Traveling

24 Jam di Melbourne

CIMG9437
Sungai Yarra

Yay Australia again! Ini adalah kali kedua saya menginjakkan kaki di negeri kangguru. Kali ini saya berkesempatan untuk mengunjungi Melbourne. Dengan berbekal tiket Air Asia seharga 1,5 juta dari Jakarta dan visa transit Australia, saya bisa bebas menyasarkan diri di Australia dalam waktu maksimal 72 jam atau 3 hari. Kenapa saya apply visa transit, bukan visa turis? Karena saya nggak lama di Australia, kan cuma transit doang. Nenek-nenek juga tau hahaha

Pukul 00.10 pesawat Air Asia yang saya tumpangi dari Kuala Lumpur tiba di Tullamarine International Airport Melbourne. Setelah menempuh perjalanan selama 7 jam 50 menit akhirnya saya tiba di benua Australia. Setelah keluar dari pesawat saya langsung mencari koneksi wi-fi dan membaca pesan di whatsapp dari CJ (travel partner) yang sudah lebih dulu tiba seminggu sebelumnya di Australia. Setelah sukses melewati pemeriksaan imigrasi saya pun meluntjur keluar terminal kedatangan dan celingak-celinguk ke sana ke mari mencari sesosok orang yang pernah saya temui beberapa tahun yang lalu. Beberapa saat kemudian datanglah seseorang berambut pirang yang berjalan ke arah saya dan menyambut kedatangan saya di malam yang dingin itu.

20141211_002133
Welcome to Melbourne

Baru kali ini ada yang ngejemput saya pas lagi traveling ke luar negeri. Saya mah apa atuh, tumben-tumbenan ada yang ngejemput saya di bandara selain kakak saya, aneh haha. Sebetulnya sebisa mungkin saya gak mau nyusahin orang pada saat traveling, tapi karena ybs memaksa yaudin terpaksa saya mau. Duh jadi enak, sering-sering aja hahaha.

Ada drama waktu lagi di taksi dalam perjalanan dari bandara ke hotel. Jadi kami menumpang taksi yang disopiri oleh orang India. Kami diajak muter-muter nggak jelas di Melbourne, Mr. G yang asli orang Melbourne pun akhirnya marah dan menegur pak sopir untuk melewati jalan yang benar. Seharusnya jarak dari bandara ke hotel nggak sejauh ini dan argonya nggak semahal ini. Setelah terjadi perdebatan yang sengit antara Mr G dengan pak sopir, akhirnya pak sopir bersedia untuk menghentikan argonya di angka yang disepakati yang lumayan mihil hihi. Saya nggak ikutan dudududu.

Saya dianterin ke depan hotel tempat CJ menginap sekitar jam 1 pagi. CJ berbaik hati mempersilakan saya untuk nebeng di kamarnya dengan gratis. Uhuyyy saya suka yang gratis-gratis. Udah dianterin ke hotel gratisan, dapet penginapan gratis pulak, kurang apa coba. Rejeki anak sholeh 😀

Setelah puas beristirahat semaleman, jam 10 keesokan harinya kami ber-2 janjian dengan Mr. G untuk kelayapan di Melbourne. Agenda kami pagi itu adalah ke salah satu gedung tempat temannya CJ bekerja untuk mengembalikan kartu (entah kartu apa) milik temannya. Untuk berkeliling di Melbourne kami cuma mengandalkan kaki dan betis kami saja, karena di sana nggak ada ojeg dan becak.

Saya lupa-lupa inget kami seharian waktu di Melbourne itu ke mana aja. Maklum udah hampir setaun perjalanannya, basi yaaa. Yang paling saya inget sih ke botanical garden, tapi karena si Mr. G lupa ke mana arahnya, alhasil selama seharian kami muter-muter nggak jelas di Melbourne. Ada gitu orang local yang nggak tau jalan haha.

Dalam perjalanan menuju botanical garden kami melewati banyak tempat yang menarik. Natal masih 2 minggu lagi tapi pernak-pernik natal sudah menghiasi pertokoan dan gedung-gedung di seantero Melbourne. Langkah kaki kami seketika terhenti saat melewati pertokoan yang memajang hiasan natal yang indah.

CIMG9315

CIMG9308

Kami melewati Flinders station, dan duduk-duduk di tengah hari bolong sambil numpang wi-fi gratisan. Setelah dari Flinders kami melipir ke the Australian Centre for the Moving Image (ACMI). Kami masuk ke ACMI dan menonton beberapa film tanpa suara, kan namanya juga moving image. Kami cuma bisa menonton dengan seksama sambil menebak-nebak apa maksud dari film-film ini. Saya emang nggak ngerti seni, makanya nggak nyambung kalo liat beginian hahaha.

CIMG9339
ACMI
CIMG9346
Nggak ngerti filmnya

Jalan sama bule itu capek, udah langkahnya panjang, jalannya cepet nggak pake berhenti lagi. Betis saya sampe bekonde diajak jalan kaki seharian. Setelah sukses diajak nyasar ke botanical garden, kami ngadem sebentaran di pinggir sungai Yarra.

Sungai yang membentang sepanjang 240 kilometer ini merupakan iconnya kota Melbourne. Di pinggir sungai ini terdapat taman dan bangku yang cocok untuk dijadikan lokasi pacaran *eaaaa

CIMG9414
botanical garden
CIMG9364
Botanical garden
CIMG9429
Sungai Yarra

Saya memaksa untuk berhenti jalan sejenak saat kami melewati sungai Yarra. Kami bertiga duduk-duduk di samping sungai Yarra sambil menikmati semilir angin Melbourne. Kami nggak lama nongkrong di pinggir sungai Yarra. Sore harinya kami janjian ketemuan sama temannya CJ di city. Akhirnya kami berjalan lagi ke pusat kota dan menunggu di meeting point.

Setelah temannya CJ bergabung kami ber-4 mencari makan malam di restoran Thailand. Kelar dari restoran Thailand kami melanjutkan nongkrong di Brunetti. Saya memesan secangkir coklat panas dan kue ini (lupa namanya). Saya ngebayangin coklat panas yang rasanya seperti di kedai coklat di Katoomba, New South Wales yang saya coba setahun sebelumnya, rasanya itu enak pake banget. Coklat panas yang ini menurut saya rasanya.. enak juga sih.

20141211_193045
Banyak pilihan dan keliatannya enak semua *ngiler
20141211_194318
Cemilan sore

Tak terasa sore berganti malam, kami harus bergegas kembali ke hotel untuk mengambil ransel yang ditaro di loker hotel dan segera meluncur ke bandara. Tapi sebelumnya kami harus ke apartemen Mr. G dan ke rumahnya temannya CJ untuk mengambil mobil.  Kami ber-4 meluntjur ke bandara dan setelah tiba di bandara kami pun harus segera mengucapkan salam perpisahan dan bersiap untuk memulai petualangan kami selanjutnya di negeri kiwi, destinasi impian kami.

Kemudian musibah pun datang menghampiri saya pada saat check in. Ucluk-ucluk dengan semangat 45 saya datang ke counter check in jetstar dan kemudian si mbak petugas check in tidak memperkenankan saya untuk check in karena… karena saya salah beli tiket Jetstar ke Christchurch!!! *nangis kejer

Advertisements

32 thoughts on “24 Jam di Melbourne”

  1. di sana nggak sepeda-able gitu mbak? kok ya mesti jalan kaki itu lho, kan kasian. Aku baca yang bagian kalimat kaki lecet blablabla aja sampe meringis. Harus jalan kaki banget ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s