Traveling

Tersesat di Paris.. Lagi

 

DSC_0054Ciyehh ceritanya ada lanjutannya nih, kayak drama korea aja nih  bersambung hehe. Episode sebelumnya ada di sini. Baiklah, saya mau cerita pengalaman tersesat di Paris lagi, saking seringnya nyasar saya sampe lupa di Paris bagian mana aja nyasarnya. Nggak pake dicatet kejadiannya, saya cuma mengandalkan memori saya doang.

Saya dan teman jalan (kami berdua saja) sengaja memilih kontrakan (airbnb) di luar pusat kota Paris dengan harapan bisa menghemat biaya akomodasi merasakan bagaimana kehidupan menjadi orang lokal. Tinggal di kompleks pemukiman yang sepi dengan jarak tempuh yang lumayan jauh memberikan tantangan tersendiri buat kami.

Setiap hari kami harus mengalokasikan budget sebesar 11 euro (lupa) untuk membeli tiket mobilis yang mencakup zona 1-4 yang berlaku selama 24 jam. Jarak tempuh dari pusat kota Paris ke kontrakan sebetulnya nggak jauh kalo naik mobil pribadi, tapi kalo naik transportasi umum prosesnya panjang. Pertama kami harus naik metro, kemudian naik metro lagi, selanjutnya berjalan kaki ke halte, dan langkah terakhir adalah naik bis. 

Suatu pagi saat keluar dari kontrakan kami mencoba jalan baru dan secara nggak sengaja kami menemukan pasar tradisional seperti yang ada di Indonesia. Cuma bedanya pasarnya nggak becek. Penjualnya juga sebagian besar pendatang. Saya selalu senang mblasuk ke pasar saat sedang traveling. Bukannya lewat aja dan jalan menuju halte, kami malah belanja buah-buahan, dan belanja di pasar. Kami beli buah-buahan campur-campur. Di Perancis plum murah lho! Di Jakarta kan mahal banget haha. Alhasil yang seharusnya rencana kami berangkat mengeksplor kota Paris menjadi tertunda karena gak sengaja lewat pasar.

20150925_101428
Belanja
20150925_101522
Buah-buahan di pasar
20150925_095905
Nemu singkong

Ada 2 cara untuk mencapai kontrakan, yang pertama lewat kanan, dan yang kedua lewat gang kiri. Kedua-duanya saya nggak hapal, saya cuma ngandelin teman jalan saya buat jadi penunjuk arah. Ada kejadian lucu di hari ke-2 atau ke-3 kami di Paris. Setelah puas ngiterin pusat kota Paris sampe jam 9 malam, kami pun kelelahan dan memutuskan untuk pulang ke kontrakan. Dengan sisa-sisa energi kami melangkahkan kaki ke stasiun metro, kemudian naik metro dan naik bus.

CIMG2108

Waktu di bus saya inget mau turun di halte mana di Romainville, saya inget nama haltenya tapi nggak tau pengucapannya. Saya duduknya kan di belakang nggak keliatan tulisan haltenya. Sedari naik sampai beberapa saat saya sibuk mendengarkan suara mbak-mbak mesin di bus yang menunjukan halte apa saja yang dilewati. Tangan saya selalu siap sedia untuk menekan tombol merah sebagai penanda berhenti kepada sopir. Tapi karena ucapan dan tulisan bahasa perancis yang entah gimana kok nggak nyambung di telinga saya, akhirnya kami pun kebablasan turun dari angkot. Saya menyadari ketika melihat pengkolan tempat kami biasa berhenti dan masup gang kontrakan. “Yahh kelewatan haltenya, ayok kita turun di halte berikutnya!!”

Begitu menyadari kami kebablasan kami pun langsung turun dari bus. Pikir saya jika kelewatan 1 halte, maka kami bisa nyebrang ke seberang jalan dan menunggu bus di arah yang berlawanan. Ide yang cemerlang bukan!! Ketika kami turun dan menunggu di halte, di situ sudah ada 2 orang mas-mas yang sepertinya orang Perancis. Setelah sebelumnya mendapatkan wejangan dari mas pemilik kontrakan tentang selalu berhati-hati di Perancis, maka insting kami otomatis selalu waspada. Kami berdiri di halte beberapa saat. Kemudian kedua mas-mas itu mendatangi kami dan menanyakan apakah kami bisa berbahasa inggris. Saya dan Ika saling memberikan kode, kami berpura-pura nggak bisa bahasa engerish.

Kami tetap berdiri di halte sambil menunggu bus. Mas-mas itu pun pergi meninggalkan kami. Tapi tapi tapi, setelah menunggu lama di halte nggak ada bus yang lewat satu pun. Jangan-jangaaaaaan, jam operasi bus udah berakhir. Saat itu waktu di hp saya menunjukan jam 10 malam. Kami berdua saling berpandangan, memberikan tatapan penuh harap dan cemas. Saya bilang ke teman saya, “Huaaa jangan-jangaaaaan, busnya nggak lewat sini!! Dua orang cowok tadi kayaknya mau ngasih tau kita kalo nggak ada bis yang lewat sini haha”

Kami pun langsung berjalan ke arah lain, mencoba mencari jalan yang lebih ramai dan mencari orang yang bisa ditanya. Kami berlari ke arah halte sebelumnya yang ternyata udah jauh banget kelewatannya. Kami melewati jalanan bercagak dan berjalan dengan langkah cepat ditengah gelapnya malam yang dingin dan sunyi. Nggak ada satu pun orang yang kami temui di jalan malam itu. Padahal waktu masih menunjukan jam 10, belum malam buat ukuran kami. Gerimis menemani petualangan kami. Udara malam yang dingin membuat kami semakin cepat melangkahkan kaki. Saat berjalan sambil terengah-engah kami dapat melihat uap yang keluar dari mulut kami, Wohoooo keren!! Kayak di pelem-pelem, keluar asep dari mulut dan idung haha. Dingin gilak!! Kami melewati rumah besar yang gelap dan sunyi, hanya ada suara lolongan anjing yang terdengar. Saya pun menarik tangan ika dan berlari lebih kencang sampai ke halte. Terserah halte mana aja yang penting ada halte.

Harapan kami saat itu cuma bisa menemukan sebuah bus rute mana saja, nanti kami bisa bertanya kepada sopir bus tempat pemberhentian tujuan kami. Kami menunggu lumayan lama sambil menahan dingin. Saat itu saya antara kepengen ketawa dan kepengen nangis. Ketawa karena kedudulan kami, dan nangis karena udah kecapekan seharian kelayapan sampe pinggang mau copot haha. Saat melihat lampu bus dari kejauhan kami pun langsung berdiri dan bersorak gembira melambaikan tangan kemudian segera naik dan men-touch on tiket mobilis kami, eh nggak pake di touch on deng lupa, tiketnya kan dari kertas. Dimasukin ke alat pembaca tiket trus nanti keluar lagi. Begitu deh pokoknya saya bingung njelasinnya. Saya langsung nanya arah pulang sama bapak sopir bus, kemudian si bapak sopir bus pun memberhentikan kami di halte lainnya yang akan dilewati oleh bus lain menuju kontrakan kami. “Merci beaucoup!”

Kami diberhentikan di sebuah jalan yang sepi. Kalo nggak salah kami berhenti di depan parkiran motor. Saya lihat ada mas-mas yang keluar dari sebuah bangunan dan langsung naik ke motornya. Saya perhatiin motor-motor di Paris itu bentuknya gendut-gendut dan ada penutup buat nutupin lutut dan paha, lucu yah. Mungkin fungsinya supaya kaki nggak kedinginan kali yah. Si masnya juga lucuuuuuuk hehe. Selesai bengong liatin si mas, saya dan Ika saling berpandangan. “Terus kita ngapain di sini? Gimana caranya pulang???”

Nah saat itu ada ibu-ibu yang lewat di hadapan kami, saya pun langsung menghampirinya dan menyapanya. “Excusez-moi” Saya nggak ngerti bahasa Perancis, cuma tau ini doang yang artinya permisi, gak tau bener apa salah

Ulangin yah, jadi begini percakapan kami
Bijo : “Excusez-moi”
Ibu-ibu : “Oui” (Saya lupa si ibu ini jawab apa)
Bijo : “Apakah anda bisa bahasa inggris?” (Saya nanya pake bahasa inggris)
Ibu-ibu : “Sorry nggak bisa” Menurut saya si ibu ngomong ini dalam bahasa perancis sambil menggelengkan kepalanya. Lanjut pake bahasa isyarat.
Bijo dan Ika :“Ibu tau nggak gimana caranya kami bisa nungguin bus ke kontrakan kami?”
Ibu-ibu : “Oh kalian mau nyari halte bis? Ada kok, itu di sebelah sana. Ayo sini ibu anterin ke sana” Ucluk-ucluk kami jalan bertiga ke halte yang letaknya nggak jauh.
Bijo dan Ika : “Makasih banyak bu, udah nganterin kami ke sini. Entah bagaimana kami bisa membalas kebaikanmu. Kalo punya 2 anak cowok seusia kami,  kami nggak keberatan kok dijodohin. Terima kasih banyak atas bantuannya! Merci beaucoup!”

Saya nggak nyangka ketemu orang baik di jalan. Saya terharuuu *ambil tissu* Nggak lama kemudian bus pun datang dan kami bisa pulang dengan selamat. Kami sampai di kontrakan sekitar jam 11. Sungguh hari yang panjang. Kami bukannya tersesat di kota Paris malah tersesat di jalan pulang ke kontrakan. Begini deh kalo lost in translation. Ternyata bahasa universal jauh lebih dimengerti, apalagi kalo bukan bahasa tubuh dan bahasa isyarat. Katanya orang Paris itu nggak ramah kalo yang saya baca di internet. Tapi pada kenyataannya ramah kok.

Kami selalu bertemu dengan orang-orang yang baik selama di Paris. Apa karena saya menyapanya terlebih dahulu dalam bahasa perancis sehingga mereka pun menghargai usaha kita untuk belajar berbicara dalam bahasa perancis? Entahlah. Setiap pagi saat keluar dari kontrakan kami saling menyapa dengan orang-orang yang tinggal dekat dengan kami. Saat naik ke bus juga nggak lupa mengucapkan salam. “Bonjour!”

Pengalaman selama di Paris ini merupakan pengalaman yang manis buat saya. Walaupun banyak nyasar justru menjadi petualangan tersendiri buat saya. Perjalanan ini menjadi pembelajaran yang berharga. Bertemu dengan orang baru, lingkungan baru dan pengalaman baru membuat kita semakin kaya. Bukan kaya harta, tapi kaya pengalaman. Ngomong apa sih saya haha. Baiklah, selamat berpuasa teman-teman. Semangat!!!

CIMG2062
Ada yang iseng pas selpi
Advertisements

16 thoughts on “Tersesat di Paris.. Lagi”

  1. entah kenapa aku gak terlalu berkesan sama Paris, kesannya kurang bersahabat dan welcome sama pendatang….ah mungkin perasaanku aja ya. Itu lucu amat ada yang iseng waku selfi di foto terakhir, kenalan gak? 😀

    1. Aku malah gak berkesan di Roma, kalo Paris mungkin terlalu excited kali ya karena negara pertama yg didatengin.
      Iya tuh si masnya iseng, gara2 temenku duluan yang ngisengin mereka pas lagi poto, eh balas dendam dah 😂

      1. aku juga Roma gak berkesan, mana mas bebeb hampir kecopetan di metro huhuhu. Kayaknya emang lebih enak ke kota2 yang kecil aja ya

      2. Untung gak dicopet. Iya mending ke kota kecil yang jauh dari pusat kota, ke pedesaan yang sepi, damai, bersih dan romantis *apa sih 😂

  2. Eh kirain diriku doang yg tukang nyasar😝 Kadang di kampung sendiri kadang di kampung orang juga.. Eh tapi beneran aku pasang telinga baik-baik kalo mau turun dari metro.. Masa nama stasiun Franklin D. Roosevelt dibaca sama orang Prancis jadi fronklan du ruseve..😁 Itu kan nama Presiden Amerika Serikat yg keturunan Inggris, mbok ya bacanya sesuai pengucapan di bahasa Inggris aja gitu, bukan di bahasa Prancis.. Kan tulisan sama pengucapan jadi LDR..😱

  3. Ya ampun kesasar :)))
    Aku jg pernah sih nyasar, untungnya masih di SG
    Yang petanya enak dibaca :))
    Kalau nyasar kayak kamu di Paris kayaknya milih nangis aja :)))

    1. Di singapur msh banyak orang yg bisa bahasa inggris dan melayu jadi gampang kalo mau tanya. Nyasar di Paris aku malah ketawa mulu, untung ada temennya, kalo sendirian nangis kali😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s