Traveling

Lost in New York

20170630_151920
Central Park

“Beb, besok pagi aku sampe New York, mau jemput gak?”

Itu adalah pesan yang saya kirimkan di hari terakhir saya di Kanada, tepatnya ketika saya berada di Fredericton, New Brunswick. Saya butuh kepastian secepatnya karena saya harus memutuskan mau jalan-jalan di New York dengan teman jalan atau dengan teman yang lain, ehh. 

Malamnya ketika saya menunggu bus di terminal bus Montreal saya baru mendapatkan jawaban  kalo dia akan menjemput saya ke New York. Walaupun pada kenyataannya saya yang jemput dia. Asik! Girang dong saya bakalan ada yang nemenin jalan-jalan di New York City. Eh terus teman jalan mau dikemanain? Waduh.

Jam 23.30 saya naik ke dalam bus yang akan membawa saya ke New York. Saya membeli tiket bus Greyhound jurusan Montreal – New York seharga 50an dolar. Saya kebagian naik bus Adirondack, bukan Greyhound. Perjalanan dari Montreal ke New York ditempuh dalam waktu 8 jam, lebih cepat daripada naik Megabus yang rutenya lebih panjang karena lewat Toronto (Montreal – Toronto – New York), rutenya Megabus yang ada emang begitu, itupun belinya di website Megabus yang terpisah yaitu US atau Kanada.

Sekitar jam 12 malam bus yang kami tumpangi tiba di border Amerika. Seluruh penumpang harus turun dari bus tanpa membawa seluruh barang bawaan. Kami hanya boleh membawa paspor, hp, harapan, impian, cita-cita dan doa. Saat turun dari bus kami disambut oleh 2 orang petugas Custom and Border Protection berperawakan tinggi besar dan seekor anjing seram berwarna hitam.

Saya mules tiap lewatin border, Amerika pulak yang kesannya serem dan ketat kaya yang saya liat di program Border Protection  yang ada di tv. Saya dapet antrian paling duluan dan kebagian dicek oleh petugas yang tinggi gede dengan suara sangar. Kemudian dia bertanya pertanyaan standar dan saya pun menjawabnya dengan lancar jaya. Udah gini doang? Gampang amat haha.

Saya langsung keluar dan menunggu penumpang bus yang lain kelar pemeriksaan imigrasi. Gak ada pemeriksaan bagasi. Pemeriksaan x-ray pun gak ada. Gampang banget. Kok malah ribetan waktu lewat border Georgia-Armenia-Iran.

Setelah hampir semua penumpang selesai pemeriksaan kami masuk ke dalam bus. Tapi setelah lama menunggu bus kami nggak juga jalan. What happen aya naon? Ternyata masih ada 1 keluarga muda yang nyangkut di pemeriksaan CBP. Saya menyadarinya ketika mereka masuk ke dalam bus. Sepasang suami istri berkulit hitam dan anak-anaknyanya, sang istri memakai hijab. Jangan jangan.. Hush gak boleh parno.

Sopir bus yang mengemudikan bus kami orangnya kocak. Masak ngelawak mulu di bus sampe bikin penumpang busnya ngakak. Orang yang tadinya ngantuk jadi pada ketawa. Kelar pemeriksaan di border seluruh penumpang bus pun tidur nyenyak di bus Adirondack.

Sayup-sayup terdengar suara pak pengemudi bus bahwa sesaat lagi kami akan tiba di kota New York. Saya langsung membuka mata dan melihat sinar matahari menerangi gedung-gedung tinggi. Wah New York! Saya langsung cek hp dan mendapatkan pesan bahwa abang J sedang dalam perjalanan ke New York.

Bus kami sampai di Greyhound Station New York. Saya dan teman jalan mengucapkan salam perpisahan dan ambil jalan masing-masing. Saya sebenarnya gak enak berpisah dengannya, tapi gimana yah haha. Untung kami cewek mandiri yang gak saling bergantung, jadi ya asik aja. “Ci, kita pisah di sini aku mau pacaran dulu ya.”

Ketika saya benar-benar sendiri di dalam terminal saya mulai kebingungan Banyak banget manusianya. Padaaat. Mereka semua berjalan tergesa-gesa. Saya bagaikan gadis desa yang baru datang ke kota besar. Bukan Jakarta, bukan pula Surabaya, tapi New York! Wow New York!

Saya dan bang J janjian jam 8 pagi di East Broadway. Sedangkan posisi saya di ujung sana. Saya sebenarnya udah tau bagaimana cara buat nyamperin si abang, cuma naik Metro yang rutenya udah saya screenshot di hp. Tapi entah kenapa saya ngerasa pegel banget gembol ransel, saya pun memutuskan untuk mencari loker tempat penitipan barang.

Setelah bebenah (cuci muka, sikat gigi, ganti baju), saya langsung cuzz. Waktu lagi berdiri di depan papan petunjuk informasi, you are here! tiba-tiba datanglah seorang petugas berseragam yang menanyakan apakah saya membutuhkan bantuan. Saya langsung mengiyakan dan menanyakan tempat penitipan barang. Si bapak petugas langsung memberikan informasi yang cukup jelas kepada saya. Saya pun langsung berterima kasih dan berjalan keluar terminal.

Saya berjalan mengikuti arahan si bapak petugas. Dasar sayanya yang bingungan dan tukang nyasar, saya malah gak nemu dan jalan gak jelas ke mana. Kemudian saya memutuskan untuk gak jadi nitipin ransel dan nyari stasiun metro terdekat. Saya langsung menghampiri mesin pembelian tiket dan ngotak-ngatik dengan lancar seperti udah sering pake mesinnya. Saya beli tiket sekali jalan seharga 3 dolar dan langsung naik ke dalam kereta yang lewat. Kemudian saya baru sadar kalo saya bukan naik metro rute F.

Udah tau salah bukannya langsung turun malah diem aja di metro. Aduuuh udah keluar duit 3 dolar, masak saya beli tiket lagi nanti. Ogah rugi atau dasar sayanya yang pelit ini huhh. Saya akhirnya pasrah aja di metro tanpa tujuan jelas. Ntar aja turunnya di stasiun transit dan ganti kereta. Kemudian Saya baru inget kalo ada orang yang nungguin saya. Oh iya, ada yang lagi nunggu di Chinatown.

Saya langsung kabarin kalo saya lagi di dalam metro gak tau mau ke mana. Saya lupa naik metro. Harusnya saya download peta metro dulu sebelum naik dan cari tau tujuannya. Udah tau nyasar bukannya langsung turun dan keluar cari jalan yang benar. “Bang, gue lagi nyasar nih. Udah 5 menit, seru loh”

30 menit kemudian, “Aduh gue di mana nih!?

45 menit kemudian, “Gue udah 2 kali ganti metro tetep nyasar. Gue salah naik metro, bukan F tapi malah E dan gak tau ke mana. Tadi gw gak liat kode di metronya”

20170630_085915
Salah naik metro

1 jam kemudian saya mulai kesel, “Lo sih gak jemput gue, ini kan pertama kali gw ke New York manalah gue tau rutenya huaaaa”

Kemudian saya sudah berada di metro yang benar menuju ke posisi janjian. “Gw dah sampe, terus keluarnya ke mana? Ada pintu lain gak, ntar salah lagi.”

“Udah lo keluar aja ntar ada gw di sana!”

20170630_094833
Lurus atau belok kanan?

Saya udah kecapekan dan kesal. Perjalanan dari New Brunswick ke New York itu jauh banget. Di bus saya gak nyaman tidurnya, dan ransel berasa berat. Belum apa-apa saya udah gak ada energi untuk menjelajah kota New York. Saya capek dari sejak awal saya tiba di Amerika. Perjalanan dengan menggunakan pesawat selama 2 hari, naik bus 24 jam, naik mobil (walaupun gak nyetir) seharian penuh selama 3 hari, naik bus semalaman, plus nyasar pulak.

Saya keluar stasiun metro sambil manyun karena capek. Saat lagi jalan ke pengkolan tiba-tiba datanglah seseorang berbaju putih menghampiri saya. “Neng, gimana perjalanannya?”

“Adek lelah, bang. Jadi kapan abang nikahin adek.” 😛

Alasan kenapa saya yang menghampiri dia adalah karena posisi dia yang paling dekat kalau mau ke patung liberty, tapi karena saya nyasar 1 jam lebih, waktunya udah banyak kebuang. Kemudian kami pun bertukar ransel dan semua tentengan saya dibawain dong. Bukan saya yang minta, dia yang menawarkan diri. Dia menanyakan saya mau makan apa di restoran apa. Saya bilang mau makan di warteg, kalo ada mah. Kami mampir ke restoran china dan makan dengan lahap.

Kelar makan saya ditanya mau ke mana. Saya cuma menjawab, “Mau ke Central Park aja deh.”

“Mau ngapain?”

“Mau tidur siang, badanku rontokk”

Ya ampun ke New York cuma buat tidur siang doang huahahahaha. Udah gitu doang.

Advertisements

5 thoughts on “Lost in New York”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s