedur berdasarkan lama tinggal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s