When in Rome…

Katanya banyak hantunya

Katanya banyak hantunya

Bukan bukan, saya bukan mau menceritakan film komedi romantis amerika yang dibintangi oleh Kristen Bell yang berperan sebagai Beth dan Josh Duhamel yang berperan sebagai Nicholas Beamon, yang ceritanya bersetting di Roma. Yah walaupun saya dan Beth sama-sama memiliki satu kesamaan yaitu sama-sama single, hahaha!

Seharusnya judul yang cocok untuk postingan kali ini adalah When in Italy karena kejadian yang mau saya ceritakan ini nggak semuanya terjadi di kota Roma saja. Tujuan utama saya ke Eropa adalah untuk mengunjungi Islandia, sisanya saya anggap sebagai bonus. Setelah mengunjungi Islandia, negara terakhir yang saya kunjungi adalah Italia. Saya punya waktu 3 hari di Italia, seharusnya cukup untuk mendatangi beberapa kota yang cantik di Italia. Di Italia itu banyak drama banget, saya udah kecapekan saat di Italia setelah belasan hari lantang-luntung di jalan.

Imajinasi saya tentang Italia seketika buyar ketika saya menginjakkan kaki di Roma. Dulu yang ada di bayangan saya tentang Italia adalah kotanya yang cantik, cowok-cowoknya yang ganteng dan cewek-ceweknya yang seksi sedang seliweran di jalanan kota Italia. Saya ngayalnya itu saya lagi duduk-duduk manis di cafe menikmati secangkir coklat panas dan kue sambil memandang pemandangan yang indah-indah. Tapi kenyataanya jauh banget, haha. Italia memang indah, tapi bukan di kota yang saya singgahi.

When in Rome Italy
I was dipalak
Diusir satpam di terminal bus
I got lost
My flight to Milan was canceled…

Haaa kok bisa?? Begini ceritanya!

Negara tujuan kami berikutnya setelah menjelajah Islandia adalah Italia. Saya membeli tiket pesawat Air Berlin dari Keflavik ke Roma. Rencananya kota pertama yang akan saya kunjungi di Italia itu adalah Napoli. Tapi karena tiket dari Keflavik ke Napoli mahal, maka saya nyari tiketnya yang ke Roma, kemudian ke Napoli dengan menggunakan bus. Saking pelitnya saya, saya malah beli tiket megabus yang berangkat jam 2 pagi, jam 2 pagi lho!! Abisan murah banget tiket pp cuma 50 ribu rupiah, hemat hostel dan hemat ongkos kereta. Saat kami transit di Dusseldorf, yang tadinya kami berencana kepengen keliling Dusseldorf yang ada kami malah tepar, kami gegoleran di bangku bandara selama transit karena kecapekan. Saya yang malemnya abis minum antimo tambah tepar, mata saya lengket banget susah dibuka, saya ngantuk banget, Ika apalagi. Bentar, dia mimisan nggak ya? Oh iya di bandara Dusseldorf sempat mimisan juga, dia kecapekan kasian. Seharusnya setelah sehari sebelumnya kami jalan-jalan keliling Reykjavik, malamnya tidur di pesawat AirBerlin dan di bangku ruang tunggu bandara Dusseldorf, yang paling kami butuhkan sesampainya di Roma adalah istirahat di hostel yang nyaman, bukan maraton di pagi buta ke kota yang berjarak 200an kilometer dari Roma.

Sesampainya di Leonardo da Vinci International Airport kami langsung packing di bangku terminal kedatangan dan membawa barang seperlunya dengan daypack. Ransel berat kami titip di penitipan barang di bandara supaya kami bisa kelayapan selama 3 hari dengan fleksibel, tapi daypack yang saya bawa tetep aja berat. Setelah menitipkan barang bawaan, kami bergegas menuju terminal bus dan membeli tiket seharga 4 (atau 5 Euro?) dan berangkat ke Roma Central. tiba di Termini kami kelaparan, kami lupa belum makan seharian, saat itu waktu menunjukan pukul 5 sore. Daripada pingsan kami memutuskan untuk melipir ke restoran Turki di pinggir jalan. Restoran turki dengan stiker halal di jendela menjadi tempat kami melampiaskan rasa lapar. Kami makan dengan lahap seperti orang yang nggak makan 3 hari. Kami udah bosen makan fish and chips di Reykjavik, sudah saatnya kami makan nasi di kota ini.

Kelar makan kami ngider-ngider di seputaran Termini, liat-liat barang yang dijual di pertokoan dan emperan di pinggir jalan yang sebagian besar penjualnya adalah pendatang. Puas keliling di pinggir jalan, kami capcus ke stasiun termini, bolek-balik di stasiun nggak jelas sambil nungguin malem. Karena udah bosan mondar-mandir nggak jelas di stasiun termini, akhirnya kami memutuskan untuk mencari transportasi ke Tiburtina. Karena masih baru kami pun kebingungan mencari cara ke Tiburtina. Kami kesulitan mencari wi-fi dan pusat informasi pun tak ado alias sudah tutup. Malu bertanya sesat di jalan. Keluar dari Stasiun Termini kami langsung berjalan ke terminal dan bertanya kepada salah satu petugas berseragam (entah sopir bus atau apaan saya nggak tau). Si petugas dengan juteknya menjawab dalam bahasa Italia dan menunjukan arah ke stasiun metro yang terletak di ujung jalan, “Noh noh, di sono noh stasiun metro!”. Jutek jutek jutekkk!!

Kami benar-benar buta arah, tanpa wi-fi atau koneksi internet, tanpa peta, tanpa bisa bahasa Italia, sungguh kombinasi yang sempurna untuk memulai petualangan kami di Italia. Akhirnya kami berjalan menuju stasiun metro dan membeli single ticket melalui mesin pembelian tiket otomatis di stasiun metro. Sebelumnya di Paris kami udah lancar pake mesin tiket otomatis, jadi di Roma kami pun nggak menemukan kesulitan untuk membeli tiket melalui mesin otomatis ini. Tujuan kami malam itu adalah stasiun Tiburtina, karena bus yang akan membawa kami ke Napoli berangkat dari terminal Tiburtina.

Selama duduk di dalam kereta, saya sibuk ngebandingin kereta-kereta yang udah pernah saya tumpangi selama di Eropa. Kereta di Roma ini sama jeleknya dengan di Paris, uupss! Kereta yang paling bagus yang pernah saya tumpangi adalah kereta yang ada di Amsterdam, lebih modern. Baru sebentar naik kereta ini kami udah harus turun di stasiun Tiburtina, dekat banget. Setelah turun dari kereta saya langsung duduk-duduk di kursi di stasiun karena ngerasa capek ngebawa ransel dan tas kamera. Belum ada 1 menit duduk saya disamperin bapak-bapak tua dengan penampilan yang lusuh yang teriak-teriak meminta uang langsung di depan muka saya. Dia berbicara dalam bahasa Italia dan sekilas saya dengar juga dia berbicara “One Euro! One Euro!!!” di depan muka saya. Karena takut saya pun langsung merogoh koin di saku saya dan memberikan 1 buah koin kepada bapak tua itu supaya si bapak cepat pergi meninggalkan saya.

Saya langsung diem dong, hah gue abis dipalak? Saya lihat sekeliling stasiun suasananya sepi dan agak gelap, saya pun langsung berlari ke arah Ika dan buru-buru ngajak Ika keluar dari stasiun. Saya takuuuuut!! Setelah keluar dari stasiun, Ika dengan matanya yang jeli berhasil menemukan tulisan dan arah menuju terminal Tiburtina. Saya ngikut dia aja, kalo urusan arah Ika jagonya.

Setelah berjalan keluar dari stasiun Tiburtina, saya melihat banyak gerombolan anak muda tanggung yang sedang berkumpul sambil duduk-duduk. Saya mengajak Ika untuk buru-buru jalan dan menjauhi mereka. Ketika akan menyebrang jalan lagi-lagi saya melihat keramaian, kali ini banyak orang yang sebagian besar adalah laki-laki sedang berkumpul di pinggil jalan raya sambil makan nasi bungkus rame-rame. Mungkinkah mereka ini homeless? Pengungsi? Banyak banget!!

Saya memegang lengan Ika dan berusaha untuk menjauhi segala macam keramaian seperti ini, saya masih parno gara-gara abis disamperin bapak tua tadi. Dari situ naluri saya langsung bersikap waspada selama berada di Italia. Saat itu pukul 9 atau 10 malam, seharusnya sih masih sore. Setelah berjalan dari stasiun Tiburtina selama beberapa ratus meter akhirnya kami menemukan terminal bus Tiburtina, kami langsung masuk ke dalam terminal dan duduk-duduk walaupun bus kami baru akan datang pukul 2 pagi.

Ika tidur di luar terminal

Ika tidur di luar terminal

Kami keluar masuk terminal nyari tempat pw (paling wenak) buat sekedar duduk-duduk atau selonjoran. Suasana terminal di sini sama seperti terminal di Jakarta. Saya mengamati orang-orang yang datang dan naik bus, satu persatu bus datang dan pergi hingga tersisalah sedikit orang di terminal. Waktu hampir menunjukan jam setengah 12 malam, suasana semakin sepi dan dingin, saya yang udah ngantuk dan capek memilih untuk memejamkan mata sejenak di bangku sambil duduk. Baru pules tidur sebentar tiba-tiba kami didatangi bapak-bapak berseragam yang berbicara dalam bahasa Italia dengan nada yang keras yang tidak kami mengerti artinya. Saya mengambil kesimpulan kalau si bapak ini berusaha untuk memberi tahu kami kalo terminal tutup jam 12 malam, terminal harus segera ditutup dan kami calon penumpang yang belum beruntung diangkut bus harus menunggu di luar pager terminal. Aaaaak, padahal saya baru merem sebentar!!!

Saya manut aja sama pak tua dan menunggu di luar terminal. Selain kami berdua, terdapat beberapa orang pemain telenovela  latino yang juga sedang menunggu megabus di luar terminal. Jadilah kami duduk-duduk nggak jelas di trotoar di pinggir jalan di luar terminal sambil menahan kantuk dan menunggu jam 2 pagi. Roma di tengah malam itu dingiiiiiiin!!

Saya dan Ika duduk-duduk di trotoar sambil nahan ngantuk. Disamping kanan saya ada pasangan latino yang ganteng dan cantik. Di sebelah kiri kami ada mas-mas Argentina, kemudian di sebelahnya lagi sepertinya juga orang latino lagi cekikikan bercanda sepanjang malam sama teman-temannya. Si mbak telenovela yang di samping kanan saya ini kan duduk-duduk di atas kopernya yang lagi didiriin sambil ngobrol sama pacarnya. Pas saya lagi tidur-tidur ayam sambil duduk tiba-tiba terdengar suara kejedug kenceng. Si mbak telenovela jatoh kejengkang sama kopernya ke arah belakang pas lagi duduk di kopernya, haha. Mungkin dia juga udah ngantuk banget kali.

Pemain telenovela yang lain, cowok asal Argentina yang juga lagi nunggu megabus bareng kami

Pemain telenovela yang lain, cowok asal Argentina yang juga lagi nunggu megabus bareng kami

Kami kan lama ngemper di trotoar. Si Ika bilang kalo pasangan telenovela ini sempat bertengkar kayak di singnetron telenovela pake bahasa spanyol dan berjalan meninggalkan kami, tapi kemudian mereka kembali lagi. Eh gak lama kemudian berpelukan dan ciuman dong. Alamakk dingin-dingin di tengah malam begini kami disuguhi pemandangan seperti ini. Jam 2 pagi bus kami datang dan kami satu-persatu yang udah menunggu selama berjam-jam di terminal akhirnya masuk ke dalam bus dan bobo.

Hoy hoy bus kami akhirnya dateng!!!

Hoy hoy bus kami akhirnya dateng!!!

Saya meluangkan waktu di Napoli seharian, malam harinya rencananya kami akan terbang dari Napoli ke Milan. Ketika sampai di counter check in Napoli Airport betapa kagetnya saya saat melihat pengumuman di layar informasi kalau pesawat kami ke Milan dicancel! Beginilah kalo nggak bisa konek ke internet selama beberapa hari di jalan, gak bisa cek email dan liat perubahan jadwal tiket. Persis kayak tiket airberlin saya yang juga berubah jadwalnya. Saya kekeuh masup ke antrian counter check in dan belaga bego seakan flight saya nggak dicancel.

Mbak petugas check in memberi tahu kalo flight kami dicancel dan kami harus menghubungi kantor Easyjet melalui telepon atau menghubungi bagian layanan customer di counter sebelah. Kami nyasar pas masup ke bagian CS, kami nanya ke mbak-mbak di ruangan sebelah CS dan dia menjawab dengan ketus! “Ruangan yang kamu cari itu di sebelah, bukan di sini!” Biasa aja keleus mbak!! Saya yang sedang kesal karena penerbangan kami dicancel jadi ngedumel nggak karuan.

Saya pun menghampiri counter check in tanpa mengeluarkan senyuman dan keramahan seperti orang Jawa pada umumnya. Saya akan berusaha seperti orang Italia yang berbicara dengan nada keras dan ketus, hahaha! Gue lagi kesel menn, jangan ditambahin lagi! Petugas CS memberikan kami selembar brosur dan kami disarankan untuk menghubungi kantor easyjet melalui nomor telepon yang tertera di brosur.

Sejujurnya saya kecewa, batal sudah rencana kami ke Milan. Udah paling bener naik megabus dari Napoli ke Milan, tapi kenapa saya malah beli tiket pesawat Easyjet. Karena nggak mau rugi, kami pun memutuskan untuk kembali naik bus dari Napoli Airport ke terminal bus yang terletak di belakang stasiun Napoli Central. Saya masih memegang tiket megabus ke Roma dan memutuskan untuk kembali ke Roma. Padahal kalo mau ke Milan kami bisa naik kereta dari Napoli, tapi saya nggak melakukannya. Lagian lusa juga udah mau pulang ke Jakarta, ngapain juga ke Milan. Kalo maksa berangkat ke Milan juga nanti nggak puas main di sana.

Perjalanan dari Napoli ke Roma ditempuh dalam waktu 3 jam. Kami tiba di terminal Tiburtina jam 12 malam, dari situ kami berjalan kaki ke sepan stasiun Tiburtina untuk menunggu bus yang akan membawa kami ke Termini. Kami kan buta arah, kami bertanya kepada sopir bus, “Bus ke Termini nomor berapa?” Lagi-lagi sopir busnya ngejawab dengan nada jutek.

Kami baru dapet bus jam setengah satu malam. Kami masuk ke dalam bus dan bertanya kepada sopir bus dalam bahasa inggris apakah bus ini lewat Termini dan dia menjawab “Si!” Ika nanya lagi, dan dia menjawab “Si!! Si!! Si!!” sampe kesel. Kami kan nggak tau kalo Si itu artinya iya dalam bahasa Italia hahaha. Setelah sampai di termini, abang sopir yang kami kira jutek itu menengok ke arah kami dan memberi tahu kalo kami sudah sampai di Termini. Ternyata abang sopirnya baek yaaaahhh.

Kami keluyuran tengah malam mencari hotel di sekitaran Termini. Satu persatu hotel kami datangi dan semua kamar di hotel terisi penuh. Kami berusaha mencari hotel dengan harga yang bersahabat. Niatnya sih nyari hostel tapi nggak ketemu, padahal di sekitaran Termini banyak hostel. Kami udah capek luar biasa 3 hari di jalan, satu-satunya yang kami butuhkan malam itu hanyalah tidur. Kaki saya pegel, badan saya remuk, perut saya lapar, ransel saya berat, dan saya pengen nangis aslinya hahaha. Saya menyerah, saya mengusulkan kepada Ika buat tidur di stasiun termini atau di emperan, tapi Ika nggak mau. Ya iyalah hahaha! Akhirnya setelah berjalan kaki selama 1 jam lebih kami menemukan tempat untuk bermalam. Jam setengah 2 kami baru berhasil mendapatkan hotel dan bisa beristirahat dengan tenang nyenyak.

Pemandangan dari balkon hotel

Pemandangan dari balkon hotel

Terbukti kalau saya belum cocok jalan-jalan go show, apalagi nyari penginapan go show tanpa modal internet dan peta. Kemudian keesokan harinya saya tersesat dong di Roma. Oh iya saya baru inget kalo kami nggak mandi selama 2 atau 3 hari haha!

Seharusnya perjalanan saya di Roma ini berakhir seperti ceritanya Beth yang menemukan pujaan hati di Roma, tapi apa dikata, kenyataan tidaklah seindah cerita di film.

in Rome

nunggu kereta kamu  di Roma

-The End-

*Apakah kalian bosan membaca cerita saya? Matanya kunang-kunang dan pegel? 😀

23 thoughts on “When in Rome…

  1. Wow ikutan ngerasain capeknya, dari KEF ke DUS ke FCO terus lanjut bis jam 2 pagi ke Napoli. Ditambah pesawat yang cancelled. Tiket bis yang murah emang tempting banget sih buat di beli, saya juga pernah maksain gini. Tapi jadinya capek banget dan bertekad lain kali kalo abis jauh-jauh gitu harus tidur di kasur beneran 1 malem, nggak boleh dipaksain pindah terus-terusan. Yang berlalu biarlah jadi pengalaman tapi ya hehe.

    Btw kompensasi dari easyJet karena pesawat yang cancelled itu apa ya?

    • Capek banget, 1 malam di pesawat, 1 malam di terminal, 1 malam keluyuran nyari hotel di tengah malam.

      Kompensasi dari easyjet dapet full refund atau milih terbang di hari yang beda dng rute yang sama, aku pilih full refund tapi pas dikonversi ke rupiah nilainya jatoh, rugi 120 rebu hahha. Tiketku rute sebaliknya angus dong, dan dapet pengembalian dikiiiiit banget, rugi banyak bandar hahaha

  2. Setuju banget, transportasi di Amsterdam rasanya yg paling juara dibanding negara tetangganya. Itu badan pasti remuk redam rasanya, saya yang udh dpt penginapan dgn pasti aja tetep cape bgt kelar nyasar di Paris tanpa akses internet 😀

  3. *Apakah kalian bosan membaca cerita saya? Matanya kunang-kunang dan pegel? 😀

    NGGAAAKKKKK SAMA SEKALI NGGAAAAk
    Apalagi pas baca mbak telenovela kejengkang, asli itu kocak banget *oopps

    Ditunggu cerita selanjutnya Bijoooo

    • Untunglah, kirain pada mabok abis baca ini, 2000 kata soalnya 😀

      Kasian tau, dia ngantuk nungguin bis sampe jatoh haha

      Besok ato ntar malem lanjut posting lg, udah gatel pengen nulis

  4. Ah… di palak 1 €? itu mending, aku lho dipalak sampai 20€ sama sopir taksi, orang dua kalah debat sama satu orang Italia, mereka jago ngomong dan temperamental, kebanyakan. Italia memang salah satu negara yang tidak aku percaya di Eropa, dan ternyata aku membuktikan sendiri

    • Iya sih untung cuma minta 1 euro, padahal kan kita sama2 homeless, gak tau aja si bapaknya. Kalo dia minta 20 euro mendingan aku lari hahaha. Aku ngerasa gak aman selama di Italia.

  5. salam kenal mbak, saya lagi cari info soal new zealand jadi baca-baca seluruh blog hehehe. btw saya punya pengalaman ga enak di italy karena di copet di kereta, satu tas malahan beserta dompet, kamera dan hp.. sekarang masih agak trauma, padahal masih pengen ke italy.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s