Traveling

Taaruf di Iran

20161119_102037
Kereta Kuda di Isfahan

Hah, Bijo jauh-jauh ke Iran buat taaruf? Sama abang Iran!? Uwoooowww!!

Hayo, kalian pasti kaget pas baca judulnya! Pasti mikirnya saya jalan-jalan ke Iran buat taaruf sama cowok Iran, iya kan, iya kan, iya kan? Ngaku nggak! Segitu desperate-nyakah saya sampai jauh-jauh ke Iran untuk mencari jodoh, emangnya di Indonesia nggak ada yang mau sama saya apa!? Ehh!

Abis gimana ya, kan mencari jodoh itu nggak segampang mencari sepatu, harus dipertimbangkan dengan seksama. Kalo ada cowok Iran yang mau sama saya, kenapa enggak. Udah baik, sopan, ganteng lagi. STOP!!!! Ini bukan mau ngomongin jodooooh! Ok, kembali ke topik! Maaph hilap. Ngimpi kamu Bijo huahaha

Kalian telah kepancing dengan judul postingan ini, bahwa sesungguhnya taaruf yang saya maksud di sini bukanlah taaruf yang merupakan sarana dalam melakukan pengenalan dan pendekatan, yang bertujuan untuk mengenalkan dua keluarga yang akan menjodohkan salah satu anggota keluarga. Bukan, bukan taaruf ini yang saya maksud. Taaruf yang akan saya ceritakan di sini adalah taaruf berdasarkan pengalaman pribadi saya ketika mengunjungi Iran beberapa bulan yang lalu *kemudian baper lagi

Kalo di Indonesia bilangnya taaruf, kalo di Iran bilangnya tarof, walaupun tulisan arabic/farsinya sama. Saya penasaran dong, sebenarnya apa sih tarof versi Iran itu? Kemaren saya iseng-iseng nanya teman Iran apa pengertian dari tarof. Dia sendiri bingung gimana menjelaskannya. Sebenarnya saya tau, cuma iseng aja nanya dia lagi hehe.

Kalo menurut KBBI, taaruf itu adalah perkenalan. Kalo menurut google translate ke engerish tarof تعارف artinya compliment. Kalo menurut google

Taarof or Tarof (Persian: تعارف‎‎) is an Iranian form of civility emphasizing both deference and social rank, similar to the Chinese art of etiquette, limao.[1] The term encompasses a range of social behaviors; one example of taarof could be described as posing false invitations and promising future services or deeds to primarily strangers or distant relatives and expecting them not to take the offer and keep declining it. However, the closer two people get in a relationship, the less taarof appears in their behavior towards one another. Sumber : Wikipedia

In Iranian culture, it is customary to offer guests a glass of water or a cup of tea; many Western cultures do the same. But an Iranian guest who’s ta’arofing would refuse the beverage at first pass. The host would insist and offer again. Finally, on the third round, the guest would accept the drink. Any other scenario would be considered rude. Sumber : http://www.latimes.com/local/great-reads/la-me-c1-tarof-20150706-story.html

Tarof adalah sebuah bentuk etika dalam berinteraksi dengan orang lain. Gimana sih, maksudnya etika sopan santun gitu. Menurut saya orang Persia itu mirip kayak orang Jawa. Kalo di Iran ada tarof, kalo di Jawa unggah-ungguh, gimana ya njelasinnya. Misalkan kita ditawarin makanan, terus kita menolak dengan sopan sebanyak 2 kali, tapi si tuan rumah tetap memaksa. Karena nggak enak maka kita menerima makanannya di tawaran yang ke-3 kalinya. Begitu lho.  Susah kalo jelasin dalam bentuk kata-kata, baiklah kita langsung ke contohnya yaaa.

Cerita 1

Pada suatu hari, ada seorang cewek Indonesia kelayapan sendirian ke Iran. Sambil menunggu jam keberangkatan bus jam 12 malam, karena bingung mau ngapain malam-malam sendirian di terminal bus, maka dia memutuskan untuk istirahat di mesjid di terminal bus. Tiba-tiba ada sekelompok cewek yang berkenalan dengannya di mesjid, kemudian diajak jalan bareng dan terakhir diundang ke rumahnya. Sesampainya di rumah si cewek itu disambut dengan kedua orang tua teman barunya, kemudian disuguhi berbagai makanan dan diajak sarapan bareng sambil bercengkrama. Saat baru duduk saya ditawarin seperti ini:

Bu Ali : “Befarmayee”
Bijo : “Mersi”
Bu Ali : “Chai mikhori?”
Bijo : “Baleh, chai mikhoram”
Bu Ali : “va qand? Shekar?”
Bijo : “Va qand, mamnoonam”

Saat menawarkan makanan, Bu Ali mengeluarkan semua makanan yang ada di dapurnya. Kalo di Jawa bahasanya berubah jadi begini:

Bu Ali : “Monggo Mbak Bijo, diunjuk tehnya”
Bijo : “Mboten sah repot-repot Bu”
Bu Ali : “Ayo, jangan malu-malu” *sodorin minuman dan makanannya ke saya
Bijo : “Nggak usah bu, duh saya jadi ngerepotin” (berubah ke bahasa Indonesia, karena saya nggak ngerti bahasa jawanya lagi haha)
Bu Ali : “Ayoo diminum tehnya”
Bijo : “Makasih Bu”

Nah kira-kira seperti itulah yang dinamakan tarof versi Iran, sudah mengerti kan?

Cerita 2

Suatu hari di rumah orang Iran

Abang Iran kemudian disingkat dengan nama AI : “Ayo masuk”
Ibuknya Abang Iran disingkat dengan II menyambut di pintu: “سلام، خوبی؟”
Bijo : “مرسی” (Bisanya bilang mersi doang sambil senyum-senyum, saat itu belum tau harus jawab apa. Kalo ditanya khubi?, kudune aku njawab “khubam”)
Kemudian semuanya duduk di atas karpet di lantai sambil memulai perbincangan ringan.
AI : “Would you like some tea with fruit? Or dinner?”
Bijo : “نه مرسی” (Enggak, makasih)
II : Si Ibu tiba-tiba datang dengan membawa nampan besar berisi makanan.
Bijo : Langsung makan dengan lahap, jaimnya lupa seketika haha

Kemudian si Ibu berbicara dalam bahasa Persia yang artinya kalo saya tebak, menawarkan saya untuk makan dengan lahap. Ini kayanya karena si Ibu kasian ngeliat saya kali ya, sendirian di entah berantah berasa kayak gembel, kemudian dipungut keluarga Iran. Dulu saya sempat menolak tawaran makan malam, tapi mereka kekeuh nawarin saya makan. Dulu gak tau kalo ini adalah salah satu bentuk tarof. Duh baiknya orang Iran ini. Kalo emak saya tau sama kebaikan si ibu, pasti emak saya akan berterima kasih sama keluarganya si Ibu Iran ini, kemudian mereka berdua langsung bertemu dan langsung ngejodohin anak-anaknya huahahahaha!

Jadi kamu, kamu, kamu dan kamu kalo pas lagi main ke Iran kemudian ditawarin makanan atau diajak main ke rumah mereka dan dijamu oleh keluarganya nggak boleh langsung baper. Mereka nggak cuma ke kamu aja ngelakuin ini. Ini udah jadi adat atau kebiasaan bagi orang Iran, mengundang orang asing ke rumahnya. Mangkanya jangan geer apalagi sampe baper.

Sebenarnya ada beberapa bentuk tarof yang saya rasakan ketika berkunjung ke Iran, tapi sebagai contoh cukup 2 cerita ini aja. Karena budaya Iran yang begitu unik inilah yang membuat saya jatuh cinta dengan negara ini. Saya yakin, kalo kalian pernah ke Iran kalian pasti akan jatuh cinta dalam sekejap. Lupakan semua kata orang yang bilang Iran itu begeini, Iran itu begitu. Nggak peduli agama mereka mau islam syiah, sunni, kristen, zoroastrian atau atheis sekalipun. Yang saya rasakan adalah kebaikan orang Iran ini sangat tulus. Cuma gawat kalo ada orang yang menyalahgunakan konsep tarof ini.

Kalo taaruf di Indonesia sendiri saya belum pernah mencobanya. Kalo di Indonesia ini serius banget taarufnya dan berujung ke pernikahan kan ya. Kalo taaruf di Indonesia saya nggak ngerti, barangkali ada yang mau menceritakan pengalamannya taaruf sampai ke jenjang pelaminan. Lha jadi bahas ini haha.

Kalo ada yang mau cerita pengalaman tarof di Iran juga boleh banget lho di kolom komen. Kalo ada yang mau nambahin atau koreksi pengertian tarof juga boleh, tapi nggak pake nyolot yah, peace ah!

Ini ada video lucu tentang tarof

Khodahafez (sampai jumpa)

Bijo yang udah nggak baper sama abang Iran

Advertisements

31 thoughts on “Taaruf di Iran”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s