Traveling

Tidur di Bandara

20160923_203506
Seatac

Tiba-tiba kepikiran pengen nulis pengalaman tidur di bandara. Belum begitu banyak sih pengalaman tidur di bandara, cuma beberapa kali aja. Tapi kalo diinget-inget lucu juga ngemper di airport yang dingin dan ramai., untuk diceritakan kepada khalayak dan anak cucu haha.

Auckland International Airport

Waktu ke Selandia untuk yang kedua kalinya saya dapet tiket pesawat pulang murah banget, tapi terbangnya harus dari Auckland. Sampai sekarang saya belum tertarik ke Auckland, saya lebih senang menghabiskan waktu di Queenstown, atau wilayah paling  selatan Selandia Baru, yang pemandangannya lebih bagus daripada pulau utara, katanya.

Saya dapet tiket Jetstar jurusan Auckland-Jakarta seharga 2,5 jutaan, tahun lalu sekitar bulan Maret. Tapi karena ada perubahan rencana, tiket kepulangan saya ubah jadwalnya, jadi ya mahal juga. Selain itu harga tiket tersebut belum termasuk bagasi, jadi ya ribet juga kudu main kucing-kucingan sama petugas check in gara-gara nggak mau bayar bagasi. Pelit sekali kamu Bijo. Bukan pelit tapi kere haha.

Selain itu, karena saya beli tiket pesawat last minute sehari sebelum keberangkatan dari Christchurch ke Rotorua, harganya ditotal ya mahal juga jatohnya dari Christchurch – Auckland – Singapore – Jakarta. Keren deh, dalam sehari saya sarapan di Auckland, makan siang di Melbourne, makan sore di Singapore dan makan malam di Tangerang haha.

Nah si pesawat Jetstar ini berangkat ke Melbourne (atau Sydney saya lupa) pada pagi hari sekitar jam 7an. Karena ini trip impulsif saya sama sekali nggak bikin itinerary atau mencari tau semua informasi mengenai Auckland atau New Zealand. Malah tadinya saya pengen ke Nelson dan udah dapet tiket bus seharga 1 dolar dari Christchurch, eh ujug-ujug malah beli tiket pesawat Air New Zealand last minute ke Rotorua, nggak jelas hahaha. Di Rotorua saya main-main ke sana ke mari sendirian, dan malamnya dapet ajakan kelayapan sama teman nemu di jalan. Karena keterbatasan waktu keesokan harinya saya memutuskan untuk beli tiket bus ke Auckland.

Waktu di bus  saya keasikan menikmati perjalanan dari Rotorua ke Auckland, duduk sendirian, sambil liatin pemandangan dan liatin hp, beberapa kali tertidur nyenyaaaak sekali. Saya udah kecapekan nyetir di New Zealand, pake drama ditilang dan bayar denda 150 dolar. Pas naik bus berasa nikmaaat banget, wi-finya kenceng pulak. Kemudian, tiba-tiba perasaan saya nggak enak. Seharusnya saya turun di mana gitu, tapi saya malah turun di halte pemberhentian akhir di Auckland. Saya kan nggak tau Auckland, nggak googling, nggak punya wi-fi dan panic ketika menyadari saya turun di halte yang salah. Harusnya saya turun 30 menit atau 1 jam yang lalu bhahahha.

Saya langsung mikir pengen nyari penginapan atau langsung ke bandara. Kalo saya nyari penginapan, bisa-bisa keesokan harinya saya bangun kesiangan dan ketinggalan pesawat ke bandara. Akhirnya saya memutuskan untuk nyari bus ke bandara dan bermalam di bandara. Pas lagi mikir, di depan saya ada skybuss Auckland Airport. Saya langsung nanya-nanya sama pak Sopir yang rambutnya sudah putih semua, “Misi pak, ini bus ke bandara bukan ya?” (Padahal udah jelas ada tulisan Auckland Airport di busnya, masih aja nanya wkwkwk)

“Iya”

 “Ongkosnya berapa pak?”

“Udah duduk aja!”

“Berapa, Pak?”

“Udah duduk aja!” dengan tampang jutek

Saya bingung mau kan mau bayar malah nggak dibolehin bayar, dan disuruh duduk. Aduuuuh jadi enak. Sepertinya dia iba melihat seorang cewek nyasar sendirian di Auckland jam 10 malam, makanya nggak dibolehin bayar. Bapaknya tau aja kalo saya nggak punya uang hehe. Saya nggak tau bisa beli tiket Skybuss cash atau melalui website aja. Soalnya waktu di Melbourne saya belinya online pake kartu kredit melalui website. Dan tiket-tiket bus lainnya di New Zealand juga saya beli online.

Sesampainya di Auckland International Airport, saya kembali bingung melihat bandara yang baru saya datangi ini. Saya  nggak keliling nyari tempat enak buat ngemper, saya cuma nemu tempat duduk di depan counter check in Jetstar, dan tidur-tiduran di bangku panjang di sana bersama dengan traveler homeless lainnya haha. Saat itu saya cuma sibuk memandangi jam berharap waktu cepat berlalu. Nggak enak banget tidur di sini, dinginnya nggak ketulungan dan wi-fi gratisannya dibatasi cuma selama 30 menit saja, pelittt.

Seattle Tacoma International Airport

20160923_203542
Seatac

 

Pengalaman kedua dan ketiga saya menginap di bandara adalah tahun lalu ketika liburan ke Alaska. Alaska, woooooow! Mainnya ke Alaska, tapi ngegembel haha. Saya ke Alaska melalui Seattle. Saya terbang dengan menggunakan pesawat Eva Air dari Jakarta transit di Taipei dan tiba di Seattle. Pesawat saya tiba sekitar jam 8 malam di Seattle Tacoma International Airport. Tadinya saya pengen langsung beli tiket Alaska Air yang berangkat paling malam dari Seattle dan tiba dini hari di Anchorage. Tapiiiiii karena saya pengen liatin pemandangan Alaska dari atas pesawat di pagi hari, dan kuatir kalo pesawat saya ke Seattle mengalami keterlambatan, maka saya memutuskan untuk berangkat keesokan harinya.

Saya butuh waktu lama untuk memutuskan, apakah pengen ke kota dan nginep di hostel atau nginep di bandara aja. Karena keterbatasan biaya dan biaya, maka saya memutuskan untuk nginep di bandara saja. Setelah perjalanan selama seharian penuh, seharusnya yang saya butuhkan adalah pelukan kasur yang hangat, makan malam yang nikmat, bukan gegoleran ngemper  di bandara yang dingin.

Untungnya di bandara Seattle Tacoma ini saya nemuin tempat yang sangat nyaman untuk bermalam. Di manakah itu? Di belakang counter check in Southwest. Di sini lantainya dilapisi karpet, terdapat meja dan kursi, serta colokan untuk mencharger laptop dan hp. Sayangnya tempat jualan makanan udah tutup, saya kelaparan setengah mati dan harus menunggu sampai pagi haru supaya bisa makan.

Kebiasaan kalo kelamaan di perjalanan atau di pesawat saya ngerasain mules yang tertunda. Untungnya di lantai bawah ada toilet lengkap dan tempat pengisian air minum, dua-duanya gratis hehe. Saya meninggalkan koper dan tas di bangku dan langsung bolak-balik ke toilet. Alhamdulillah koper beserta isinya nggak ilang. Padahal saya nggak nitipin ke siapa-siapa.

Kemudian kali ke-3 nginep di bandara adalah ketika kembali dari perjalanan dari Alaska. Saat itu saya terbang dari Anchorage ke Calgary, transit di Seattle Tacoma Airport lagi. Kali ini tidurnya nggak sepanjang malam banget sih, cuma sepertiga malam sampai jam 10 siang. Kali ini saya ngemper di bandaranya setelah security checkpoint, jadi banyak pilihan mau ngemper di gate yang mana. Saya memilih tidur di bangku panjang di depan kafe, ketutupan sama punggung bangku di depan saya jadi nggak keliatan. DI bagian belakang saya udah jendela dan pesawat yang lagi di parkir. Saya tidur lumayan nyenyak dari Subuh sampe jam 9an. Sekitar jam 10an saya langsung ke gate di mana pesawat Alaska Airlines tipe yang lebih kecil menunggu saya. Kanada, saya datang!

Kuala Lumpur International Airport

Biasanya kalo mau ke luar negeri saya berangkatnya melalui Kuala Lumpur. Kenapa? Karena tiket ke mana saja lebih murah apabila berangkat dari Kuala Lumpur. Selisih harganya lumayan banget bisa buat beli bakso. Cuma ya itu, lebih capek kalo berangkat dari Kuala Lumpur, kan gonta-ganti pesawatnya banyak sampai tiba ke negara tujuan. Waktu ke Washington DC saya kecapekan karena kelamaan di jalan, Cengkareng – Kuala Lumpur – Doha – Washington DC.

Saya belum pernah benar-benar menghabiskan waktu semalaman di KLIA1. Biasanya pesawat saya ke Amerika atau Eropa berangkatnya sekitar jam 2 pagi. Jadi saya kelayapan nggak jelas dulu ke KLIA2, nongkrong di foodcourt, ngecharge hp, minum-minum, makan-makan atau window shopping sampe bosen, baru kemudian ke KLIA untuk check in.

Biasanya saya baru bisa check in sekitar jam 11 malam. Kalo udah check in baru deh bisa masuk melewati security checkpoint dan nyari tempat duduk pw di dekat gate. Di KLIA ada tempat duduk empuk di lantai atas, di dekat surau. Saya lupa-lupa inget sih, udah lama banget ke sini. Terakhir ke KLIA bulan Juni lalu saya langsung masup ke gate, nggak leyeh-leyeh di sini dulu.

Tips Tidur di Bandara

Tidur di bandara itu membutuhkan banyak persiapan, salah satunya persiapan fisik. Kalo kamu udah bener-bener capek, berasa kaya pengen sakit, sebaiknya jangan tidur di bandara. Kenapa? Karena bandara itu dingin! Awas nanti bisa masuk angin lho, kalo kelayapannya sama teman sih nggak apa-apa ada yang bisa dimintain tolong pijitin dan ngerikin, lha kalo sendirian, terus sakit di negara orang, panjang ceritanya. Saya ada sedikit tips ini kalo mau tidur di bandara. Selalu siapkan beberapa barang penting kalau mau tidur di bandara seperti :

1  Kaos kaki, disarankan kaos kaki wool yang hangat kayak yang saya beli di Korea dulu

2 Selimut atau kain bali

3 Pakai  jaket tebal

4 Pasang alarm di hp (saya nggak pernah pasang alarm sih)

5 Selalu jaga barang bawaan kamu seperti koper atau ransel

6 Kekep barang berharga seperti paspor, dompet atau pacarmu

7  Selalu cek gate keberangkatan melalui layar pengumuman atau layar hp (cek melalui website bandaranya), soalnya bisa berubah tanpa diduga

8 Jangan keasikan tidur, inget tujuanmu ke sana bukan untuk bermalam ke bandara tapi untuk petualangan yang lebih seru yang menunggumu di luar sana

9 Nggak perlu mengeluarkan tenda kamu untuk bermalam di bandara.

Advertisements

18 thoughts on “Tidur di Bandara”

  1. Terakhir aku tidur ngemper di Changi. Tapi kalau yang di KLIA2, cape banget dr NZ, pul Jakarta harus nge-WO lsg besoknya.. AKhirnya mutusin nginep di Capsule Container deh. Tidur yang proper haha..

      1. KLIA 2 diluar imigrasi sih.. yang deket sama tempat jual tiket bus di lantai dasar.. Mayan sih menurut aku.. Waktu itu karena nyampe malam terus brangkat lagi pagi jam 7, ya udah deh drpd tewas ya.. hahaha

  2. terakhir aku ngemper di base camp balai desa di wonosobo yang dinginnya bikin tulang linu2 semua, mana di lantai keramik, padahal sudah pakai jaket tebal plus sleeping bag, eh ini bukan pengalaman nginep di bandara ding tapi di base camp sebelum naik gunung hahaha

  3. Keren! Dalam sehari bisa ada di 3 negara, hahaha.

    Aku belom pernah punya penerbangan jauh, jadi sejauh ini cuma pernah tidur 3 kali di KLIA2 dan 1 kali di KLIA1. Paling enak itu di KLIA1, ada kursi-kursi empuk 270 derajat di depan boarding room. Bangku-bangku panjang yang dulu biasa dipake buat tidur di KLIA2 udah nggak ada sekarang.

    Next time, kayaknya aku nggak akan tidur di bandara lagi, hahaha. Capeknya itu bisa bikin mood turun sampai nggak mau ngapa-ngapain setelah tiba di kota tujuan selain tidur seharian. Kalaupun harus tidur, aku bekel bantal sama sleeping bag deh. Oh ya, pas di KLIA1 aku kedinginan banget. Kenapa? Karena jaketku satu-satunya yang dibawa hilang di Myanmar!

  4. Dulu wkt masih muda pernah ngalamin gara2 irit pakai budget airlines. Yg brgktnya atau sampainya tengah malem atau dini hari. Trus ga mau rugi bayar penginapan utk numpang tidur bbrp jam doang. Pernah di Reus airport yg sepi bgt. Pernah semaleman terpaksa tidur di lantai yg dingin dan keras rame2 di Treviso airport karena semua penerbangan sejak sore delay br bs brgkt besoknya gara2 kabut tebal. Trus yg paling bikin badan pegel linu tidur di bangku di Maastricht airport. Tidur di bandara ga recommended utk usia di atas 30 thn dehh..

  5. Cape ya tidur ngemper di bandara itu.. Pernah sekali ngemper di bandara Abu Dhabi, UAE.. Setelah itu kalo perlu nginep atau transit lama ya di hotel bandara aja.. Faktor ketahanan fisik gak bisa bohong.. Jadi terinspirasi buat nulis pengalaman transit di bandara..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s