Traveling

Bertemu Komodo Nggak Harus Mahal

Komodo Dragon
Komodo Dragon

Banyak yang bilang kalo mau kelayapan ke Indonesia Tengah-Timur itu ongkosnya mahal, saking mahalnya orang-orang udah takut duluan buat mencari tahu cara ke sana. Saat browsing tentang komodo saya malah lebih sering nyasar ke blognya orang bule.

LOB atau hidup di kapal menjadi perjalanan yang lagi nge-hitzz bagi kalangan traveler. Tidak apa-apa kalo kamu bergabung dengan open trip atau trip bareng atau share cost untuk mengexplore keindahan pulau-pulau di Indonesia. Kecuali kamu mampu membayar biaya sewa kapal private seorang diri, atau kamu mampu menyewa yacht untuk liburan mewah ke Komodo National Park dan pulau-pulau eksotis lainnya, tanpa peduli dicap sebagai seorang turis, backpacker, flashpacker atau jet setter, karena tujuannya itu sama, menjelajah dan melihat keindahan Indonesia.

Pertengahan Agustus lalu saya ikut trip bareng ke Lombok-Labuan Bajo bersama dengan Mbak Evi (yang punya ide open trip) dan Mita (teman nemu waktu ngetrip bareng di Krakatau dan Pulau Sangiang). Saya berangkat dari Jakarta ke Lombok seorang diri, kemudian dari bandara Praya saya langsung ditunggu oleh Mbak Evi, dan 3 orang peserta trip bareng. Okeh, karena pesawat saya siang, maka saya dan 3 orang lainnya ditinggal grup di kapal yang sebagian besar bule-bule yang sudah menunggu sejak pagi harinya. Kami terpaksa harus mengejar kapal melalui jalur darat.

Perut saya bagai dikocok-kocok saat sedang duduk di jok belakang minibus yang sedang ngebut mengejar kapal. Kontur jalanan yang kami lewati di Lombok berkelok-kelok turun naik, si bapak yang nyetir juga nggak alus nyetirnya makanya saya mual duluan. Saat di jalan melewati perbukitan tidak jarang kami menjumpai puluhan ekor monyet yang sedang keliaran di pinggir jalan atau  bersantai di atas pembatas jalan sambil duduk-duduk. Rasanya saya pengen nyulik 1 ekor monyet dan masukin ke ransel saya buat dibawa pulang sebagai souvenir hidup haha.

Saya tidak berharap naik kapal phinisi atau yacht (buseet!), saya udah ada bayangan kalo kapal yang akan menjadi tempat tinggal saya selama 4 hari ke depan adalah sebuah kapal kayu sederhana yang bisa menampung 20-30an orang.  Saya nggak peduli mau naik kapal pesiar, kapal pinisi atau kapal layar, karena tujuan saya saat itu cuma pengen keluar dari rutinitas harian karena udah bosan nungguin visa yang nggak keluar-keluar. Tujuan saya cuma satu, saya cuma mau melihat komodo yang sebelumnya cuma saya lihat dalam program National Geographic Wild di tv.

Tidak banyak aktifitas yang dapat saya lakukan di kapal selain tidur, tidur dan tidur. Kan kepala saya pusing, perut mual setiap hari di kapal makanya saya kebanyakan tidur. Kalo udah bosan tidur saya bakalan duduk-duduk di depan kapal sambil memandang laut biru yang membentang dengan luas dan pulau-pulau yang bentuknya unik.

Ruang kemudi
Ruang kemudi

Kalo udah bosan liatin laut saya pindah ke ruangan tempat nakhoda kapal bekerja. Kapal yang saya tumpangi dinakhodai oleh kapten Roni yang udah memiliki pengalaman mengemudikan kapal selama bertahun-tahun. Sambil melihat Pak Roni bekerja saya sambil mengajak Pak Roni ngobrol seputar kehidupan di kapal. Tau nggak sih, kalo Pak Roni dalam mengendalikan arah kapal nggak pake GPS, beliau hanya mengandalkan kompas sederhana sebagai penunjuk arah. Tapi jangan salah, saking seringnya berlayar, Pak Roni sudah hapal betul jalur yang harus dilalui, jadi kita nggak bakalan nyasar walo berlayar di malam hari di tengah kegelapan tanpa cahaya penerangan atau lampu senter. Thanks, Pak Roni.

Salah pengamatan sedikit, kalo nakhodanya belum berpengalaman bisa-bisa nabrak karang dangkal yang ada di dalam laut atau tersesat entah ke mana. Konsumsi bahan bakar yang diperlukan untuk berlayar dari Bangsal – Labuan Bajo – Bangsal kurang lebih menghabiskan 850 liter solar.

Highlight LOB 4D3N

Pulau Moyo

Pulau Moyo
Pulau Moyo

Pulau Setonda

Pulau Setonda
Pulau Setonda
Danau air asin di Pulau Setonda mirip kayak Lake Gunn di New Zealand
Danau air asin di Pulau Setonda mirip kayak Lake Gunn di New Zealand

Pulau Setonda terkenal dengan danau dengan kadar air asin yang tinggi. Danau di pulau setonda ini mirip-mirip kayak Lake Gunn di Fiordland National Park. Kalo diliat dari pinggir danau ini kayaknya dalam banget. Saat saya duduk-duduk sambil maen ciprat-ciprut dan nangkepin ikan-ikan kecil, bule-bule ini dengan biadabnya langsung loncat ke tengah danau yang dalam dan berenang kayak ikan julung-julung, haha. Sungguh saya sirik dengan mereka yang udah kayak mahluk setengah ikan, mereka jago banget berenang!!

Pulau Kalong

Kapal tetangga di sekitaran pulau kalong
Kapal tetangga di sekitaran pulau kalong

Saat kami ke pulau kalong kami nggak menemukan hal yang spesial karena kami nggak menjumpai ribuan kalong atau kampret yang katanya menghuni pulau ini. Mungkin karena kebanyakan pengunjung makanya para kalong ini memutuskan untuk bermigrasi ke pulau lain yang jauh dari hiruk pikuk manusia. Kami ke Pulau Kalong untuk numpang tidur, saat bermalam di sini saya malah ngerasa aneh. Biasanya kalo malam saya tidur sambil diguncang ombak yang dahsyat sampe terayun turun naik turun naik kanan kiri atas bawah saat sedang tidur sambil mendengarkan deru ombak dan mesin kapal yang bersatu membentuk aransemen lagu tidur, tapi saat di pulau kalong ombaknya tenaaaang banget, kayak tidur di darat aja getoh.

Manta Point
Di sinilah kita dapat melihat manta yang berenang dengan jelas dari atas kapal. Para penghuni kapal yang jago berenang langsung loncat ke laut dan ngejar si manta. Saya dengan hebohnya kasih petunjuk arah dari atas kapal ke teman-teman yang lagi ngejar manta. Mbak Yuli berhasil berenang dan merekam si manta dari dalam laut, kereeeen!

Gili Laba

Gili Laba
Gili Laba

Untuk mencapai ke Gili Laba dan mengambil gambar ini membutuhkan perjuangan yang luar biasa. Saya suka trekking menaiki bukit, tapi saya benci turunnya. Saat naik saya hanya pake sendal jepit yang biasa saya pake di kantor yang alasnya udah licin, waktu menuruni bukit saya menjadi orang paling terakhir dan nyaris ditinggal kapal di bawah sana. Si Kim, bule Amrik yang juga sama-sama pake sendal jepit jalannya cepet banget, saya lagi-lagi sirik dengan stamina dia haha.

Pink Beach

Pink Beach
Pink Beach

Katanya di Indonesia itu ada 2 pulau yang pasirnya berwarna pink yaitu di Lombok dan di Taman Nasional Komodo, CMIIW. Saat menginjakan kaki di atas pasir saya langsung meraup pasir dengan tangan saya untuk membuktikan warnanya yang katanya merah muda, dan ternyata memang benar pasir di pink beach ini warnanya pink, pink se-pink warna pipiku *eaaaa

Pulau Komodo

Komodo
Komodo

Keesokan harinya setelah bermalam di Pulau Kalong kami berlabuh di Pulau Komodo. Akhirnya setelah sekian lama akhirnya kesampean juga cita-cita saya menginjakan kaki ke Pulau Komodo. Di Pulau Komodo terdapat 2.000an ekor komodo yang hidup dengan damai. Kami, rombongan dari kapal Wanua Adventure dikawal oleh beberapa orang ranger atau polisi hutan atau guide selama berada di dalam hutan. Sebelum memulai perjalanan menjelajah pulau komodo ini kami diberikan beberapa pilihan ingin mengambil trek dengan rute yang pendek, menengah atau jauh. Kami memutuskan untuk mengambil trek menengah berharap dapat menjumpai komodo tanpa harus banyak jalan.

Saat sedang berjalan saya ngobrol dengan Mas (lupa namanya hehe) yang merupakan salah satu ranger yang bertugas mendampingi kami saat itu. Petugas yang bekerja di Pulau Komodo merupakan penduduk local Labuan Bajo yang memiliki waktu kerja selama 10 hari dan off 10 hari. Waktu itu saya lagi kepo, saya banyak nanya seputar komodo tapi karena saya nggak mencatat pertanyaan dan jawabannya maka saya kebanyakan lupa haha. Saat berjalan menyusuri bukit akhirnya kami menjumpai 1 ekor komodo yang sedang berjemur, hepi dong saya bisa ngeliat komodo untuk pertama kalinya. Kalo diliat-liat mukanya si komodo ini kok kayaknya jelek banget, nggak ada cakep-cakepnya haha. Mungkin komodo yang saya temui pertama kali ini komodo yang usianya sudah tua kali.

Waktu menuruni bukit saya kembali ngobrol dengan ranger yang lain yaitu Mas Arief namanya, kali ini inget namanya haha! Saya pinjem tongkat bercagak miliknya untuk membantu saya menuruni bukit, kalo begini saya berasa jompo banget, masak berani naik takut turun, duh. Di Pulau Komodo ini selain hidup 2000an ekor komodo, juga terdapat warga yang menghuni pulau komodo ini. Mereka harus berdampingan hidup dengan binatang purba ini. Komodo, walaupun udah sering bertatap muka dengan orang yang sama yang menghuni pulau komodo, nggak akan pernah bisa menjadi sahabat manusia. Dahulu kala (kata Mas Arief), pernah ada kejadian salah satu warga Pulau Komodo yang dibantai oleh seekor komodo. Karena warna komodo yang menyerupai batang kayu dan warna tanah, seringkali komodo ini nggak keliatan. Waktu lagi berjalan (atau melompati batang kayu), orang itu gak sengaja nginjek komodo dan langsung di kejar dan dilempar-lempar ke pohon. Saya ngeri ngebayanginnya, duhh sedih nggak sih. Setelah menyelesaikan trek pendek kami tibalah di dapur bersama, di dapur ini ternyata lebih banyak komodonya. Komodo ini lebih suka berkumpul di dekat dapur karena mencium aroma makanan (atau daging?). Tau gitu saya nggak perlu masuk ke dalam hutan supaya bisa melihat komodo dari dekat haha.

Komodo Dragon
Komodo Dragon

Pulau Rinca

Komodo di Pulau Rinca
Komodo di Pulau Rinca
Di dapur di pulau rinca
Di dapur di pulau rinca

Setelah melakukan perjalanan ke Pulau Komodo, kapal kami kemudian berlabuh di Loh Buaya, Pulau Rinca, untuk kembali melakukan trekking agar dapat menjumpai Komodo lagi. Pas baru sampe di Pulau Rinca, perut saya mendadak mules gara-gara paginya sarapan pake sambelnya Mbak Yuli. Saya langsung pamit sama Mbak Eltje kalo-kalo ada yang nyari saya lagi berjuang di toilet di Pulau Rinca. Saya udah pasrah ditinggal rombongan, yang penting tugas negara terselesaikan haha. Kelar urusan negara, saya langsung kembali bergabung dengan rombongan yang untungnya masih berada dekat dari toilet. How lucky I am! Di dekat toilet ternyata udah ada komodo berukuran jumbo yang lagi dikelilingin manusia-manusia yang penasaran akan komodo. Komodo yang kami temui di pulau Rinca ini guedhe-guedhe dan lebih banyak! Kami diajak menyusuri jalur di dalam hutan dan berkunjung ke sarang komodo di dalam tanah.

How to get there

Gunung Rinjani
Gunung Rinjani

Memang tiket pesawat direct ke Labuan Bajo sekali jalan itu harganya mahal, namun kamu bisa mencoba alternatif lain dengan terbang ke Denpasar atau ke Lombok. Kalau terbang ke Lombok, tidak ada penerbangan langsung ke Labuan Bajo harus transit terlebih dahulu di Denpasar. Kemudian dari Lombok kamu bisa naik kapal dari Bangsal ke Labuan Bajo selama 4 hari 3 malam (tergantung tur yang punya kapalnya), atau bahasa kerennya LOB Live on Boat. Kalo kamu suka petualangan kamu harus mencoba LOB.

Kalo kamu berangkat dari Denpasar kamu bisa melanjutkan dengan mencari penerbangan ke Labuan Bajo, dari Labuan Bajo kamu bisa ikut trip yang banyak disediakan oleh penginapan bekerja sama dengan perusahaan travel untuk berlayar ke pulau-pulau sekitaran Taman Nasional Komodo.

Masih terlalu mahal juga buat kamu!? Kamu bisa mencoba alternative yang satu ini, tapi kamu harus menyediakan banyak waktu dan tenaga yang fit yaitu melalui jalur darat dan laut dengan cara naik bus malam dan kapal feri. Berangkat dari terminal bus Jakarta ke Malang, kemudian dari Malang naik bus malam ke Bima, dari Bima naik elf ke Sape, dari Sape naik kapal feri selama 7 jam ke Labuan Bajo. Jangan tanya berapa lama sampenya, pasti lama banget dan kamu udah keabisan energi di jalan, heyyy petualang nggak boleh ngeluh haha.

How Much Does it Cost
LOB Wanua Adventure 4D3N
IDR 1.800.000 – IDR 2.500.000

Contact
Wanua Adventure
Bpk. Roni 0823 4072 9666

Happy independence day from Pulau Komodo
Happy independence day from Pulau Komodo
Adek nemu di kapal, Vittoria
Adek nemu di kapal, Vittoria
Advertisements

13 thoughts on “Bertemu Komodo Nggak Harus Mahal”

  1. mbak, mbak, udah pernah posting tips bikin itinerary belum sih? aku kepo blognya nih. Tapi lama-lama capek gara-gara udah mupeng duluan. Mana foto-fotonya gede pulak. Asik banget dah! aku traveler pemula nih. Bagi-bagi tips buat newbie macem aku ini lah mbak kapan-kapan. Ditunggu buanget yaa 😀

  2. haii sist.mau tny testimoni pake jasa pak roni dong.dy oke ya menservicenya? trs dl dimintai depe berapa sist sm beliau?makasih ya sist. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s