Pengalaman Terbang Dengan Etihad

20150923_082538

Pesawat yang akan membawaku ke Paris dari Abu Dhabi

Saya inget banget kapan saya beli tiket pesawat untuk perjalanan saya ke Eropa beberapa bulan yang lalu. Saat itu hari minggu, saya baru aja pulang dari kondangan bersama dengan keluarga jam 10 malam. Seperti biasa, ritual saya setiap malam adalah menyeterika baju kerja dengan tangan kanan, dan tangan kiri saya memegang hape. Entah setan apa yang merasuki saya, tiba-tiba saya membuka website kayak dan menemukan tiket pesawat ke Eropa dengan harga yang lebih rendah daripada biasanya. Selama ini saya selalu memantau pergerakan harga tiket melalui aplikasi di telepon seluler saya. Ketika saya melihat harga tiketnya yang nggak sampai 7 juta, maka saya pun langsung menyelesaikan setrikaan saya dan langsung buka laptop.

Saya langsung lari ke kamar sebelah dan mulai booking tiket pesawat etihad ke Eropa. Saya nggak mengalami kesulitan saat membeli tiket pesawat online tersebut. Saya belajar dari kesalahan saya saat membeli tiket ke Christchurch dulu, sekarang saya menjadi lebih hati-hati saat membeli tiket pesawat online. Saya berkali-kali memastikan telah memasukkan tanggal, bulan dan tahun keberangkatan yang benar. Satu-satunya kesalahan saya adalah saya gak ngecek ada apa di tanggal merah yang saya pilih tersebut, yang ternyata adalah hari raya idul adha.

Dalam hitungan menit saya sukses meng-issued tiket pesawat multi city dengan tujuan keberangkatan PARIS! Iyak, paris! Percaya nggak kalo saya akhirnya kesampean beli tiket pesawat ke Eropa? Saat itu perasaan saya antara deg-degan, panas dingin, excited dan nggak percaya setelah menerima sms dari bank penerbit kartu kredit kalau transaksi yang saya lakukan berhasil. Sebelumnya saya udah nyoba beli tiket emirates dan qatar tapi gagal terus, limitnya gak cukup, emang rejekinya naik etihad ini. Eropa eropa eropa!! Saya girang luar biasa sambil jejingkrakan di kamar sendirian. Gak kerasa tau-tau udah tengah malem aja, sedangkan keesokan subuhnya saya udah harus siap bangun lagi melakukan rutinitas harian.

Setelah menerima sms konfirmasi dari bank penerbit kartu kredit, saya langsung mengecek email tapi saya nggak menerima email konfirmasi otomatis dari airlines. Untungnya saya udah memfoto kode booking, kemudian memastikan data kode booking tersebut di website. Setelah melihat nama saya di tiket elektronik di menu manage my booking saya pun langsung mengirimkan e-tiket tersebut ke email saya. Gpp deh nggak dapet email konfirmasi otomatis, yang penting tiketnya udah kebeli.

Saya membeli tiket pesawat Etihad dengan rute Kuala Lumpur – Paris, Roma – Cengkareng (bukan di Jakarta kan?) seharga 1740 MYR atau setara dengan 6,5 juta rupiah. Tinggal nambah 500 ribu untuk tiket Jakarta-Kuala Lumpur saya udah bisa menginjakan kaki ke Eropa. Eropa getoh, cuma 7 juta doang, gak pake transit 9 jam hihi.

Okay, cerita tiketnya sudah dulu ya, sekarang mari kita lanjutkan dengan pengalaman saya terbang dengan Etihad untuk pertama kali. Saya selalu menanti-nantikan pengalaman ini, terbang ke Eropa dengan maskapai timur tengah. Etihad Airways ini merupakan maskapai Uni Emirate Arab yang berbasis di Abu Dhabi. Kesan pertama saya saat masuk ke dalam pesawat adalah..

Karena yang pertama kali saya lihat adalah awak kabin  dan saya suka liatin seragamnya, maka saya akan menceritakan tentang seragam awak kabin atau pramugari Etihad terlebih dahulu. Seragam yang dirancang oleh Italian Haute Couturier Ettore Bilotta ini memiliki desain yang klasik dan elegan. Tahukah kamu kalau seragam mereka ini dibuat dari 100% bahan wool Italia, seragamnya diproduksi di beberapa lokasi di Italia dan juga diproduksi di Shanghai, Tunisia dan Bucharest.

Saya perhatiin blusnya itu ngepas banget di badan, nggak terlalu sempit dan nggak kegedean, pas aja gitu. Terus lipstik pramugarinya memiliki warna yang senada dengan seragam. Saat menyambut penumpang mereka masih berpakaian lengkap dengan blazernya, namun saat mulai bekerja melayani penumpang mereka udah nggak pake blazernya lagi. Duh ini kenapa jadi cerita seragam yah, haha.CIMG4014

Setelah masup ke dalam pesawat saya langsung duduk di kursi pilihan saya yaitu seat 31 A. Pada saat booking dulu saya sudah menentukan ingin duduk di mana. Pesawat pertama yang akan saya tumpangi boarding pukul 02.55 dari Kuala Lumpur International Airport. Saat itu kami langsung diberikan cemilan berupa roti atau sandwich oleh awak kabin. Feeling saya nggak enak waktu mau naik pesawat ini, dulu waktu booking saya pernah iseng-iseng pilih menu pilihan. Kan saya nggak ngerti kalo seharusnya saya jangan klik apa-apa kalo nggak butuh menu special, karena penasaran saya kliklah menu Asian Vegetarian Meals. Dan benar saja saat di pesawat saya diberikan menu tersebut dari Kuala Lumpur ke Abu Dhabi, sampai ke Paris. Saya salah milih menu dan akhirnya cuma makan cemilannya aja, gak makan beratselama di pesawat hahaha. Sesampainya di Paris saya langsung menghubungi customer service Etihad Indonesia dan meminta untuk mengganti menu spesial menjadi menu standar, karena saya nggak bisa melakukan perubahan melalui website.

CIMG1796

Special meal

Awak kabin yang bertugas ini multi etnis terdiri dari beberapa kewarganegaraan. Bahasa utama yang digunakan di sini adalah bahasa arab dan bahasa inggris. Saya suka nyimak pengumuman pilot atau purser atau pramugari yang berbicara dalam bahasa arab, unik, kan saya belum pernah denger. Jangan diaminkan karena mereka bukan sedang berdoa, tapi hanya berbicara biasa dalam bahasa arab. Eh arab kan bener, kan uni emirat arab.

Ini adalah kali ketiga saya terbang menuju negara dengan zona waktu yang berbeda dari Indonesia, bedanya itu ngebingungin. Jadi saya bingung kapan waktunya tidur, sarapan dan makan siang di pesawat. Di pesawat kepala saya migrain gara-gara kelamaan di KLIA hampir 22 jam, saya juga kelaperan dari Kuala Lumpur sampai Paris gara-gara nggak suka dengan menu pilihan saya sendiri haha, sukurin. Padahal saya udah ngebayangin menu standar pada umumnya.

Selama di pesawat saya sempat beberapa kali menonton film di inflight entertainment. Dari beberapa penerbangan saya sempat menonton Ant Man, Stand by Me Doraemon dan lupa lagi, udah lama sih terbangnya.

Jenis pesawat yang saya tumpangi juga saya lupa pesawat tipe apa. Kalo nggak salah sih airbus dengan komposisi kursi perbaris 2-4-2. Leg roomnya juga saya lupa apakah lega atau sempit. Niat nggak sih posting hahaha.

Saking excitednya saya pas naik pesawat, saya rajin ngecek peta dunia dan jarak tempuh di layar. Di layar itu bisa ketauan kita udah terbang sejauh berapa mil/kilometer, daya jelajah berapa kaki, waktu tempuh berapa lama. Canggihnya nih ya, waktu mau sampai ke Abu Dhabi ternyata kita bisa milih menu pilihan kamera di layar. Kayaknya sih di pesawat ada kamera di moncong dan di bawah sehingga kita bisa liat kondisi di luar pesawat. Saya baru tahu pas mau landing jadi saya bisa nonton detik-detik saat ban pesawat akan menyentuh landasan. Ini kira-kira pilotnya ngedaratin pas di garis nggak ya? Pas nggak ya? Pas nggak ya? Ya ya ya, 1 2 3! Yeay touchdown Abu Dhabi International Airport, Alhamdulillah. Noraknya saya haha.

CIMG1819

Pemandangan di luar pesawat saat mendarat

Ternyata kalo dilihat dari atas pesawat, pemandangan dekat bandara Abu Dhabi itu  sebagian besar berupa gurun pasir, coklat semua. Saya cuma lihat sekilas aja saat landing dan take off.

CIMG4029

Abu Dhabi

Terbang dengan maskapai full service itu menyenangkan, nggak perlu pusing mikirin bagasi, beli kursi, beli makan dan hiburan di pesawat. Tiket pesawat yang saya beli ke Eropa ini harganya sama dengan tiket pesawat saya ke Korea. Untuk ukuran Eropa termasuk murahlah ya. Apalagi maskapainya juga maskapai besar yang telah beroperasi selama 13 tahun.

Selain terbang dengan Etihad, saya juga terbang dengan Etihad Partner seperti Air Berlin dan Alitalia. Nah kalo boleh ngayal sih, saya penasaran banget kepengen nyobain dengan yaitu Air Canada, apalagi kalo bisa gratisan hehe.

20150923_134746

Sebentar lagi sampai di Paris

16 thoughts on “Pengalaman Terbang Dengan Etihad

      • Ooo rupanya gak terlalu suka sayur-sayuran ya. Kalau terbang bareng, udah pasti aku mintain tuh daripada dibuang.

        Btw, jadi kemarin dirimu beli tiketnya dulu baru urus visa dll ya?

      • Sebenernya aku pecinta sayuran, kalo dimasak ala indonesia, menurutku aneh aja rasa makanannya. Kalo terbang bareng aku kasih makananku dah, aku ambil yoghurt, buah & biskuitnya aja haha.

        Aku beli tiket dulu tiap mau kelayapan, baru kemudian apply visanya.

  1. Eh kamu sama noraknya kayak saya waktu pertama kali naik Etihad thn 2010 (Cengkareng-Abu Dhabi-Kairo pp)😝Apalagi pas ngeh soal kamera itu😀 Itu Airbus A330, sama kayak Singapore Airlines yg dari Singapura ke Brisbane (langganan jalur ini soalnya😝). Saya suka makanan menu standar mereka. Dan saya takjub juga melihat bandara Abu Dhabi (dan Kairo) dari atas yang ternyata ada di tengah gurun pasir yg kosong..

  2. lucu ceritanya, tanpa basa basi. hahaha. penasaran dengan etihad yang lagi promo bersamaan dengan qatar saat ini. setelah baca tentang makanan vegetarian di etihad, jadi pingin mengubah menu dari vegetarian ke yang standar untuk qatar ke turki bulan depan. paling vendor makanan dari KL nya sama ya. terimakasih sudah sharing.

  3. mas pas naik etihad dr KL itu , credit card di cek lg ga pas mau check in? soalnya belinya pake CC sodara nih hehe dan dia ga ikut pergi , begitu hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s