Rumah Impian

 

DSC_0309

Rumah idaman di Islandia

 

Ngomongin soal rumah, rasanya kok ya gimana gitu. Masih mending kalo ngomongin jalan-jalan atau tiket promo, itu sih masih realistis, lha kalo rumah. Realistis juga sih tapi sayanya yang nggak pede. Rumah gitu lho! Rumah keong, rumah kura-kura, rumah kelomang, rumah hantu, rumah majikan. Ke mana aja saya selama ini, baru kepikiran soal investasi sekarang, agak telat juga ya. Oh iya, saya bukan bermaksud posting riya, pamer atau sombong yah, cuma pengen cerita doang, seriusss! 🙂

Pada suatu sore di restoran seafood, tiba-tiba kakak saya bilang begini, “Gue tuh ya, walau hidup pas-pasan, gue udah investasi. Gue udah punya rumah walaupun kecil, tanah walaupun cuma sepetak, mobil dan suami. Lo investasinya apa?”

“Aku? Aku mbak? Ehehehe, aku sih investasinya dalam bentuk investasi memori jangka panjang. Cap di halaman paspor aku udah banyak mbak, koleksi stiker visa banyak, koleksi boarding pass juga banyak. Nih mbak liat dah, aku punya koleksi foto selfie di belahan bumi lain” *sodorin hp

Saya jawab begini minta dijitak nggak sih hahaha. Dari situ saya tertohok, ucapan kakak saya ada benernya juga. Masak saya nggak punya tabungan masa depan sih. Selain investasi memori jangka panjang, kayaknya saya juga perlu investasi dalam bentuk lain. Saya sih orangnya mood-mood-an, gampang dipengaruhin dan baper.

Kemarin saya diajak kakak saya pergi liat rumahnya yang lagi dibangun, nah di sekitar rumahnya itu ada rumah yang dijual. Berhubung saya lagi tepar saya menolak ajakannya dan lebih memilih untuk istirahat di rumah. Setelah dia ke TKP  melihat kondisi bangunan dan mengirimkan foto rumah yang mau dijual kok saya ngerasa nggak sreg. Rumahnya berada di lokasi padat, banyak tetangga, dan berarti kudu toleransi dan bersosialisasi dong, gak jadi ah.

Saya naksirnya rumah yang ada di depan rumah kakak saya, yang tetangganya cuma sedikit, yang belakang rumahnya masih ada pohon bambu. Saya mah gitu orangnya, takutnya sama tetangga, bukan sama pohon bambu.

Hari ini dia ngajak saya ke developer lagi buat masupin data supaya rumah yang berlokasi pas di depan rumahnya nggak diambil orang duluan. Terus sayanya yang meringis, antara percaya nggak percaya, ini siapa yang mau nyari rumah, kenapa malah dianya yang semangat. Lha duite ndi mbak!?

Padahal dulu perumahan itu termasuk perumahan subsidi pemerintah yang harganya masih murah, sekarang udah naik berlipat-lipat, jauh banget, parah yak. Saya nyesel kenapa nggak beli dari dulu, lha dulu nggak kepikiran sih. Dulu saya sering ngeledek kakak saya, “Mbak, ngapain beli rumah kecil begitu, masih gedean dapur di rumah ibu daripada rumah ini, hahaha!” *belaguk

Sekarang saya kemakan ucapan saya, karena semakin tingginya harga tanah, semakin tingginya harga rumah, mau nggak mau saya juga kudu nyari rumah yang paling terjangkau yang tipenya paling kecil. Rumah yang terjangkau itu rumah yang lokasinya berada di pinggiran, jaraknya jauh, dan jauuuuh dari kantor saya. Bisa-bisa ditempuh dalam waktu 3 jam kali sekali jalan ke kantor, ebusett. Tetep aja se-terjangkau-terjangkau-nya saya harus ngutang bertahun-tahun. Gpp kan kalo ngutangnya buat rumah, asal jangan ngutang buat beli tiket pesawat aja.

Rumah impian buat saya itu adalah rumah yang didalamnya berisi kehangatan keluarga, canda tawa dan senda gurau antar anggota keluarga, tempat yang saling mendekatkan penghuninya yang tidak dibatasi oleh jarak (sibuk maen hp masing-masing), udah gitu aja. Nggak perlu rumah seharga 2,2 milyar, nggak perlu rumah di kompleks perumahan bagus, nggak perlu rumah tingkat yang gede.

Semalam saya browsing tentang syarat pengurusan bapertarum. Saya masih bingung sama BUM, TBUM dan kawan-kawannya. Ini cuma berlaku buat rumah subsidi pemerintah doang ato gimana ya? Terus saya browsing ke websitenya bank btn juga, TBUM Bapertarum. Ada yang pernah punya pengalaman mengurus bapertarumkah? Cerita dong, saya mau tau gimana-gimananya, apakah ribet prosesnya..

update,, Saya baru aja balik dari kantor marketing dan bawa pulang foto ini 😅

20160124_111808_001.jpg

Calon rumahku 😊

29 thoughts on “Rumah Impian

  1. Wakssss kejam masak rumah nya lebih gede dari dapur ibu hahaha
    Kalo gw sech punya mimpi punya rumah di tepi pantai dengan kolam renang hahaha tapi yg penting sech ada keluarga kecil yg menemani

  2. ihiii asik rumah baru. samaan nih, aku juga sanggupnya belii rumah di daerah pinggiran. masih untung lah bukan di pinggiran jurang 😛
    itu pun ambil kpr yang jangka waktunya panjaaanggg…*pfiuh*

  3. investasi tanah dan rumah tampaknya memang harus dipikirkan mbak, ini penting karena kedua hal ini dari tahun ke tahun harganya naik terus. ini saya juga lagi terlena. salam kenal ya mbak 🙂

  4. Huaaaah.. Selamat ya, Mbaaak! Semoga rumahnya berkah dan nyaman buat dihuni. Ihiiiir 😀

    Kalok kata Mama ku sih, kamu boleh jalan-jalan, asal jangan lupa punya rumah. Nampol banget ngga seeeeh 😛

  5. kl di malang syarat mudah, cm gaji di bawah 3.5jt, kerja min 1tahun. trus surat keterangan kerja, slip gaji, keterangan blm nikah, fc npwp, ktp, kk, syarat umumlah kl mau ambil kpr. dpt rumah subsidi harga 115.5jt kpr 16th mayan. buat invest aja. lt 65 lb 36

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s