Traveling

Girls Trip to Vietnam

20180324_091326799812077.jpg
Fishing Village

“Kak Bijo, aku udah beli tiket ke Vietnam!” Kata Winny. Saya sih cuek aja pas dikabarin kalo dia udah beli tiket ke Vietnam. Abisnya saya antara pengen nggak kepengen banget ke Vietnam. Tapi yen tak pikir-pikir, kapan lagi saya bisa jalan sama dia, masak ke Blok M mulu jalan barengnya. Yoweslah saya juga mau ikut ke Vietnam.

Saya langsung nyari tiket Jakarta – Ho Chi Minh melalu website air asia, namun karena harganya makin lama makin mahal. Saya cobalah penukaran big point Air Asia dari Kuala Lumpur ke Ho Chi Minh pp, tapi transaksi saya gagal terus setelah mencoba dari pagi sampai tengah malam. Akhirnya saya cari alternatif lain melalui skyscanner dan saya mendapatkan tiket flyscoot seharga Rp 1.752.000 pergi pulang, transit di Singapore. Dan akhirnya saya, Winny, Ana dan Tama sukses issued tiket ke Ho Chi Minh yay!

Seminggu menjelang hari h, Tama ngabarin kalo dia nggak jadi berangkat. 1 hari sebelum hari h, winny pun mulai menunjukkan tanda-tanda keraguan, cutinya belum disetujui atasan. Tinggallah saya dan Ana yang udah pasti bakalan berangkat ke HCM. Menjelang keberangkatan akhirnya Winny ngabarin kalo dia bisa berangkat, tapi… kudu bawa laptop buat ngerjain kerjaan. Mana enak kelayapan sambil kerja, daripada nggak jadi berangkat kaaan.

Hari Kamis sebelum berangkat ke erpot badan saya anget, naga-naganya mau sakit karena kecapekan kerja lembur terus. Tapi the show must goes on. Akhirnya saya sehat lagi pas mau berangkat ke erpot. Dan pas pulang dari Vietnam saya sakit dong. Sakitnya bisa ditangguhkan gitu haha.

Sebelum berangkat saya nukerin duit ke money changer di ITC Kuningan sebanyak 1,5 juta won, eh dong, atau setara dengan Rp 1.020.000 plus nukerin 200 dolar Singapore atau Rp 209.700 buat jajan di bandara Changi. Jadi modal yang saya keluarin buat berangkat ke Vietnam itu sebesar Rp 1.229.700,-

Ini termasuk rekor jalan-jalan murah versi saya, maklum biasanya kelayapannya ke Amerika mulu pan hihi, dan saya bahagia bisa traveling murce. Total pengeluaran saya buat ke Vietnam cuma ngabisin Rp 1.752.000 + Rp 1.020.000 + Rp 104.850 + US$ 10, jadi berapa tuh saya males ngitung.

Malam pertama di Ho Chi Minh kami habiskan dengan jalan-jalan di sekitaran Pham Ngu Lao untuk nyari makan malam. Pham Ngu Lao berada di distrik 1 dan dikenal sebagai pusat backpackernya Vietnam. Di Pham Ngu Lao ini banyak terdapat restoran, kafe, sepa, tempat pijit reflexi, pub, diskotik, bar, restoran halal juga ada tapi sedikit. Hotel dan hostel juga bejibun di Pham Ngu Lao. Di sini saya nginep di Pioneer Hotel yang lokasinya ada di salah satu gang sempit di Pham Ngu Lao. Kami bayar hotel di malam pertama sebesar 18 dolar, jadi masing-masing cuma bayar 6 dolar doang, kemudian dikonversi ke dong yang saya lupa berapa jumlahnya.

Waktu jalan-jalan di Pham Ngu Lao saya liat cewek bule yang lari ngejar motor sambil teriak. Sepertinya dia abis kecopetan malam itu. Kalo kelayapan ke keramaian seperti ini sebaiknya kita selalu jaga hati, jaga dompet dan jaga barang bawaan. Nggak mau kan kecopetan dan keabisan uang pas lagi kelayapan ke luar negeri. Saya kasian sama mbaknya, tapi ya gimana mau nolongnya.

Kami jalan nggak jelas di Pham Ngu Lao nyari makan malam, sampai akhirnya berhenti di restoran halal India. Saya udah layu duluan pas mau milih menunya. Saya nggak suka makanan India kan. Buat ganjel perut sementara kami makan nasi dan ayam tandoori. Tadinya kelar makan kami mau pijit-pijit, tapi kami malah nyasar jalan kaki menjauhi penginapan. Batal dah pijit-pijitnya. Waktu udah mau sampe hotel saya memutuskan untuk makan malam lagi, kali ini saya makan Pho ayam di cafe and bar di depan hotel. Porsinya segede gaban huahahaha. Saya lapaaaar.

Kami baru mulai tidur hampir jam 12 malam. Saya nggak bisa tidur karena berisik suara ajep-ajep di kejauhan. Padahal lokasi hotel kami nggak begitu dekat sama tempat ajeb-ajeb. Paginya badan saya ngerasa nggak enak dan kepala agak pusing karena tidurnya nggak nyenyak. Di hari pertama ini rencananya kami akan ikut tour ke Cu Chi Tunnels. Berhubung kami bangunnya kesiangan kami baru bisa ikut tour yang jam 1 siang. Jadi paginya masih sempat jalan-jalan ke Ben Thanh Market dan Notre-Damme Cathedral Basilica of Saigon. Di Ben Thanh Market kami sarapan dan belanja buah-buahan buat bekal di jalan. Jauh-jauh ke Vietnam belinya jambu air. Harganya lebih murah daripada di Tangerang, beda 10 rebu gitu. Di Vietnam duit kami kebanyakan abis buat jajan di pinggir jalan.

Cuaca di Ho Chi Minh ini puanasnya sama kaya di Jakarta. Saya kelayapan cuma pake kaos dan celana pendek saking nggak tahan gerahnya. Waktu lagi jalan ke notredame kami sempet papasan sama abang tukang kelapa keliling. Kami diajak nyebrang bareng. Terus tiba-tiba Winny ngeluarin kameranya dengan maksuud mau foto museum, eh si abangnya malah senyum-senyum. Jadilah kami foto-foto dulu sama abang tukang kelapa. Lagipula kami juga kehausan setelah jalan berkilo-kilometer. Kami malah jajan kelapa muda sambil duduk-duduk di taman dalam perjalanan menuju Notre-damme.

Notre-Damme Cathedral Basilica atau bahasa vietnamnya Vương cung thánh đường Đức Bà Sài Gòn atau Nhà thờ Đức Bà Sài Gòn ini dibangun kolonialis Perancis antara tahun 1863 dan 1880. Kesan pertama saya saat melihat katedral ini adalah nuansanya seperti sedang berada di Eropa, nggak kaya lagi di Vietnam. Saya sempat membuat teman-teman nyasar karena salah baca peta waktu mau ke katedral ini, bukannya mendekati malah menjauhi hihi *dijitak Winny dan Ana

Pulang dari katedral kami memutuskan untuk naik taksi balik ke Pioneer hotel untuk ikut tur ke Cu Chi Tunnel. Kami dijemput dari hotel jam 1 siang untuk berangkat ke Cu Chi Tunnel. Di dalam mobil sejenis elf, hanya ada kami bertiga, 1 turis dari Vietnam, 1 pemandu dan 1 orang sopir. Kami kira kami cuma berangkat berenam doang, makanya kami duduk pisah-pisah. Ternyata mobil yang kami tumpangi menjemput beberapa penumpang lainnya. 2 pasang turis dari Inggris, sepasang turis dari India dan 1 keluarga India lainnya dengan 2 anak kecil.

Pemandu kami saat itu bernama Son, kalo ngomong suaranya melengking kaya kucing kejepit. Suaranya itulah yang ciri khasnya. Bahasa inggrisnya bagus, tapi aksennya sulit saya mengerti. Perjalanan dari hotel ke Cu Chi Tunnel ditempuh dalam waktu 2 jam. Kami membayar biaya tur sebesar 200 ribu dong untuk half day trip. Di mobil sepanjang perjalanan saya sibuk makan ayam goreng kfc, sementara Ana nguping pembicaraan pasangan dari Inggris, sedangkan Winny asik tidur nyenyak di bangku belakang sebelum akhirnya disuruh pindah duduk sama kami, saat turis lain dijemput..

Berhubung nggak ada yang ngerti bahasa Indonesia, selain makan dan tidur, kerjaan kami di mobil adalah ngomongin orang -orang di mobil. Winny paling sewot sama pasangan India nyentrik yang penampilannya total buat foto-foto. Sementara Ana sibuk ngomongin pasangan bule Inggris di depan kami. “Kira-kira, mereka pasangan menikah atau selingkuhan atau teman nemu di jalan yak? Mereka udah pake cincin kawin” Bhahaha

Sesampainya di Cu Chi kami masing-masing diberikan tiket masuk ke Cu Chi Tunnels dan berjalan mengikuti Son dengan tertib. Kami sampai di pemberhentian pertama, yaitu di depan papan kayu bergambar peta, dilengkapi dengan gambar terowongan. Son mulai menjelaskan keterangan pada gambar, kemudian pasangan India nyentrik malah sibuk foto-foto. Sedih saya kalo ada orang yang ngomong tapi dicuekin.

Kemudian kami beralih ke lokasi selanjutnya yaitu sebuah tanah beralaskan dedaunan kering, dari dalam tanah itu terdapat lubang. Beberapa dari kami bergantian masuk ke dalam lubang untuk berfoto. Pasangan India sudah pasti menjadi kandidat pertama yang masuk ke lubang dong. Saya ikutan nyobain masuk, dan kesusahan untuk naik ke atasnya lagi.

Son menjelaskan kalo Cu Chi Tunnel ini menyimpan sejarah kelam bagi orang Vietnam. Mereka perang dengan pealatan seadanya. Kami ditunjukan tiruan senjata berupa jebakan semacam  bambu runcing yang ditanam di dalam tanah. Sementara pasukan lawan menggunakan senjata yang lebih modern.

Petualangan kami di Cu Chi berakhir sekitar jam 5 sore. Di akhir tur kami disajikan cemilan dan teh di area Cu Chi sambil duduk di bangku panjang. Cemilannya itu berupa singkong rebus, coba ada pisang goreng pasti lebih kenyang. Makanan di Vietnam nggak jauh beda sama di Indonesia.

Saat dalam perjalanan kembali ke Ho Chi Minh kami semua udah kecapekan di dalam mobil. Untuk mencairkan suasana, Son memberikan hiburan berupa sebuah nyanyian Vietnam yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Karena suaranya yang unik, para peserta tur pada nahan ketawa. Waktu Son nyanyi, Winny langsung menundukkan kepala dan nahan ketawa geli. Sementara saya, untuk menghargai usaha Son memutuskan untuk nggak ketawa, ketawanya dalam hati aja. Sementara si pasangan bule Inggris yang duduk di depan kami, juga nahan ketawa geli gitu. Kocak dah si Son ini. Si Winnya dong nyanyi lagu Kuch Kuch Hotahai sama rombongan India haha. Jam 7 malam kami sampai di Ho Chi Minh dan bubar jalan sama rombongan tur.

Jam 9 malam kami kembali ke Pioneer Hotel untuk istirahat sejenak di lobi yang berukuran kecil. Kami masing-masing ganti baju dan mandi diem-diem di kamar mandi di deket lobi. Malam itu kami akan melanjutkan perjalanan dari Ho Chi Minh ke Mui Ne dengan menggunakan sleeper bus. Jarak dari Ho Chi Minh ke Mui Ne adalah 215 kilometer dan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 4-5 jam. Kami beli tiket Open Bus melalui mbak-mbak resepsionis di Pioneer Hotel seharga 130.000 dong. Kalo mau beli tiket lebih murah, langsung beli ke agennya langsung yang ada di Pham Ngu Lao, harga tiketnya 110.000 dong saja, lebih hemat 20.000 dong lumayan bisa buat jajan.

Jam setengah sebelas malam kami dijemput untuk naik bus. Saya kebagian bangku di bagian atas, sementara Winny di bagian atas juga di sebelah saya, sedangkan Ana duduk di belakang sama ABG tanggung. Eh bukan duduk ya, tapi tidur. Naik sleeper bus di malam hari itu enak, bisa selonjoran, rebahan panjangin kaki dan punggung sambil kemulan. Saya udah siapin kaos kaki wool, jaket dan kain bali buat tidur. Di bus dikasihin selimut anget juga sih, tapi kan bekas orang. Karena kami udah kelelahan kami berdua tertidur lelap di sleeper bus, Ana? Dia malah internetan dan di bangku belakang sama ABG tanggung haha.

Waktu lagi nyenyaknya tidur, saya dicolek abang kenek bus. “Mbak, mbak, udah sampe!” Saya mau nggak mau harus bangun dan turun dari bus. Seharusnya kan sampenya 5 jam, tapi ini cuma 4 jam doang udah sampe. Saya masih ngantuuuuuk. Kami diturunkan di sebuah bangunan berisi banyak meja dan bangku yang merupakan pul bus antar kota antar propinsi. Di sana udah ada sepasang orang entah Cina atau Jepang berkewarganegaraan Kanada. Kami sempat ngobrol sebentar. Sambil nunggu pagi kami melanjutkan tidur di bangku.

Dodolnya kami ke sini tanpa persiapan sama sekali. Dari sini kami bingung bijimana cara untuk bisa sampai ke padang pasir. Kami belum booking tour Jeep dari internet. Jadilah pagi hari itu kami mondar-mandir nggak jelas di pinggir jalan haha. Kami nanya cowok Rusia yang begadang di agen bus tapi mereka tidak bisa membantu. Dengan cueknya Winny langsung bangunin abang-abang yang lagi tidur di bale untuk menanyakan gimana cara supaya bisa sampai ke Mui Ne. Saya dan Ana saling berpandangan melihat Winny yang lagi bangunin orang. Gilaaaak, ini bocah berani bangeeeet bhahahaha. Berkat Winny kami bisa ke Mui Ne.

Si abang-abang yang lagi tidur pulas langsung bete gitu pas dibangunin sama Winnya. Untungnya dia langsung membantu kami dan menelepon salah seorang temannya yang bisa nganterin kami ke padang pasir. Saat itu sudah jam 6 pagi. Matahari sudah muncul dengan manisnya. Kami bertiga duduk di depan meja, di hadapan si abang sambil transaksi untuk pemesanan Jeep beserta sopirnya, dan kami juga langsung memesan tiket bus untuk pulang ke Ho Chi Minh siang harinya. Kami bertiga membayar sebesar 500 atau 550  ribu dong untuk jeep. Kami juga bayar masing-masing 110.000 dong untuk pesan tiket bus pulang. Winny udah keabisan duit dan langsung nukerin sisa-sisa euro dan dolar ke si abang.

Jam 7 pagi kami dijemput sebuah jeep hijau dan abang sopir yang manis. Tidak ada percakapan diantara kami ber-4. Kami langsung naik jeep dan cus ke gurun. Ada 4 tempat yang akan kami datangi pagi itu yaitu padang pasir putih, padang pasir merah, Fishing Village dan terakhir Stream apa lupa namanya. Ternyata eh ternyata jarak dari pul bus ke padang pasir putih jauh benerr. Berhubung hari masih pagi, cuaca masih bersahabat, maksudnya ademm. Kami tiba di pemberhentian pertama di White San Dunes. Kami bertiga langsung jalan ke padang pasir tanpa alas kaki. Kirain mah si jeep ikutan nganterin ke puncak gurun, nggak taunya Cuma sampe tempat parkir doang. Berhubung kami kere, kami nggak nyewa jeep lagi untuk ke atas. Masih punya kaki kan, jalan kaki ajahhh!

20180324_073103352554259.jpg
Padang Pasir Putih Mui Ne

Ini adalah pengalaman pertama saya menginjakan kaki di lautan pasir selain di Bromo. Butiran pasir halus yang tidak lengket meninggalkan jejak langkah kami. Ternyata main di gurun menyenangkan, kalo pas lagi nggak panas. Tapi tetep ya saya lebih cinta glacier atau es hihi. Kami bertiga sibuk poto-poto dan mainan pasir tanpa menghiraukan jeep yang lewat di dekat kami. Waktu lagi asik main pasir ada yang kebelet pipis dong. Lagian nggak pipis dulu di pul bus. Yang kebelet pipis bukannya nyari semak-semak di ujung sana, malah dengan cueknya pipis di padang pasir terbuka bahahahaha. Eits bukan saya yang kebelet pipis yah.

Setelah puas main-main di pasir putih, kami kembali ke parkiran untuk melanjutkan perjalanan ke lokasi selanjutnya yaitu Red Sand Dunes. Berhubung cuaca udah mulai terik alias puanas pake banget, saya dan Ana memutuskan untuk nongkrong di warung sambil makan es krim dan semangka. Sementara Winny tetep jalan ke gurun sendirian. Dia kan seneng padang pasir hehe.

Setelah kenyang makan es krim di warung di dekat Padang Pasir Merah, kami melanjutkan perjalanan ke Fishing Village. Waktu liat ke arah laut banyak sekali terdapat perahu nelayan. Saya ngiler liat dagangan ikan segar, lobster, kepiting di pinggir jalan. Pengen beli tapi apa daya  nggak mampu beli. DI Fishing Village kami mampir ke restoran untuk brunch. Kami pesan nasi goreng dan ikan goreng untuk sarapan sekaligus makan siang. Porsinya segambreng sampe nggak abis.

20180324_0916501187013740.jpg
Fishing Village

Selesai main di Fishing Village, kami main ke Stream something (saya lupa namanya). Seperti biasa, saya dan Ana cuma duduk-duduk di warung sambil nungguin Winny yang kelayapan sendirian. Saya nggak tahan panasnya doang. Awal ke sini kami pikir nggak ada yang istimewa dengan tempat ini. Saya liat para pengunjung melepaskan alas kaki, dan jalan di kali dekil yang airnya berwarna kecoklatan. “Haaaa cuma kaya giniii! Ngapain kita ke sini?”  Setelah liat videonya pasangan bule yang kami temui di pinggir kali yang baru saja melakukan perjalanan ke ujung kali, ternyata pemandangannya cakep. Tapi tetep aja saya dan Ana nggak ke sana haha.

Kami bertiga kembali ke agen bus jam 11 siang. Tadinya kami mau negganti jam keberangkatan ke Ho Chi Minh yang semula berangkat jam 13.30 menjadi jam 11.00. Namun karena kursinya udah penuh, kami nggak bisa ganti jam deh. Di sini kami kembali bertemu dengan pasangan Kanada yang subuhnya sempat kami temui saat baru tiba di sini.

Sambil nunggu bus kami menghabiskan waktu dengan tidur siang, dan main internet. Semakin lama-semakin banyak orang berdatangan, mayoritas turis-turis mancanegara. Siang kami awalnya sangat damai, sebelum datang rombongan turis cina yang berisik huh. Saya senewen sama turis Cina ini, di mana-mana kok berisik buanget, nggak tertib pula pas mau naik bus. Waktu mau masukin ransel ke bagasi bus saya kehalangan sama mereka, bukannya kasih jalan malah ditutup jalan saya ke bagasi bus. Udah gitu mereka duduk di sebelah saya di bus, saya cuma bisa ngedumel sama Winny dan Ana di bus. Norak banget deh masak pada berisik gitu di bus. Oh em ji, bisa tenang nggak sih. Kalo di kereta atau bus di Korea mereka mungkin udah dimarahin sama ajossi atau ajuma. Kalo di bus Greyhound dari Montreal ke New York, mereka mungkin udah dimarahin sama sopir bus. Lha kok malah jadi esmoni hahaha.

Kami sampai di Ho Chi Minh jam 18.30. Winny dan Ana akan kembali ke Jakarta pada dini hari, sedangkan saya masih bermalam di Ho Chi Minh sendirian. Sebelum berpisah kami makan malam terlebih dahulu di restoran Malaysia Halal di dekat Benh Thanh Market. Kemudian kami liat pasar malam di sekitaran sana. Ibu-ibu penjual di sana galak banget kalo ditanyain berapa harga barang dagangannya tapi nggak jadi beli. Ana jadi takut gitu tiap mau belanja. Saya emang nggak niat belanja jadi ya diem aja nggak nawar apa-apa. Winny ya tetep cuek kalo mau nanya jajanan, mau dimarahin atau enggak.

Perjalanan akhir pekan ke Vietnam ini lumayan melelahkan. Dengan jadwal yang padat dan waktu yang singkat kami mengunjungi 3 tempat yang jaraknya berjauhan. Tapi seru lah perjalannya. Total biaya perjalanan untuk 3 hari ini saya menghabiskan dana sebesar 3 juta rupiah. Saya sampe heran gitu pas sampe Ho Chi Minh, cepet amat sampenya, perasaan baru naik pesawat dah. Asia Tenggara seru juga. Next destination….

Advertisements

10 thoughts on “Girls Trip to Vietnam”

  1. Tumben cerita travel bergrup mba atau aku yg blm ubek2…tapi memang karakter turis Cina begitu mba kalau udah ngelompok serasa dunia milik bersama, dulu pas ketemu yang jumlahnya sampai 4 perahu serasa di pasar..mana pemandunya suka bentak2 sana sini. Mungkin tergantung dari daerah mana ya…sama seperti kita juga kalau dari daerah suka agak norak tapi yg asal metropolis lbh lumayan…

    1. Iyah keliatan norak jadinya, abis pada berisik gitu. Gak bisa pelan apa ya ngobrolnya 😥

      Mumpung lagi mood posting, dan kebetulan abis jalan rame-rame 😅

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s