Traveling

Suatu Malam di Fairbanks, Alaska

screenshot_2016-09-14-21-34-14.png
Alaska map

September 14th, 2016
Greeting from Fairbanks! This is not the last time you shall hear from Bijo. Arrived here 2 nights ago. It was very difficult to catch rides in Denali National Park. But I finally got here. Thanks to my travelmate who give me ride to Fairbanks. At first I planned to do Solo Backpacking in Denali National Park for 1 or 2 days, while they continue their journey so they can leave me alone. But I change my mind, I’m not that brave to do solo backpacking in Bear Country, Alaska.

Paragraf pembukaannya nyontek dari bukunya Into The Wild. Saya mau cerita flashback nih tentang perjalanan saya ke Alaska beberapa bulan yang lalu. Sebelum lupa dimakan waktu. Sebentar yah saya inget-inget dulu rentetan perjalanan saya waktu ke Alaska.

Tanggal 14 September 2016 itu posisi saya udah di Fairbanks. Fairbanks, di manakah itu?  Yak betul, di sebelahnya kota Bojong haha. Serius nih,  Fairbanks itu adalah salah satu kota besar di Alaska yang  programnya sering saya lihat di televisi yang judulnya “Life Bellow Zero”. Baiklah baiklah, Fairbanks adalah kota yang berada di interior, atau tengah-tengahnya Alaska. Berjarak 358 miles dari Anchorage atau 300 miles dari perbatasan Kanada. Kalo dikilometerin saya nggak tau jadi berapa, itung sendiri jaraknya ya.

Sebenarnya saya nggak begitu kepengen berlama-lama di Fairbanks karena menurut saya Fairbanks itu nggak ada apa-apa. Tempat yang pengen banget saya datangi di Alaska selain glacier adalah Denali National Park. Bahkan saya bercita-cita backpacking dan camping di sana, namun karena takut sama beruang, nggak punya cuti, nggak punya keberanian, nggak kuat dingin, nggak punya duit, nggak punya semprotan anti beruang,  nggak punya tenda dan perlengkapan camping akhirnya saya menunda niat saya. Gara-garanya liat video cewek yang backpacking sendirian di Alaska saya jadi mupeng. Tapi nggak deng, saya nggak punya nyali.

Ada satu hari di Alaska yang bolong, tanpa perencanaan dan kepastian mau ke mana yaitu di hari ke-4. Setelah lantang-luntung seharian di Denali National Park,  kami kembali ke Denali Visitor Center dan memanfaatkan fasilitas wi-fi gratisan. Kami mulai mengukur jarak peta, mencari penginapan terdekat untuk kemi bermalam. Tadinya saya menyarankan agar kami bermalam di Nenana, kota yang nggak begitu jauh dari Denali. Namun karena salah satu teman jalan pengen ke Fairbanks akhirnya kami memutuskan untuk ke sana. Fairbanks kan lumayan jauh, saya sih nggak keberatan ke sana, cuma kasian sama yang nyetir aja. Kalo saya mah sekejap mata juga sampe, lha wong disopirin mbak-mbak di depan *dijitak

20160912_124125.jpg
Denali

Singkat cerita, sampai nih kami di Fairbanks. di Golden North Motel yang bentuk motelnya seperti yang ada di film-film yang sering saya lihat di tv. Kemudian saya baru nyadar, oh iya ini kan lagi di Amerika. Keren ih saya hahaha. Ok ok, cerita di Fairbanks malam pertama dan kedua dilewatin aja yah. Mari kita lanjutkan dengan cerita di Fairbanks di malam ketiga, tepatnya tanggal 14 September 2016. Saya lupa tuh sehariannya kami ngapain aja di sana, yang saya inget itu malamnya. Malam panjang, penuh ketidakpastian dan tanpa harapan. Kayak lagi nungguin jodoh yang lagi ditunggu di depan pintu rumah tapi nggak dateng-dateng gitu.

Sekitar jam 7 malam, setelah makan malam kami segera mengenakan pakaian terbaik kami layaknya ingin ngedate. Kami mengenakan pakaian berlapis-lapis karena akan segera melakukan perburuan tengah malam. Perburuan apakah itu? Yak salah, bukan berburu abang ganteng, tapi berburu aurora borealis!! Di Alaska mana ketemu saya sama abang-abang kece, ketemu orang aja jarang, kebanyakan mbah-mbah yang saya lihat di jalan.

Beberapa hari sebelumnya pada saat check in di Golden North Motel kami bertanya, apakah aurora bisa terlihat dari motel. Dan pemilik motel bilang bisa, sering malah. Tapi sayangnya saat kami di sana mbak aurora enggan menampakan tarian indahnya. Makanya tanpa patah semangat kami pun memutuskan untuk mengejar mbak aurora sampai ke titik terujung Fairbanks yang bisa kami tempuh.

Malam itu kami bertiga bersiap-siap keluar motel dan langsung lari ke mobil. Tidak lupa saya membawa sarung tangan tinju, selimut souvenir dari pesawat, jaket bulu tebal, botol tupperware dan chiki balls rasa keju setoples gede. Kami langsung naik ke mobil dengan harapan dapat bertemu mbak aurora. Ini adalah pengalaman pertama kami berkendara di malam hari. Malam itu saya lupa siapa yang kebagian nyetir perama kali, yang pasti bukan saya.

Kami berkendara mengikuti arahan GPS yang sudah disetting. Saat kami berangkat cahaya matahari masih terlihat, sedikiiit. Namun perlahan cahaya temaram lampu jalan semakin menghilang. Tandanya kami sudah mencapai, entah berantah. Sebenarnya saya nggak tau mau diajak ke mana, saya cuma ngekor aja. Yang riset lokasi ini bukan saya, saya udah pusing bikin itinerary keseluruhan.

Saya taunya kami mau liat aurora ke atas Fairbanks. Kalo dip eta itu Fairbanks kan udah lumayan di atas posisinya, nah ini tempat yang mau kami samperin lebih ke atas lagi. Lama-lama jalanan yang kami lalui semakin sepi dan gelap, jarang ada mobil lewat. Saya nggak ada bayangan seperti apa keliatannya kalo siang hari. Akhirnya kami pun sampailah di ujung jalan. Nggak taulah itu jalan apa, buntu.

Bijo : “Udah di sini? Ini di mana?”
Cijan : “Ini lho katanya salah satu lokasi terbaik untuk melihat aurora borealis di Alaska!”
Bijo : “Wohoo, tapi kok sepi yak”

Akhirnya kami menepikan mobil di pinggir jalan. Sebenarnya di dekat situ ada bangunan tapi saya nggak yakin tempat apa. Akhirnya kami parkir di pinggir jalan yang gelap, sendirian. Sesekali ada mobil yang lewat. Saya meringkuk di jok belakang sambil selimutan dan makanin chiki. Mbak-mbak yang di depan saya juga asik cemilin chiki sampe batuk-batuk dan akhirnya berhenti makan. Kami bertiga berdiam diri di mobil. Saya pengen keluar dari mobil juga nggak berani, takut ada beruang.

Karena nggak enak nunggu sendirian di pinggir jalan akhirnya kami puter balik mobil kea rah berlawanan. Di pinggir jalan terdapat sebuah mobil yang keliatannya mencurigakan. Saya disuruh keluar dan nanya ke mobil depan, tapi saya nggak mau. Saya nggak yakin lagi di mana pan. Akhirnya Cijan keluar dan bertanya sedang apa mereka, apakah mereka juga sedang menunggu aurora.

Ternyata benar, mobil di depan kami juga sedang menanti datangnya mbak aurora. Kami harus mematikan lampu mobil supaya hemat aki. Yaelah mobil juga bukan mobil kami haha. Krik krik krik, waktu terus berjalan, malam semakin gelap dan cuaca semakin dingin tanpa ada tanda-tanda kedatangan Mbak Aurora. Saya mulai kedinginan di mobil. Saya menahan kantuk supaya bisa melihat pergerakan langit. Dear aurora, come to mama!

screenshot_2016-09-14-21-33-28.png

Saya mengawasi gerak-gerik mobil di depan yang mulai mencurigakan. Maksudnya? Yang punya mobil mulai menyalakan mesin dan tiba-tiba mobil di depan menghilang. Kyaa mereka pergi, kami ditinggalkan sendiri. Karena mulai putus asa, mbak sopir memutuskan untuk mencari lokasi baru. Kami bergerak ke depan kembali ke jalan semula, kemudian terlihat ada beberapa mobil yang sedang parkir di semacam lapangan. Di sana juga ada sebuah bus yang sedang parkir yang mesinnya terus menyala. Kami mulai mendekat, mendekat dan ikutan parkir di sana.

Saya ngerasa lega, paling tidak kami ada temannya. Selang beberapa menit kemudian datanglah mobil lain. Mobil-mobil lain mulai berdatangan dan parkir. Benar saja, mereka juga sedang menunggu datangnya aurora. Menurut saya lho. Beberapa kali mereka keluar masuk mobil menantikan aurora. Saya nggak berani keluar karena cuaca mulai dingin. Ini mengingatkan saya dengan pengalaman saat menunggu aurora di Iceland setahun sebelumnya, persis kayak gini. Ngejogrog di mobil sampe beku.

“Dingin dingin dingin dingin!!!” Saya cuman bisa bilang dingin mulu. Saya mencari posisi senyaman dan sehangat mungkin di mobil. Sampai pukul 23.54 masih belum ada tanda-tanda kemunculan aurora borealis. Kami menunggu sejak langit bersih sampe ketutupan awan. Saat itu terdapat 1 buah bus dan 7 buah mobil dengan mesin yang masih menyala. Kok saya tau sih? Iya, kalo kejadian ini sempat saya catet di hp. Walau dalam keadaan ngantuk dan kedinginan teteup bikin laporan dan bahan tulisan buat di blog. Tapi mah postingnya kapan tau hehe.

Lama-lama saya ngantuk, dan ketiduran deh. Sesekali bangun berharap ada keajaiban namun masih belum ada tanda-tanda. Saya pun tidur lagi, bangun lagi, tidur lagi, bangun lagi. Saya melihat ke jam di ponsel saya dan waktu mulai menunjukan jam 2 pagi. Saat saya tengok keluar mobil, sudah tinggal sedikit yang masih bertahan. Akhirnya dengan sisa-sisa tenaga dan harapan kami pun memutuskan untuk pulang. Udahan yuk, ngantuk nih!

Kami nggak kecewa atau mengeluh. Namanya juga fenomena alam yang kedatangannya nggak bisa ditebak. Mungkin belum rejeki kami melihat aurora borealis di Alaska. Padahal sebelum kami tiba di Alaska saya selalu ngecek aurora forecast dan KP Indexnya di skala 4. Tapi sayang pas kami ke Alaska KP Indexnya kecil mulu, langitnya mendung atau berawan. Lagian sayanya juga nggak kuat melek di tengah malam, pengennya tidur mulu.

Sesampainya di motel kami langsung tepar dan tertidur sampe siang. Malam yang sangat panjang dan melelahkan. Saya udah nggak begitu penasaran sama aurora karena udah pernah liat waktu di Iceland. Walau sedikit lumayanlah daripada tidak sama sekali. Oh iya, walaupun perburuan aurora kami gagal, akhirnya mereka berdua bisa melihat aurora di hari terakhir di Alaska dari dalam pesawat Alaska Airlines. Terus saya ke mana? Saya udah terbang 1 jam lebih awal dari Anchorage ke Kanada. Saya ketiduran di pesawat.

Terus barusan saya nanya lokasi tempat kami mengendap-endap kayak maling numpang parkir di kegelapan di Fairbanks. Ealah ternyata di dekat situ ada resort, Aurora Borealis Lodge. Ratenya diatas 230 dolar chynn. Kami nggak mampu menginap di lodge mahal, makanya nyari gratisan aja dengan menunggu di mobil.

Demikian cerita dari Fairbanks, semoga kamu terhibur dan termotivasi untuk kelayapan. Mari kita sebarkan racun jalan-jalan kepada generasi muda Indonesia. Khodahafez. Bijo.

20160915_191609
Cemilan jumbo (foto pas lagi di Seward)
Advertisements

5 thoughts on “Suatu Malam di Fairbanks, Alaska”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s