Traveling

Taksi Tehran

Peringatan:
Saya mau cerita tentang Iran lagi, kalo kalian bosan cuekin aja dan tutup tabnya, tapi kalo kalian penasaran monggo dilanjut 😉

Saya sengaja pake judul Taksi Tehran setelah kemarin menonton film Iran berjudul Taxi Tehran. Film ini menceritakan tentang perjalanan sebuah taksi dalam mengantarkan penumpang yang beragam ke tempat tujuan mereka. Kemudian kenapa nggak saya contek aja judulnya. Kali ini postingan saya akan menceritakan tentang pengalaman naik taksi bandara, kalo pengalaman taksi di kota Tehran sendiri nanti akan diceritakan di postingan terpisah. Are you ready?? Berangkat!!! 🚕🚕🚕

Saya tiba di Tehran tanggal 17 November 2016 sekitar jam 11 malam setelah menempuh perjalanan selama 8 jam dari Kuala Lumpur International Airport 2. Ini menjadi rekor perjalanan terjauh ke-2 nonstop setelah perjalanan saya dari Taipei ke Seattle 1,5 bulan sebelumnya, yaitu selama 13 jam nonstop. Kebayang kan duduk selama 8 sampai 13 jam, pantat berasa panas kayak abis disetrika saking pegelnya. Ini kok malah pamer pengalaman terbang jauh yak.

Sebelum mendarat saya mendengar pengumuman awak kabin bahwa sesaat lagi pesawat akan mendarat di Republik Islam Iran, setiap penumpang wanita harus memakai pakaian tertutup saat keluar dari pesawat dan mengikuti peraturan yang berlaku. Kurang lebih pengumumannya seperti itu. Saya memang sudah memegang pashmina saya sejak masuk pesawat dari KLIA2, selain untuk digunakan sebagai hijab saya menggunakannya sebagai selimut, karena di pesawat malam itu nggak dikasih selimut. Ya maklum kan naik budget airline.

Malam itu setelah keluar dari pesawat saya langsung menuju ke antrian pemeriksaan imigrasi untuk foreigners. Saya nggak melipir ke counter VoA lagi karena sudah mengurus visa melalui Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Menteng. Kenapa saya mau repot-repot urus visa di Jakarta padahal sudah diberi kemudahan berupa VoA yang bisa langsung diurus pada saat mendarat di Tehran? Karena lebih hemat 25 euro kalo applynya di Jakarta, lumayan kan 25 euro bisa dipake buat ongkos taksi di Tehran hehe.

Setelah keluar dari custom and border protection saya melihat banyak sekali kerumunan orang membawa buket bunga yang sedang menunggu orang terkasih. Sementara saya, tidak ada yang menunggu jadi saya cuma mondar-mandir nggak jelas di bandara untuk mencari money changer. Saya bertanya kepada petugas di bandara di mana lokasi money changer, dia menjawab dalam bahasa farsi sambil mengarahkan tangannya ke atas. Ohh ternyata money changer ada di lantai atas toh, itulah kesimpulan yang saya tangkap.

Saya dengan pedenya berjalan menaiki tangga eskalator dari terminal kedatangan untuk mencari money changer yang katanya ada di lantai atas. Setelah berjalan dan celingak-celinguk penuh selidik akhirnya saya menemukan money changer yang dijaga oleh seorang wanita yang sangaaaat cantik! Saya memberikan 2 lembar pecahan uang 100 dolar Amerika kepada mbak tersebut kemudian dia pun memberikan saya banyak sekali uang kertas kepada saya. Saya tidak menghitung uang tersebut, saya percaya saja kepada mbak petugas money changer. Katanya sih rate money changer di bandara lebih mahal daripada di kota, tapi saya nggak punya pilihan.

Setelah menukarkan uang kemudian saya mencari tempat untuk membeli Iranian sim card, saya kembali lagi ke posisi semula ketika pertama kali keluar dari pemeriksaan custom dan melihat ada 2 booth yang menjual Iranian simcard dengan provider yang berbeda. Saya disarankan untuk membeli simcard provider Irancell oleh teman Iran saya sebelum saya tiba di Iran, dan saya mengikuti sarannya. Tapi sayangnya booth Irancell saat itu lagi tutup, di booth ada pesan di papan bertuliskan “Tutup 30 Menit”. Maka dengan setia saya menunggu sampai penjaganya datang namun setelah lama menunggu petugasnya tidak kunjung datang. Bukannya membeli simcard provider lainnya di sebelahnya saya malah berjalan keluar bandara untuk mencari transportasi menuju Tehran.

Saya putus asa mencari koneksi wi-fi bandara yang ternyata nggak ada, dan menunggu penjaga rancell datang tapi nggak datang-datang. Saya menyerah, saya terpaksa kelayapan tanpa bekal berupa koneksi internet. Saya melangkahkan kaki dengan yakin dan berjalan menuju loket agen taksi di luar bandara. Saat itu saya melihat ada 2 loket yang buka, salah satunya dijaga oleh petugas wanita yang lagi-lagi sangat cantik, dan loket di agen taksi yang berbeda dijaga oleh abang-abang. Bukannya mendatangi mbak petugas loket agen taksi saya malah mendatangi loket yang dijaga abang-abang. Saya mengumpulkan keberanian saya untuk bertanya dalam bahasa inggris namun mereka tidak bisa bahasa inggris. Saya mencoba bertanya lagi kali ini dalam bahasa Persia, “ببخشید، انگلیس بلدی؟” (Permisi, apakah anda bisa berbahasa inggris?). Kemudian mereka geleng-geleng kepala dan menjawab, “نه” yang artinya tidak.

Waduhhh, piye iki. Bijimana cara transaksi kalo mereka nggak bisa bahasa inggris. Akhirnya saya memberikan ponsel saya yang berisi nomor telepon dan sebuah alamat dan meminta mereka untuk menghubungi nomor telepon tersebut. Nomor siapa yang saya berikan kepada mereka? Nomor telepon orang yang akan menjadi host saya di Iran. Yapp, untung saya dapet kenalan orang Iran yang mau saya repotin, Alhamdulillah.

Setelah mereka berbicara panjang lebar melalui ponsel akhirnya didapatlah harga untuk mengantarkan saya ke lokasi tersebut. Saya dikasih tau ongkos taksi untuk mencapai tujuan saya yaitu sebesar 35 dolar Amerika. Weww mahal banget! Seumur-umur saya belum pernah naik taksi dari bandara ke kota sendirian kalo lagi di luar negeri, kalaupun pernah dulu patungan sama teman-teman waktu di Australia dan Thailand. Kali ini karena saya kelayapan sendiri maka saya nggak bisa patungan bayar ongkos taksi. Lagian udah malem juga dan saya udah terlalu lelah menempuh perjalanan seharian dari rumah ke kantor ke bandara Soekarno Hatta, ke Kuala Lumpur, sampai ke Imam Khomeini International Airport. Saya harus segera beristirahat supaya bisa kelayapan keesokan harinya.

Akhirnya saya menyetujui tarif yang mereka ajukan dan memutuskan untuk segera angkat kaki dari bandara yang ramai itu. Abang-abang petugas di loket kemudian memanggil seorang bapak-bapak yang sedang berdiri diantara jejeran taksi resmi bandara dan berbicara dalam bahasa farsi kepada bapak sopir taksi tersebut. Saya percaya aja sama bapak sopir taksi yang akan menemani saya di jalan selama 1,5 jam berikutnya. Sebenarnya saya agak deg-degan naik taksi tengah malam di negara yang sangat asing seperti Iran ini. Kalo di Jakarta saya nggak berani kelayapan tengah malam sendirian naik taksi, tapi karena ini di Iran saya percaya aja deh. Hilangkan pikiran horror yang ada di kepala saya, hilangkan scenario buruk yang ada di kepala saya, hilangkan pikiran negatif, insyaallah aman sampai tujuan dah, bismillah aja.

Saya naik taksi tepat pukul 12 malam. Saat masuk ke dalam taksi, bapak sopir taksi memberikan salam dengan mengucapkan, “سلام” kemudian saya pun membalasnya dengan bilang “سلام” balik. Kemudian setelah menstarter mesin, dia menyalakan heater, dan radio dan kami pun cuss keluar bandara.

Saya duduk di bangku belakang sambil membuka aplikasi peta offline maps.me untuk memastikan bahwa saya dibawa ke tempat tujuan yang benar. Sambil menahan kantuk saya sesekali mencoba untuk merekam situasi malam itu untuk diposting di socmed setelah pulang nanti. Saat mulai keluar terminal kedatangan, taksi saya melewati jalan tol bandara dan berjalan sangat kencang.

Setelah keluar tol mulai terlihat suasana Tehran di malam hari. Kendaraan masih lumayan ramai, dan warung atau toko di pinggir jalan masih ada yang buka. Gak lama kemudian pak sopir taksi minta ijin untuk menepikan mobilnya di pinggir jalan untuk membeli sesuatu. Pak sopirnya sih ngomong pake bahasa farsi, saya sih nebak-nebak aja artinya hehe

Di sisi lain pikiran negatif saya muncul. Waduh gimana kalo misalnya dia berenti untuk manggil temannya untuk menculik saya. Dalam sesaat bulu kuduk saya berdiri membiarkan pikiran negatif menguasai kepala saya.

Gak lama kemudian pak sopir taksi datang sambil membawa segelas es krim dan memberikannya kepada saya. Saya pun menerimanya sambil mengucapkan, “مرسی” yang artinya terima kasih kemudian melahap es krim tersebut. Saya langsung lupa sama pikiran negatif saya dan menikmati es krim sambil tersenyum dan memandang pemandangan di jalan. Baru kali ini saya dikasih es krim sama sopir taksi, dan settingnya kenapa harus jauh banget, di Iran haha! ایران

Es krim yang saya kira keliatan sedikit ternyata banyak banget. Saya terus-terusan makan es krim sampe tiba di tempat tujuan. Saya tau kalo tempat tujuan saya itu jauuuh banget, makanya saya udah siapin mental kalo sampenya bakalan lama. Kalo di sini kaya dari Tangerang ke Bogor kali, ato ke mana gitu pokoknya jauh banget. Ye mana tau kalo rumah host saya jauh. Udah untung dapet tumpangan hratis hehe

Nah pas mau mendekati kompleks tujuan saya menyadari ada yang salah. Kenapa ini taksinya muter-muter nggak jelas. Hmm jangan-jangan nyasar. Bener aja, si pak sopir taksi ngejar mobil yang melaju di depan kami sambil mencet klakson kemudian mepetin mobilnya. Dia bertanya dalam bahasa farsi, saya bukannya bantuin nyari lokasi di peta malah mengamati mereka. Lucu bahasanya, kayak di film Iran yang dulu saya tonton, unik

Kemudian pak sopir ngider-ngider lagi dan nampaknya dia masih kebingungan. Di pengkolan ada mas-mas yang lewat, kemudian taksinya didekatkan ke arah mas-mas yang lagi jalan dan pak sopir menanyakan jalan lagi. Kemudian si mas-masnya masuk ke dalam taksi dan duduk di bangku depan sambil ngarahin jalan. Di ujung jalan mas-masnya turun meninggalkan kami. Dan kami pun masih berusaha mencari jalan seperti yang diarahkan si mas

Setelah nyetir lurus kami malah sampai di jalan tak berujung alias buntu haha. Waduh gawat kalo gini saya harus turun tangan. Kemudian saya liat peta offline dan menunjukan kepada sopir taksi. “Ini lho pak tempatnya, mundur ya pak kita balik ke posisi pas ketemu mas-mas tadi. Kita ikutin peta ini aja ya. Kita jalan lurus, belok kanan, belok kiri, lurus kaya yang ada di sini” *sodorin hp

Setelah mengikuti gps di peta offline akhirnya kami sampai di gerbang apartemen, kami permisi dulu sama pak satpam kemudian masuk ke dalam komplek apartemen di Pardis. Si pak sopir meminta nomer ponsel host saya kemudian menghubunginya untuk menanyakan lokasi pastinya. Ternyata kami masih belum sampai dengan tepat. Dia kembali menjalankan mesin mobil dan mengikuti arah dari suara di telepon.

Sampailah kami di gedung apartemen kalibata nomor sekian, kemudian kami keluar dari taksi sambil menunggu si empunya suara di telepon. Gak lama kemudian terdengar suara pintu dibuka dan datanglah sesosok pria tinggi yang menghampiri kami. Dia pun menyunggingkan senyum dan menyapa saya, “Hai”. Dan saya pun pingsan setelah melihat orangnya. Maaak, cakep! 😍😂

Oh iya setelah host datang, saya nggak tau dia ngomong apa sama sopir taksi. Mereka sempat berdebat singkat mengenai ongkos taksi. Akhirnya abang host bilang, “Lo punya mata uang dolar 35 gak? Sini!” Kemudian dia minta uang lagi dan saya kasih aja, gak tau minta tambahan berapa toman, karena saya kasih dompet saya ke abang host. “Ni kasih sendirilah” . Mahal ya ongkos taksi bandara.

Advertisements

23 thoughts on “Taksi Tehran”

  1. Belom, belom pernah dikasih es krim sama sopir taksi, mau juga dong #ngarepdapetsopirtaksibaek. Baik banget pak sopirnya ya. Aman ya naik taksi malam di Iran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s