Iseng Doang

Gak Perlu Menjadi Kaya Untuk Bisa Traveling

20151031_200704[1]
difoto di toko buku
Hari ini setahun yang lalu, saya sedang berada di pesawat Air New Zealand dalam perjalanan dari Christchurch ke Sydney. Kemudian transit di Sydney selama 9 jam, dilanjutkan dengan terbang melintasi benua Australia menuju  Denpasar. Selama transit di Sydney dan berada di pesawat saya mendadak sakit maag sehingga saya nggak benar-benar menikmati penerbangan. Saat itu malam natal, awak kabin bekerja dengan menggunakan topi santa yang membuat perjalanan menjadi unik. Akhirnya saya ngerasain hari-hari menjelang natal di luar negeri, tapi tanpa salju. Perjalanan ke Selandia Baru menjadi perjalanan yang paling berkesan buat saya dalam sejarah perjalan-jalan-an.

CIMG0450
Pegunungan di New Zealand

Ceritanya tahun depan saya pengen ke benua tetangga dan pengen lebih banyak menjelajah alam. Karena kalo ke luar negeri cuma nyetir aja sepanjang hari itu rugi. Road trip memang menyenangkan, tapi mblasuk ke hutan menginjakan kaki ke tanah yang lembab dan menghirup udara di hutan hujan yang dipenuhi lumut jauh lebih menyenangkan. Cuaca yang dingin dan hujan yang bakalan sering-sering turun nggak boleh jadi penghalang untuk melakukan aktifitas outdoor. Jadi nanti saya akan melakukan perjalanan dengan transportasi umum dan road trip.

Kemarin saya baca berita tentang pemberlakuan bebas visa nih, ijinkan saya untuk mengeluarkan uneg-uneg saya menyikapi ketidaksetujuan saya dengan pemikiran yang mensyukuri WNI tidak memperoleh fasilitas bebas visa. Rejeki nggak ke mana kok, Indonesia tetap menjadi magnet bagi wisatawan lokal dan mancanegara, jadi nggak perlu takut bakalan kehilangan devisa negara karena wni berbondong-bondong pelesir ke luar negeri. Saya masih jalan-jalan di Indonesia kok, paling tidak masih ada 1 orang Indonesia yang masih setia. Saya posting ini kayak ngerti aja ya, padahal nggak ngerti juga apa yang mau diomongin hehe.

Hmm cerita nggak yah, baiklah saya akan mengambil sudut pandang dari seorang tukang jalan, bukan sebagai seorang anggota dpr, ya iyalah saya mah apa atuh. Tau gak sih kalo biaya apply visa itu mahal buat saya. Iya mahal, kalo negara yang mau didatengin termasuk negara mahal yang terletak di benua nan jauh di sana, dan kurs yang digunakan jauh lebih mahal dari rupiah. Lain lagi kalau kita digaji pake dolar amerika, atau perjalanannya dibiayai oleh negara yang bisa pergi dengan menggunakan paspor dinas sehingga gak perlu apply visa turis dan bisa beli tiket pesawat yang bukan kelas ekonomi terendah. Atau perjalanannya di sponsori oleh kementerian pariwisatanya negara yang akan didatangi. Sebagai seorang yang selalu liburan modal sendiri saya menjadi sangat cerewet apabila berbicara mengenai visa dan ongkos.

20151222_121916[1]
$_$
Mari kita ambil contoh, biaya visa turis Selandia Baru di tahun 2014 adalah sebesar 2 juta, biaya tiket termurah 10 juta, jadi alokasi tiket dan visa sebesar 12 juta rupiah. 2 juta itu adalah 1/5nya dari biaya tiket. Belum lagi biaya yang harus dikeluarkan di negara tujuan yang mencakup biaya transportasi dalam kota untuk berpindah tempat, akomodasi, makan dan biaya tak terduga lainnya. Ditotal berapa? Itung sendiri!

Untuk apply visa Schengen di kedutaan Denmark saya membayar sebesar Rp 1.160.000, sedangkan tiket pesawat pp termurah yang saya beli ke Eropa Barat adalah 7 juta rupiah, jadi biaya visa 1/6 dari biaya tiket pesawat. Belum lagi biaya transportasi dalam kota, antar negara, akomodasi dan biaya lainnya. Jadi ditotal berapa? Itung sendiri! Beda ceritanya kalo dapet akomodasi gratis di Eropa, tentu biayanya bisa menjadi lebih murah.

Yang paling bikin pusing saat mengumpulkan berkas aplikasi visa adalah persyaratan harus melampirkan bukti keuangan supaya bisa survive di negara yang akan dikunjungi. Ada yang bilang kalo mau apply visa itu harus ada dana diatas 50 juta di rekening yang sudah mengendap minimal selama 3 bulan dengan catatan pemasukan dan pengeluaran yang jelas. Saya pernah disarankan untuk memasukan jumlah rekening sebanyak-banyaknya waktu apply visa, ya ampun ngumpulin duit buat beli tiket aja udah engap-engapan masih harus dipaksa ngumpulin duit sebanyak 50 juta, ebuset ngepet di mana!? Kalo ada duit segitu mendingan buat dp rumah amat sangat sederhana sekali hahaha.

Bayangkan berapa kerugian yang akan kamu alami kalo kamu sudah membeli tiket pesawat dan kepedean visanya disetujui tapi kenyataan berkata lain. Waktu di Paris saya ketemu dengan traveler Indonesia dari komunitas sebelah dan dia cerita kalo teman-temannya banyak yang visa schengennya nggak disetujui. Katanya sih karena itinerarynya nggak masuk akal dan biayanya berlebihan, malah ada juga yang rekeningnya banyak tapi tetap nggak disetujui. Kemudian mereka apply visa untuk yang ke-2 kalinya, baru deh visanya bisa disetujui, rempong yee. Apply visa dan bikin itinerary memang membutuhkan perjuangan. Kemudian saya nyadar, kok bisa-bisanya selama ini saya selalu membeli tiket pesawat duluan sebelum apply visa hehe.

Sebagai seorang backpacker kere saya harus memutar otak untuk bisa mengunjungi negara-negara yang mahal. Semua menjadi mungkin apabila mimpi saya ditandem dengan usaha dan niat yang kuat. Saya nggak boleh sirik dengan orang lain yang selalu gonta-ganti gadget terbaru, saya nggak boleh sirik dengan orang yang selalu bolak-balik ke luar negeri bayar sendiri, saya nggak boleh sirik dengan mereka yang bisa ke luar negeri gratis disponsorin negara atau suami atau negara tetangga, saya gak boleh sirik sama yang sering kongkow dan selfie di café kece, saya nggak boleh sirik sama emak-emak di divisi tetangga yang hobi belanja, kan prioritas tiap orang itu berbeda-beda, staga astaga astaga haha.

Alhamdulillah selama sering kelayapan saya nggak pernah sakit. Lebih banyak traveling membuat saya menjadi lebih bahagia, terbukti dengan naiknya berat badan saya *info penting

 “Uang dan waktu bisa dicari, tapi kesehatan tetap harus dipertahankan” Kata  Claudia Kaunang

Udah ah nggak mau mikirin visa-visaan! Mendingan bikin itinerary buat perjalanan taun depan. Jadi apa resolusi traveling kamu di tahun 2016 mendatang? *ganti topik 😀

 

 

Advertisements

17 thoughts on “Gak Perlu Menjadi Kaya Untuk Bisa Traveling”

  1. Andaikan bebas visa ke seluruh dunia tentu bagus banget yak, tapi gantinya juga negara kita mesti membebaskan visa buat semua orang dari seluruh dunia juga, dan kayaknya itu bukan keputusan bijak juga sih kalau menurut saya Mbak :hehe. Tapi dengan niat yang kuat, saya yakin Mbak bisa pergi ke mana pun dan jelajah di mana pun, meskipun kelihatannya sangat tidak mungkin. Semesta mendukung niat yang tulus kan :hihi.

    1. Negara kita udah membebaskan visa kepada beberapa negara (gak hapal totalnya berapa), kan lebih enak kalo kita bisa bebas visa ke sana supaya adil, makmur, merata.

      Yah kalo seluruh dunia bebas visa ke semua negara itu juga nggak mungkin banget. Gimana kalo negara tsb lagi dilanda perang dan pengungsi bebas masuk ke mana aja, bisa-bisa negara tsb dipenuhi pengungsi daripada warga lokalnya. Mending pengungsi, kalo teroris yang masuk kan ngeriii hiiiy

  2. Bebas visa bagi negara yang terbukti selama ini jadi penyumbang turis terbanyak untuk Indonesia mungkin bisa diterima akal. Lha, kalo negara itu cuma mendatangkan cuma beberapa orang saja turisnya ke negara kita, ya rugi juga.
    Ya, gak perlu menjadi kaya kalo pengen jalan-jalan. Ke pasar tradisional saja saya jadikan piknik, hahaha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s