Traveling

Suka Duka Solo Traveling ke Chile

20190303_145048

Sebentar, saya sedang berusaha untuk mengingat pengalaman perjalanan saya 3 bulan yang lalu. Ya ampun tulisan tentang Chile dan Peru belum sempat diketik dan diposting, saya udah menghayal liar lagi aja. Padahal kondisi keuangan memprihatinkan bhahaha.

Ok, to de point. Cewek, sendirian ke Amerika Selatan aman atau enggak? Kalo berdasarkan pengalaman saya sih aman-aman aja. Nggak ketemu orang iseng atau yang aneh-aneh, malah saya lebih banyak ketemu orang baek yang nolongin saya di jalan, Alhamdulillah. Cuma itu aja, nggak ketemu orang Indonesia selama 2 minggu perjalanan saya di Amerika Selatan.

Kenapa Chile? Karena saya pengen ke Patagonia. Karena saya nggak perlu visa untuk ke Chile. Karena alamnya bagus. Karena Chile merupakan dream destination saya. Karena dekat dengan Antarctica, walaupun belum kesampaian ke sana. Karena sebagian besar tempat yang saya suka terpencil, tapi saya nggak kesampaian ke sana karena keterbatasan waktu dan dana.

Satu-satunya kendala saya ketika solo traveling ke Chile adalah kendala bahasa. Saya stress nggak bisa berkomunikasi dengan mereka. Harusnya saya belajar bahasa spanyol yang lancar dulu, nggak cuma bisa bilang lo siento, for pavor, banos, no hablo espanol doang. Dan ATM, saya nggak bisa tarik tunai atm di bandara, untung saya bawa uang tunai pas-pasan dan kartu kredit.

Oh iya, ada pengalaman lucu waktu saya pesan tiket bus di terminal bus Puerto Natales. Saya beberapa kali nggak nyambung ngomong sama si ibu penjaga tiketnya. Ditanya mau beli tiket ke Torres del Paine pp atau sekali jalan. Saya berubah pikiran terus. Setelah si ibu bilang kalo tiket pp lebih murah, maka saya memutuskan untuk beli tiket pp. Kemudian, 2 hari berikutnya saya kembali beli tiket yang sama di tempat yang sama, dan si ibu memberikan harga yang lebih mahal daripada tiket yang sebelumnya saya beli. Saya ngotot nggak mau bayar tiket mahal, sambil menunjukan foto tiket saya yang lama Di situ tertera harga yang lebih murah. Kemudian si ibu langsung nurunin harganya sambil cengengesan kaya anak kecil ketangkep basah gitu. Hayo mau mahalin tiket saya ya, haha.

Di Chile saya 2 kali salah beli air mineral. Maksudnya mau beli air putih biasa, malah beli air yang ada sodanya. Yang pertama beli di Dunkin Donuts, yang kedua beli pake mesin di bandara. Ketika sampai di Peru saya udah belajar dari pengalaman, setiap kali mau beli air mineral saya akan bilang sin gas alias tanpa gas. Air keran di Santiago dan di Lima, Cusco nggak bisa langsung diminum. Lain kalo di Puerto Natales atau Patagonia, saya minum air keran dan air sungai dari aliran sungai yang deras dari gunung dengan puncak diselimuti salju tipis.

Cuaca di Santiago hangat, sedangkan di Punta Arenas, Puerto Natales dan Torred del Paine dingin, berangin yang nggak nyantai. Musuh terbesar saya adalah angin, bahkan ketika jalan ke downtown Puerto Natales aja saya dikejar angin dingin, gerimis pulak, nggak asik kan. Di Patagonia saat itu cuacanya cerah, berawan dan berangin. Di tempat tertentu anginnya amit-amit kencengnya. Badan saya kan kayak martabak tipis kering alias kerempeng, kena angin kenceng bisa gaswat!

Saya heran, kenapa saya suka banget traveling ke tempat terpencil. Sebut aja dari New Zealand (dulu masih sepi turis), Alaska (ketemunya lebih banyak sama lansia), Iceland (domba dan angin), Kanada (Jasper National Park lumayan sepi, lebih banyak ketemu rusa atau elk), sampe ke Patagonia. Patagonia sih nggak sepi banget, buat pesan campsite dan refugio aja butuh waktu lama dari jauh-jauh hari, saya nggak kebagian campsite di beberapa spot, syedih. Kan berarti banyak orang dari seluruh dunia yang datang ke sana.

Hmm apa lagi yah.. nggak ada teman ngobrol. Tetep ya walaupun saya di Chile, saya ngobrolnya sama orang di Indonesia, untuk mengatasi rasa kesepian di jalan. Saya lebih banyak jalan sendiri daripada sama temen nemu di jalan. Ada kalanya saya sksd, ada kalanya saya jadi penyendiri. Kalo saya lagi males bersosialisasi, saya bisa diam seribu bahasa. Kalo saya lagi pengen bersosialisasi, saya akan mulai kenalan dan ngobrol.

Untuk soal makanan, saya bingung mau makan apa di Puerto Natales. Kalo lagi males saya makan sambal bu rudy dan suseno, plus nasi. Kalo lagi rajin saya masak nasi goreng di hostel, plus ayam goreng haha. Saya belanja grocery dan masak ayam goreng, terus Carlos, yang kerja di hostel, kodein saya. “Masak apa sih? Emangnya lo abis makan ayam sbanyak itu?” Hmm kode nih.. Saya langsung kasih dia ayam goreng dan dia pun hepi bhahaha. Baik-baikin orang hostel, niscaya mereka pun akan baik sama kamu. Buktinya saya dapet tempat tinggal gratis selama 2 malam di hostel, aheyyyy!

Pas hiking saya ditolong hiker dari Brazil dan satu lagi gak tau dari mana. Saya dibangunin pas jatoh keguling haha. Pas turun gunung pun ditemani, dikasih cemilan dan dibawain tasnya. Bukan saya yang minta, saya nggak terbiasa menyusahkan orang lain. Tapi tawaran kebaikan dari orang nggak boleh ditolak,mubazir haha.

Di akhir perjalanan saya sempat singgah di Santiago selama 24 jam, sehari semalam. Saya dapet guide gratisan yang sudah menunggu saya di hostel dan diajak keliling seharian. Saya pun ditraktir makan masakan khas Chile, ditraktir naik cable car ke bukit, dibeliin minuman dan diajak keliling kampus di Santiago yang ada di list di LPDP (tetep ya). Saya mampir ke kampus fakultas arsitektur Pontificia Universidad Catolica de Chile, sambil searah jalan ke bukit. Di sini saya cemilin apel sambil liat mahasiswa arsitektur. Saya juga ke Universidad de Chile, dan masuk ke dalam kampusnya. Malamnya saya makan pad thai di mall terbesar di Santiago. Siapa yang nyangka saya jalan sama Enrique lagi. Dia nemenin saya sebagai bentuk terima kasih karena udah tukeran campsite di TdP sih.

Sistem transportasi di Santiago jelas dan gampang, saya nggak nyasar dong waktu dari bandara ke hostel dan sebaliknya. Saya naik bus dan metro di jam padat sambil desak-desakan dengan orang Chile. Di sini saya baru bisa melihat kehidupan warga metropolitan yang sesungguhnya. Orang Chile cakep-cakep dibandingin orang Peru, kaya pemain telenovela, saya seneng liatinnya. Pertama kali tiba di bandara, sambil ngantri di antrian imigrasi saya sibuk mengamati petugasnya. Petugas yang cewek cantik-cantik, yang cowok badannya pada jadi, malah ada tatonya. Seragamnya kan pake kaos polo ketat, jadi keliatan lekuk ototnya bhahahaha.

Cewek solo hiking ke Patagonia atau solo traveling ke Chile itu aman banget, doable. Saya bisa, kamu juga bisa. Nggak ada teman jalan? Siapa takut! Saya mah cuma takut kalo jadi camping dan malamnya kena hipotermia, udah itu doang ketakutan terbesar saya. Nggak jadi camping kan, trapapa. Saya nggak upload foto di sini karena kuota 3 GB wordpressnya udah abis, kalo mau liat foto di IG aja ya, bonus video seadanya. Saya kok males banget mau ngedit video dan posting di youtube, hihi. Kalo mau tau cerita pengalaman hiking ke TdP versi yang bener dan terorganisir, kalian bisa mampir ke blognya si Eky. Dia ke sana sebulan setelah saya dan dapet pemandangan lebih keren, bocah ini lebih gilak travelingnya daripada saya haha.

4 thoughts on “Suka Duka Solo Traveling ke Chile”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s