Traveling

Mendadak ke Jepang

20181012_1107291142238338.jpg

Sebenarnya nggak mendadak sih, saya udah beli tiket pesawat ke Tokyo sejak 7 bulan sebelum keberangkatan. Namun, karena saya nggak begitu semangat, maka saya agak males-malesan waktu berangkat ke Jepang. Kenapa? Karena kepala saya disibukan dengan urusan seleksi beasiswa. Pada saat saya ke Jepang bersamaan dengan tes seleksi berbasis computer di BKN. Untungnya saya kebagian jadwal di Jakarta tahap ke-2, yang jadwalnya setelah pulang dari Jepun. Jadi saya masih bisa berangkat sambil bawa buku latihan soal TPA, tapi dipelajarin mah kagak. Disaat berdekatan juga saya akan menghadapi tes TPA beasiswa di tempat yang lain. Bawa buku TPA cuma berat-beratin barang bawaan, yang penting niatnya udah dicatet ya kan.Ā  Eits, saya nggak akan cerita beasiswa lagi di sini. Fokus ceritain jalan-jalan ke Jepun.

Saya ke Jepang bersama dengan 2 teman cewek. Kami dapet tiket Air Asia promo ke Tokyo (transit di Denpasar) seharga 2,5 ā€“ 2,7 jutaan pp. Jadi waktu beli tiket ke Jepang, saya belinya di hari yang sama dengan tiket ke Vietnam. Dalam sehari beli tiket 2 negara, penting ini diceritain haha. Seperti biasa kalo terbang naik AA, penerbangan saya selalu diganti-ganti jadwalnya. Kudunya saya berangkat sore, dan cuma transit sebentar di Denpasar, eh pesawatnya dimundurin di malam hari, terus dimajuin jadi pagi hari dan transit seharian di Denpasar, saya capek duluan kalo transitnya lama. Dapet tiket murah, gak boleh ngeluh wkwk!

Pesawat kami ke Tokyo berangkat di malam hari waktu Indonesia Tengah, dan tiba di pagi hari di Tokyo. Di pesawat saya liatin cewek-cewek Jepang yang imut-imut dan maniez, berasa lagi di dorama Jepang Tokyo Love Story. Hayoo ada yang tau gak serial ini? Ketauan tuirnya dah. Untuk menghemat biaya pemesanan makanan dadakan di pesawat, saya udah bawa bekel makan malam buat di pesawat yaitu nasi goreng seafood solaria hehe. Entah kenapa saya suka nasi gorengnya yang porsinya sepanci itu.

Keesokan harinya kami tiba dengan selamat di bandara Narita dan disambit dengan cuaca khas musim gugur yang dinginnya semriwing untuk ukuran orang Indonesia. Dari Bandara kami naik bus ke Tokyo dengan harga tiket 10 rebu yen, terus nyebrang jalan dan lanjut naik bus ke Kawaguchiko. Terminal tempat nunggu bus ke Kawaguchi itu berada dalam sebuah gedung perkantoran yang kece. Sambil nunggu bus saya sibuk mengamati orang-orang yang sedang bersiap menuju kantor. Kesan pertama yang saya dapat adalah, seragam. Setelan pakaian kerja orang Jepang didominasi dengan kemeja putih dan celana atau rok berwarna gelap. Karena cuaca mendung, mereka kebanyakan membawa payung bergagang panjang. Saya bandingin penampilan mereka dengan kami yang lusuh, belum mandi, dan awut-awutan. Sungguh kontras bhahahaha.

Sambil nunggu bus saya bolak-balik ke toilet. Yang saya suka dari Jepang adalah.. toiletnya! Bersih, anget dan ada airnya, uwow!!! Gak perlu bawa-bawa botol dan tisu basah lagi dong, saya suka toilet di Jepun. Di bus dalam perjalanan dari Tokyo ke Kawaguchi, saya melanjutkan tidur yang tertunda. Di bus saya tidur kaya orang pingsan, nyenyak bener. Jadi saya gak sempat melihat pemandangan indah di luar bus. Sesampainya di terminal bus Kawaguchi, kami langsung menghangatkan diri dan mencari wi-fi. Yang saya sesalkan di sini adalah, saya nyari penginapan yang jauuuuuuuuuuuh sekali lokasinya dari terminal bus. Maksud hati mau memandang danau Kawaguchi, saya pilih penginapan bergaya tradisional Jepang di dekat danau kawaguchi. Karena saya lupa ngontak orang hostel untuk minta dijemput, maka kami pun berjalan kaki sejauh 1,6 kilometer untuk mencapai hostel. Terus pas saya sampai hostel, saya liat ada angkot yang menurunkan penumpang tepat di depan hostel. Lahhh.

Karena kami check innya kecepetan, maka kami belum dipersilakan untuk masuk kamar. Jadi untuk membunuh waktu kami pun hanya menitipkan tas/koper dan jalan-jalan kembali ke pusat kotanya Kawaguchi.Ā  Maksud hati mau cari makan tapi ujung-ujungnya malah ke minimarket dan belanja cemilan. Dalam sehari kami jalan kaki sejauh 1,6 km dikali 3. Udah 2 hari nggak mandi, badan rasanya udah lengket-lengket gimana gitu. Kami memutuskan untuk mandi di kamar mandi umum yang terletak di lantai bawah. Pas baru buka pintu kamar mandi kami bengong. Seriusan nih mandi bareng??? Emang sih kamar mandi cewek dan cowok dipisah, tapi masak nggak ada tirai atau pintu penutup antar bilik shower satu dan lainnya. Jadinya kami mandi bareng gitu, dan bisa liat-liatan barang milik tetangga bhahahaha. Nggak deng, kami terlalu malu untuk ngintip. Makanya mandinya cepet-cepet sebelum bule-bule pada mandi malam. Mandi gini aja udah malu, bijimana mau ke onsen Bijo haha.

*Bersambung ke episode selanjutnya yang entah saya tulis kapan

Advertisements

9 thoughts on “Mendadak ke Jepang”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s