Traveling

Hello Tbilisi!

20170418_181120
Tbilisi

Seharusnya sebulan yang lalu saya berangkat ke Moscow sama Winny, tapi karena kami galaw nggak jelas akhirnya memutuskan untuk membatalkan perjalanan kami. Di bulan September lalu banyak banget kejadian nggak terduga, dan saya bersyukur membatalkan trip saya ke Rusia.

Sekarang saya belum bisa cerita tentang Rusia karena belum pernah ke sana, gimana kalo cerita tentang pengalaman perjalanan saya ke Georgia aja. Georgia yang saya maksud di sini bukan negara bagian di Amerika ya. Kalau dari peta, Georgia yang mau saya certain ini terletak di bawah Rusia, di atasnya Turki, Armenia dan Azerbaijan, dan di sebelah kirinya laut hitam. Kontur alam di Georgia berupa pegunungan dengan pemandangan yang luar biasa keren!

Georgia ini adalah salah satu pecahan dari Uni Soviet. Kalo kamu bisa bahasa Rusia bisa juga digunakan untuk berkomunikasi di sini. Sayangnya saya nggak ngerti bahasa Rusia dan bahasa Georgia, jadi ya pake bahasa inggris campur bahasa tubuh aja deh.  Mata uang yang digunakan di Georgia adalah Georgian Lari. Waktu sampai ke sini saya nggak gugling apa-apa jadi nggak tau juga nama mata uangnya. Jangan ketuker sama negara tetangganya Azerbaijan mata uangnya manat, Georgia mata uangnya lari, Armenia saya lupa mata uangnya hihi.

Nggak butuh dana besar untuk liburan ke Georgia karena kursnya nggak begitu mahal kalau dibandingkan dengan eropa atau amerika. Saya bisa makan mewah di restoran beneran selama di Georgia, tapi semewah-mewahnya tetep aja nggak ada menu nasi goreng. Alokasi biaya terbesar saya selama di Georgia adalah untuk penginapan dan tour. Penginapannya juga nggak mahal-mahal banget kok.

Jadi mulai cerita ngapain aja waktu saya di sana ya, apakah kamu siap membacanya??

Saya mengunjungi Tbilisi, ibukota Georgia setelah sebelumnya mengunjungi Baku, Azerbaijan. Pesawat Azerbaijan Airlines yang saya tumpangi mendarat pukul 10 malam di Shota Rustaveli Tbilisi International Airport. Waktu tempuh dari Baku ke Tbilisi cuma sekitar 1 jam-an dengan menggunakan pesawat. Beluman juga tidur nyenyak tau-tau udah sampe aja. Kesan saya begitu sampai di Tbilisi apabila dibandingkan dengan Baku adalah, tua. Kotanya terlihat lebih kuno, berbeda dengan Baku yang kelihatan modern. Ehh saya cuma tau bandaranya doang deng, di Baku kan gak kelayapan ke banyak tempat.

Saya liburan ke Georgia seorang diri, dan di sana saya nggak siapin apa-apa, cuma booking hostel doang selama 3 malam di Emberton Tbilisi. Malam itu saya dijemput oleh seorang cowok tinggi berjenggot tipis yang saya kenal dari couchsurfing. Saya nggak numpang di rumah dia, cuma ditawarin untuk dijemput untuk diantar ke hostel doang, udah. Idiiiih nggak takut jalan sama cowok asing!?? Enggak haha!

Sesampainya di bandara saya langsung diajak beli simcard Georgia seharga, lupa, kan udah 6 bulan yang lalu ke sananya hihi. Saya nggak perlu ngomong apa-apa sama mbak penjual simcard karena udah diwakili oleh mas orang local. Percaya aja deh apa kata dia. Setelah membeli simcard kami langsung naik ke mobil dan meluncur ke jalan raya. Nggak kelihatan pemandangan kota Tbilisi di malam hari karena saat itu cuaca hujan. Karena belum makan seharian saya langsung minta anterin ke KFC untuk meli makan malam (plus sarapan buat besoknya). Kali ini saya nggak bawa rice cooker dan rasanya seperti ada yang kurang. Saya kelaparan setelah seharian cuma makan hotdog sama mie gelas doang di Baku.

Setelah membeli ayam goreng di KFC kami langsung melanjutkan perjalanan ke hostel. Sebelumnya kami mampir ke money changer (atau bank?) buat nukerin duit. Saya nukerin duitnya kebanyakan dong, kan nggak gugling, nggak tau berapa kursnya Lari. Malam itu hujan semakin deras, dan ternyata jarak dari money changer nggak jauh dengan jarak hostel yang sudah saya pesan.

“Gilak, lo kenapa nggak bilang gue aja supaya gue cariin hostel yang lebih murah!” Kata Giorgi. Katanya hostel yang saya pilih termasuk lebih mahal daripada hostel lainnya. Saya udah liat review dan lokasinya di internet dan menurut saya sih hostelnya bagus. Saya kebagian kamar campur dengan komposisi kasur sebanyak 8 buah. Malam itu yang sudah ada di dalam kamar adalah pasangan Rusia, cowok Mesir, dan 1 lagi nggak kenal.

Setelah tidur malam dengan nyenyak, keesokan harinya saya berkenalan dengan penghuni kamar saya dan penghuni kamar sebelah. Di hari pertama saya langsung jalan sama teman baru yang berasal dari Iran dan Mesir. Kagak tau dah kenapa banyak banget orang Mesir yang saya temui di sana (2 orang deng). Hari pertama saya masih ngeraba-raba dan belum tau mau ke mana. Jadi sambil mempelajari system transportasi di sana saya ngekor teman baru.

Tahukah kamu di hari pertama itu kami pergi ke mana? Yak, betul ke pasar haha. Saya sih asik-asik aja diajak naik metro, angkot (marshrutka). Sebelum naik transportasi umum kami harus beli kartu tiket terusan dulu di mesin di stasiun metro. Kalau mau bayar tunai saat naik angkot juga bisa tapi ribet nyari recehnya dan ngomongnya gimana. Yakali bisa bilang, “Bang, ongkos ke pasar baru berapa bang?”

20170415_143158
Angkot lagi ngetem di pasar

Di pasar saya sibuk liat-liat barang belanjaan yang dijajakan mulai dari pakaian, sandal, bunga, panci, setrikaan sampe kancut dan bh haha. Pasarnya sama aja kaya pasar di sini, cuma bedanya ngomongnya bahasa Rusia atau Georgia, nggak ngerti dah. Saya sih asik-asik aja diajak ke pasar, tapi dalem hati saya mikir juga, lha saya ngapain jauh-jauh ke Georgia nyangkut di pasar seharian. Si mbak-mbak Iran 2 orang pada sibuk belanja segala macem. Sementara si mas Mesir bertugas menjadi penterjemah karena dia bisa bahasa Rusia. Lha saya ngapain dong, ya liat-liat ajalah. Mau belanja? Nggak mungkin hahaha.

20170415_154038
Freedom Square

Setelah seharian belanja kami lanjut ke Freedom Square untuk poto-poto dikit dan cari makan siang yang ternyata udah kelewatan sampe jam 5 sore. Freedom Square di Tbilisi ini punya banyak nama, salah satunya Pashkevich-Erivanskaya Square). Freedom Square ini sering dijadikan tempat pemusatan public seperti perayaan atau demonstrasi. Kaya semacam bunderan HI aja sih, tapi nggak ada air mancurnya. Saat ini Freedom Square dijadikan simbol kebebasan dan kemerdekaan.

Sore itu kami mampir di sebuah restoran di depan Freedom Square. Karena kami turis, jadi kami nggak tau mau pesan apa. Si Mas dari Mesir ini udah lama ada di Tbilisi, jadi dia yang merekomendasikan kami mau makan apa. Salah satu menu yang paling populer di Georgia adalah Khinkali. Khinkhali ini sejenis dimsum yang di dalamnya berisi daging. Bisa pilih kok mau daging apa yang kita pesan, pork, lamb, beef, atau daging campur. Porsinya Khinkali ini gede banget, jadi makan 1 juga kenyang.

20170415_162350
Khinkali

Saat itu saya memesan ayam goreng (nggak ada rasanya), kentang goreng, khinkali dan air mineral dingin. Lapar mata, pesannya segitu tapi makanan yang datang banyak, sambil icip-icip pesenan mbak Iran dan mas Mesir. Duh, kok saya lupa namanya yah. Tapi tetep aja, walaupun makan di restoran beneran mulu saya ngerasa ada yang kurang. Selama 5 hari saya nggak makan nasi, akhirnya saya nyerah juga. Di hari ke-5 saya gugling mencari restoran Asia dan menemukannya di daerah Rustaveli. Biar dikata norak, kampungan dan rempong, saya lebih senang bawa travel rice cooker deh. Bukannya supaya hemat, tapi karena laparrrr.  Saya bingung kalo mau pesan makanan di negara yang tulisannya nggak ngerti bacanya.

Waktu lagi makan sore itu kami mendiskusikan jadwal kami untuk di malam harinya. Karena saya dan mbak Iran belum pernah clubbing maka kami memutuskan untuk mencobanya di Tbilisi. Iya beneran lho, saya belum pernah ke kelab, bar beneran atau sekedar ajeb-ajeb sampe pusing bhahahaha. Biarin aja dibilang kuper juga, waks! Di Iran kayaknya nggak ada tempat beginian dah. Entahlah.

Sekitar jam 7 malam kami balik ke hostel untuk istirahat, tidur dan siap-siap kelayapan lagi di malam harinya. Malamnya kami melanjutkan kelayapan ke daerah Kote Afkhazi Street, pusatnya dunia malam di Tbilisi. Di bulan April cuaca masih terasa dingin (buat saya). Cuaca di bulan April di Georgia itu beda sama di Iran yang panas nyelenet waktu saya ke sana beberapa hari kemudian. Malam itu pilihan kami jatuh kepada Egoist Club & Lounge. Untuk masuk ke sana kami harus bayar 10 lari atau sekitar 55 ribu rupiah. Saya masih norak gitu masuk ke tempat ini haha. Di sini saya cuma memesan coca cola doang dong, abis saya malu mau pesen es teh tawar haha.

Kami balik lagi ke hostel sekitar jam 2 pagi. Bukannya langsung istirahat malah pada lanjut lagi ngobrol sama tamu lain. Malam itu yang jaga hostel asik ngobrol dengan menggunakan bahasa Rusia sama si Basha (cowok Rusia lainnya). Mereka ngeluarin segala macam alkohol dari dalam lemari, saya nggak ngerti minuman apa aja. Salah satunya Georgian wine, saya nggak minum alkohol kok, jadi saya menolaknya, cuma ikutan ngobrol aja sambil ngeteh haha. Mata semakin sepet, jam 3 pun saya mulai balik ke kamar, sementara mereka masih pada asik ngobrol. Padahal keesokan harinya kami bakalan ke day trip ke luar kota.

wp-1497064328018.
Kok fotonya blur?

Udah segitu dulu cerita di Tbilisi di hari pertama. Cerita selanjutnya kapan-kapan ya kalo nggak malas hihi. Selamat bermalam minggu.

Advertisements

8 thoughts on “Hello Tbilisi!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s