Traveling

Perjuangan ke Alaska

alaska-map-1500.jpg
Peta Alaska

Alaska, entah apa yang membawa saya dan menjadikan Alaska dalam bucketlist saya tahun ini. Bermimpi saja saya tidak berani, namun saya meyakinkan diri saya kalau saya bisa ke sana. Apa pun yang terjadi saya harus berangkat ke Alaska, dengan atau tanpa teman jalan, dengan atau tanpa ijin atasan, dengan atau tanpa uang, ehh yang ini nggak mungkin deng.

Sebelum saya berangkat ke Selandia Baru, awal Maret lalu, selama hampir 2 minggu saya berusaha mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya tentang Alaska untuk persiapan pengurusan visa Amerika. Jarangnya orang Indonesia yang menjadikan Alaska sebagai destinasi liburan membuat saya harus mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang Alaska dalam bahasa inggris. Kemudian ketika saya mengetahui bahwa biaya hidup di Alaska jauh lebih mahal daripada di Asia, saya menjadi ciut. Bukan Bijo namanya kalau menyerah sebelum bertarung.

Sekitar bulan Maret atau April, ketika saya mengutarakan niat saya untuk ke Alaska, teman saya langsung setuju untuk bergabung dengan saya. Kemudian dia pun mengajak temannya untuk bergabung dengan kami. Kami bertiga bisa dibilang traveler yang super nekat, mengunjungi negara bagian Amerika yang nggak populer buat orang Indonesia. Biasanya kalo orang Indonesia ke Amerika itu akan memilih New York atau San Fransisco sebagai tujuan, tapi kami malah memilih Alaska yang bahkan orang Amerika sendiri mungkin belum tertarik untuk mengunjunginya.

Dalam perjalanan ke Alaska ini sayalah yang bertugas memilih tanggal keberangkatan, membelikan tiket pesawat kami bertiga, mengurus visa, membuat itinerary, menyewa kendaraan, memesan penginapan dan masak nasi, tetep urusan perut nomor satu hehe. Saya rela melakukan itu asalkan mereka mau menemani saya ke Alaska.

Saya memikirkan cara bagaimana supaya bisa kebeli tiket pesawat ke Alaska yang harganya selangit. Saat itu saya masih punya tabungan untuk membayar cicilan DP KPR, diem-diem saya pakai uang tersebut untuk membeli tiket pesawat ke Amerika. Saya langsung lari ke Astindo Travel Fair untuk membeli tiket pesawat, sambil terus membandingkan harga tiket melalui situs pencarian tiket pesawat melalui hp saya. Ketika saya mendapatkan hasil pencarian tiket pesawat Eva Air sesuai tanggal keberangkatan yang saya incer, betapa terkejutnya saya mendapati harganya yang mencapai 21 juta. Maaaak, mahal amat tiket ke Amerika!! *megapmegap

Saya dapet tiket promo ke US seharga, gak usah disebutin yaa. Sampai beberapa hari setelah memegang tiket pesawat ke Amerika, akhirnya saya nggak tahan untuk cerita sama orang rumah kalo saya udah pake tabungan KPR buat beli tiket. Kemudian saya sedih dong karena nggak punya duit lagi buat bertahan hidup di Jakarta, haha. “Siapa suruh beli tiket ke Amerika, resiko tanggung sendiri” Itu kata kakak saya haha.

Perlu waktu lama bagi saya mengumpulkan uang untuk pergi ke Alaska. Perjalanan ini merupakan rekor, rekor perjalanan termahal buat saya. Perginya sih cuma 2 minggu, tapiiiii… Percaya nggak sampai saat saya pulang dari Alaska saya masih harus berjuang melunasi tagihan kartu kredit yang saya pake buat beli sepatu di Fairbanks, haha. Perjalanan yang singkat itu telah membuat tabungan saya ludes, tapi saya nggak menyesalinya. Saya bangga telah menyelesaikan perjalanan saya. Hati senang walaupun jatuh miskin. Saya malah merasa kaya, kaya pengalaman.

Lanjut lagi ke Alaska yaaaaa..
Awalnya saya kepengen memisahkan diri dengan teman jalan saat di Denali National Park, dan kepengen hiking sendirian di sana. Tapi setelah melihat papan informasi ‘Awas Beruang! di setiap taman nasional’ saya memutuskan untuk nggak memisahkan diri, lebih baik tetap kelayapan bertiga supaya aman. Kalau ke negara lain yang nggak ada binatang buas mungkin saya masih berani kelayapan sendirian.

dscf3088
Awas beruang

Sulitnya transportasi di Alaska membuat saya harus berpikir 2 kali apabila ingin melakukan perjalanan solo ke sana. Saya bukan Chriss McCandless atau Alexander Super-Tramp yang berani hitch-hiking di tempat terpencil. Saya bukan traveler kelas dunia yang berani camping seorang diri di taman nasional dengan populasi beruang terbesar di Amerika Utara. Saya bukan backpacker yang tahan dingin dan tahan kelaparan di jalan, yahh saya memang manja.

Sampai kami tiba di Alaska kami masih belum memutuskan mau ke mana di hari ke-3 kami di Alaska, penginapan pun belum dipesan, dan kami nggak tau mau ngapain. Berbekal koneksi wi-fi di Visitor Center di Denali National Park, kami langsung memutuskan untuk bermalam di Fairbanks, tidak lain dan tidak bukan untuk berburu aurora borealis.

Hampir setiap hari selama kami berada di Alaska turun hujan, hujan air, bukan hujan salju. Cuaca yang dingin dan hujan rintik yang turun tidak menghalangi niat kami untuk kelayapan. Hiking di taman nasional, hiking diatas glacier ataupun berlayar mengarungi Fjords dengan kapal. Saya harus selalu sedia tisu di saku, karena selama di sana saya gampang ingusan saking dinginnya. Tapi jangan takut, dinginnya Alaska di musim gugur nggak sekejam dinginnya Islandia.

Anchorage merupakan kota pertama yang kami singgahi. Kota terbesar di Alaska ini merupakan gerbang untuk menuju kota-kota lain di Alaska. Di Anchorage terdapat banyak pusat perbelanjaan, perkantoran, gedung tinggi,Β museum, toko mobil dan Sephora. Sephora, penting yaa, padahal saya juga baru tau ada merek kosmetik US bernama Sephora haha.

Karena lokasi yang kamiΒ kunjungi setiap harinya berjauhan maka kami lebih banyak menghabiskan waktu di jalan, paling cepet nyetirnya cuma 3 jam, sisanya ada yang sampe 2 jam dikali 2, 5 jam, bahkan sampe 10 jam. Berhubung saya nggak nyetir, di mobil kerjaan saya cuma ngemilin chiki balls yang toplessnya guedhe sampe nggak abis-abis. Kalian masih ingat kan chiki balls jaman dulu, nah yang ini rasanya agak-agak mirip. Karena temen saya batuk-batuk tiap abis makan chiki ini, mangkanya saya yang berusaha ngabisin haha. Ini apa sih kok jadi cerita chiki.

20160915_191609

Udahan ya ceritanya, saya mau makan dulu kapan-kapan dilanjut lagi hahaha

Advertisements

20 thoughts on “Perjuangan ke Alaska”

    1. Tiba2 buntu gak tau mau nulis apa hahaha.
      10 jam, kayanya lebih dah. Dulu di NZ juga pernah nyetis selama itu, udah biasa sih kalo di luar negeri enak nyetirnya gak pake macet. Padahal di alaska aku gak nyetir juga haha

  1. Lah duit buat DP KPR malah dipakek? Huahahah.. Aku sukak gaya mu, Mbak. Santai! πŸ˜› Kalok aku mungkin uda merasa bersalah terus tersungkur di pojokan. Wkwkwk.

  2. Gede banget toplesnya# takjub
    Jadi selama disana net nya ngandalkan wifi gretonganlah ya? Apa semua tempat ada fasilitas wifi gratis? Ayok, lanjut lagi ceritanya…

  3. wow bisa beli rumah, pernah denger alaska pas nonton film sandra bullock berjudul the proposal yg tempatnya terpencil, alhamdulillah ada orang indonesia, cewek lg berhasil ke alaska ikut seneng

    1. aku jg gara2 pelem itu ke alaska, eh baru tau kalo ternyata syutingnya bukan di alaska, ketepu kita haha. Tapi seneng udah sampe ke sana walau belum puas.
      siapa cewek yang ngebolang ke alaska? πŸ™ˆ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s