My Story

Paling Benar

Akhir-akhir ini saya malas liat sosial media yang isinya perang komentar antara sesama netijen. Saya malas kalo udah ngebahas soal agama, kafir, aurat, gaya hidup, mengkapir-kapirkan dan bla bla bla. Yang komentar merasa paling benar sehingga berhak mencaci maki secara keterlaluan orang yang dianggapnya tidak benar.

Saya bukan orang relijius tapi saya juga bukan orang yang gak punya agama. Urusan agama, biarlah menjadi urusan individu dengan tuhannya. Kalian gak perlu tau kalo saya sholat 5 waktu, puasa, bayar zakat atau enggak. Walaupun saya gak berhijab, dan sering disangka bukan beragama islam, saya ibadah kok.. Gak perlu diceritain kan ya harusnya. Karena kalo cerita ibadah apa saja yang sudah saya lakukan jatohnya riya. Tuh kan malah cerita. Aaaak!

Saya ingat ketika saya les di Brisbane. Teman-teman sekelas terdiri dari orang-orang dari berbagai kewarganegaraan. Meskipun latar belakang kami berbeda, kami akur-akur aja main di kelas. Ada satu momen yang bikin saya ngerasa gak nyaman. Ketika teman dari Arab menanyakan agama teman yang dari Taiwan. Mereka bukan anak kecil lagi, usianya antara 20-30 tahun.

Nah, si teman Arab menanyakan agama si teman Taiwan. Kemudian si teman Taiwan jawab dia nggak punya agama, alias atheis. Menurut si teman Arab, agama dia paling benar, dan si teman Taiwan itu salah besar. Kemudian mereka berdebat sampai si teman Taiwan nangis karena sakit hati. Teman Arab ini orangnya emang agak kasar, dan si teman Taiwan terlalu lembut. Mereka berdua cowok. Lha saya kan jadi sedih. Nggak perlu sampe keras begitu kali.

Kita tinggal di negara yang penuh dengan keberagaman. Kita yang sesama orang Indonesia aja udah pasti beda, apalagi sama orang dari luar Indonesia. Inget gak di pelajaran PMP atau PPKN jaman sekolah dulu!? Toleransi itu penting sodara-sodara!

Saya mengenal banyak teman dari luar yang memilih menjadi atheis. Tapi ya udah, itu bukan urusan saya. Selama kami temenan baik ya gak masalah. Teman-teman akrab saya di kantor juga kebanyakan yang berbeda agama dengan saya. Dan saya pun gak masalah. Teman traveling juga memiliki agama yang berbeda dengan saya, yawdah. That’s not my cup of tea, bro!

Saya malu kalo ngajak anak-anak (bukan anak saya) ke keramaian dan nyeletuk dengan keras, “Ma, dia kristen ya?” “Ma, dia cina ya?” Hussh, nggak boleh bilang begitu, dia sama kaya kita, dia manusia, dan dia orang Indonesia. Huaa kamu gak sopan nak, bilang begono! Anak kecil pan kagak ngerti, makanya kudu dibilangin. Yang penting mah tetep ajarin si bocah pendidikan agama dan cara untuk menghargai perbedaan. Mana anak saya!? Haha!

Sebagai sesama manusia, kita gak perlu menghakimi pilihan orang lain, atau nyinyir karena berbeda keyakinan. Jalanilah apa yang menurutmu sudah menjadi kewajibanmu terhadap Tuhanmu dan sesama manusia. Kita nggak tahu apakah surga dipenuhi oleh pendosa yang bertaubat, dan neraka dipenuhi oleh orang alim yang munafik. Karena, surga belum tentu milikmu, neraka belum tentu milikku. Karena bagiku agamaku, bagimu agamamu.

Tumben postingannya serius 😀

Advertisements

11 thoughts on “Paling Benar”

  1. Aku iyess deh dengan tulisan ini…
    Tapi di dunia maya memang gitu kok sist… Ya namanya juga maya kali yak? Ndak ketemu langsung. Jadinya ngumbar kata seenake dhewek…
    Hadeuhh…

    BTW, salam kenal 🙂

  2. Tadi kebacanya perang antar intelejen bukan netizen.Hampir berseru wah kok tau? Keren..wkwk…

    Hmm. Selama tinggal di Barat kupaham karena budayanya sama2 cuek sementara kita we culture, tapi itu kalau nggak kenal betul
    Kalau sudah lama kdg berkonflik kecil juga (org kalau sdh lama bersama kan gitu ketauan sifat dan opini2nya). Ada yang terganggu dengan kebiasaan masing2 pihak. Besar kemungkinan kawan Bijo yang merasa benar itu(nebak2 hehe) tidak merasa aman, alami culture shock shg dia harus menjelaskan posisinya. Apalagi dari negara yang konservatif. Pernah punya kenalan yang bertindak serupa disana. Jadinya kayak aneh sendiri, menurutku. Niat mengingatkan itu mgk baik cuma caranya krg mempertimbangkan bnyk hal, terlihat bercampur dgn emosi, shock, dan ketakutan pribadi. Sama seperti yg terjadi sekarang ini….semua reaksi berlebihan sekarang yang terjadi kadang bukan karena selalu merasa benar saja tapi efek kekhawatiran dan ketakutan atas masalah2 sosial skrg…di dunia nyata masih banyak yg adem untungnya 😊

  3. Aku sudah 2 tahun ga main FB, akun ku non aktifkan. Dulu waktu masih aktif sempat bbrp kali ikutan komen sara gitu (ga nahan memendam haha), pdhl pas kuliah kita temanan baik, ga nyangka di sosmed kita bisa lihat sisi lain seseorang (kefanatikan) 😀 langusng ku unfollow bbrp org ini .

  4. Heran deh lihat fenomena di medsos yg begitu riuh pecah mencaci maki orang lain, debat panas soal agama, dan berita hoax. Lebih memilih meninggalkannya. Dan hidup tenang dlm interaksi sosial manusia pada umumnya. Akidah itu letaknya di dapur, akhlak itu diteras. Jangan bawa bawa akidah ke teras rumah, teruslah berbuat baik bagi sesama. Orang liat apa yg kita perbuat kok. 😊

  5. udah lelah menghadapi yg kayak gitu, kalo yg di socmed udah aku unfriend dan unfollow semua…yang di kehidupan nyata ini aku lagi berusaha vokal ke org2 bahwa agama itu urusan personal, gak perlu diperdebatkan…ya meskipun aku jadi dicap macem2 tapi yaudahlah paling gak mereka tau kalo mau ngomongin masalah agama berarti bukan sama aku. Btw aku salfok sama lokasi nulisnya ihihihi di Qatar

  6. Menurutku sampai masa setelah orde baru Indonesia sekuler sekali. Pasca reformasi baru deh terasa banget bedanya. Toleransi perlu dan bagus sekali. Memantapkan hati dengan keyakinan (agama sendiri) atau gak punya agama sekalipun buatku yang penting gak memberi pengaruh buruk ke diri sendiri.

  7. Waaa Qatar.. 😎😎
    eh salfok..
    Yessss, couldn’t agree more.. krn itu aku lbh enjoy baca di Twitter (banyakan yg ngga kenal) drpd baca di fb (yg notabene banyakan keluarga dan teman) – awkward rasanya..

  8. Merasakan hal yang sama.

    Tadinya saya suka baca Tweet2 yang *sepertinya* tentang agama, tapi kemudian merasa kalau itu sebenarnya ya tentang politik dan merasa orang lain itu lebih rendah dari diri sendiri (kok mirip iblis yang merasa lebih hebat dari manusia ya…)

    Alhamdulillah, skarang udah enggak. Saya udah puasa politik *bertopeng agama* di media sosial, cetak, atawa elektronik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s