Traveling

Day Trip ke Bukit Lawang

20191113_085558.jpg

Sebenarnya keinginan untuk mengunjungi bukit lawang sudah ada sejak beberapa tahun yang lalu. Tapi karena keadaan mendesaaj terpaksa saya membatalkan perjalanan saya. Saat itu bapak saya masuk rumah sakit, dan teman yang rencananya mau jalan bareng ke sana pun sekarang udah nggak ada, hiks. Jadi, ketika ada kesempatan untuk dinas ke Medan beberapa waktu lalu, maka saya memutuskan untuk extend dan jalan-jalan ke sana seorang diri.

Yang menjadi kendala utama saat saya memutuskan ingin ke Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) adalah transportasi. Saya cuma punya waktu sehari di Medan dan bingung mau ke Bukit Lawang naik apa. Kalo naik angkot… ribet ah! Untung ada aplikasi sewa mobil jadi saya bisa sewa mobil seharian lengkap dengan abang sopirnya. Semuanya saya rencanakan h-1, spontan pesen guide dan sewa mobilnya.

Pukul 5 subuh saya udah keluar kamar hotel dan setia menunggu bapak sopir yang akan mengantar saya ke Bukit Lawang, namun dia telat 30 menit dari jam yang dijanjikan. Tak apalah, masih pagi juga toh. Jam 5.30 kami berangkat dari Medan ke Bukit Lawang. Saya udah siapin sarapan nasi goreng yang udah saya beli malam sebelumnya. Di jalan saya nggak enak makan sendirian, tapi saya lapar hehe. Mau berhenti cari makan sama abang sopir juga masih pagi nggak ketemu warung nasi uduk.

Sekitar jam 8-an saya sampai di gerbang bukit lawang dan sudah ditunggu oleh seorang mas-mas yang mengendarai motor. Ih saya lupa lagi namanya. Dia memandu kami ke restoran kapal bambu dan menyiapkan registrasi. Ternyata dialah yang akan menjadi pemandu saya. Saya mengambil paket full day jungle trek dan seharian bakalan mblasuk ke hutan ditemani mas pemandu. Saya kira bakalan ada tamu lain yang barengan sama saya, ternyata saya sendirian haha. Takut? Enggak 😛

Kami mulai berjalan menyusuri perkampungan warga, tidak lupa saya pun mengeluarkan go pro saya. Niatnya buat bikin video tapi saya salah settinginnya haha. Malam sebelumnya di Bukit Lawang dan Medan turun hujan, jadi jalanan di hutan pun becek plus ada genangan sisa-sisa air hujan. Saya dengan setia mengikuti mas pemandu dari belakang sambil banyak bertanya macam host jejak petualang haha. Udah lama gak ke hutan terus saya hepi banget gitu menghirup aroma hutan.

Awalnya sih treknya masih datar gitu lewatin rumah-rumah warga, tapi lama-lama kok jadi nanjak. Lha ini beneran trekking namanya. Karena jalannya licin dan becek saya pun minta tolong diambilkan kayu buat penopang buat nanjak. Baru jalan sebentar saya udah engap duluan. Lama-lama keringat pun mengucur dari dahi saya, udah lama saya gak trekking jadi lupa rasanya. Terakhir hiking di Patagonia 9 bulan yang lalu. Saya belum pernah ke hutan beneran di Indonesia. Kalo dilepas sendirian saya nggak berani. Suara serangga hutan yang nyaring memecah kesunyian, bisa dibilang berisik malah. Suara daun-daun bergesekan bikin bulu kuduk merinding. Saat itu rombongan trekker lain udah pada jalan, saya belum ketemu mereka.

Mas pemandu membawa semacam alat komunikasi untuk bertukar informasi mengenai keberadaan orangutan. Setelah sekitar 30 menit berjalan, kami mendapat kabar bahwa ad 2 ekor orangutan sedang gelayutan di pohon di dekat rumah warga. Kami pun langsung berjalan kembali ke arah kampung. Benar saja di situ sudah ramai dengan turis mancanegara yang berkumpul menyaksikan tingkah laku 2 ekor orang utan yang merupakan ibu dan anak. Saya nggak mau ketinggalan dan ikut berjalan ke arah keramaian.

Si anak orang utan dan ibunya turun dari pohon dan berjalan menuju semak-semangat dan manjat ke pohon berdahan rendah. Saya kembali mengikuti kawanan orang utan sampai ke semak-semak. Saking asiknya liatin mereka saya nggak sadar kalo kaki saya dihisap lintah. Waktu saya liat ke bawah saya liat bercak darah di bahan celana di bagian pergelangan kaki saya. Begitu menyadari saya habis digigit lintah saya langsung lari ke warung dan bergidik merinding, ewwww! Saya jijik banget sama lintah. Tapi kok nggak ada sakit-sakitnya digigit lintah walau darah bekas gigitannya lumayan banyak. Nggak berasa malah, lebih sakit disuntik buat diambil darah di lengan di lab.

Saya lupa kalo di hutan ini banyak lintah, apalagi bekas hujan, harusnya saya pakai kaos kaki sebetis pasang di luar celana panjang. Kan dadakan makanya nggak kepikiran siapin kaos kaki. Nggak apa-apalah buat pengalaman haha. Setelah puas liat ibu dan anak orangutan, kami kembali melanjutkan perjalanan ke hutan. Kali ini saya bareng dengan rombongan turis-turis bule, kadang bareng kadang misah. Kami jalan terus dan terus mblasuk ke hutan. Si mas pemandu bilang , “Mbak kita misah sama mereka ya, kayaknya di sana ada orangutan dah!” Oke deh.

Kami melihat seekor monyet yang ganteeeeeeng banget! Bulunya berwarna kombinasi putih dan abu-abu. Usut punya usut ternyata monyet ini namanya Thomas. Thomas’s leaf monkeys atau Northern Sumatran leaf monkey, nama lainnya adalah Sumatran grizzled langur atau Thomas’s langur. Terserah deh kamu mau panggil dia apa. Mau panggil Bebi juga boleh bhahahaha.

Berat rata-rata monyet jantan dewasa jenis Thomas ini sekitar 6.67 kg. Sedangkan yang betina mencapai 6.69 kg. Panjang badannya sendiri sekitar 42-61 cm. Di habitatnya Thomas bisa hidup sampai 20 tahun. Pernah dilaporkan Monyet jenis Thomas ini yang umurnya mencapai 29 tahun. Waaah!! Ekornya sendiri panjangnya bisa 50 cm.

20191113_093947

Gak jauh dari tempat Thomas nemplok, ada seekor orangutan betina bernama Globe atau Global yah. Dari yang awalnya cuma ada saya dan mas pemandu di tempat itu, lama kelamaan menjadi ramai. Para turis asing dan pemandunya berdatangan dan menyiapkan pisang supaya si orangutan mendekat. Saya pun tak ingin ketinggalan memberikan cemilan ke orangutan. Saya bahagia liat orangutan ini, tapi disaat bersamaan juga sedih. Apakah mereka ini terusik dengan kedatangan kami?

20191113_095803

Sesuai namanya, orangutan Sumatera ini cuma ada di Indonesia. Selama saya trekking saya jarang liat tamu orang Indonesia di hutan, seringnya ketemu rombongan wisatawan asing. Gak tanggung-tanggung mereka datang dari Eropa, Amerika dan negara jauh lain ‘hanya’ untuk melihat orangutan. Sehari sebelumnya saya mengajak teman saya ke bukit lawang tapi mereka lebih senang jalan-jalan ke mall hehe. Ya terserah, kesukaan orang kan beda-beda.

Setelah puas liatin orangutan yang satu ini kami kembali melanjutkan perjalanan, tetep mblasuk hutan pastinya. Kami berhenti sejenak untuk minum dan cemilin buah-buahan. Ada pisang, jeruk dan nanas. Masak nanas yang udah dikupas ditaro di tanah dengan alas plastik, digerayangin lintah. Gak sopan banget sih lintahnya. Saya perhatiin semut hutan guedhe2 buanget! Ukurannya jumbo.

Waktu lagi istirahat datanglah rombongan lain yang terdiri dari 2 pemandu dan 3 tamu wna. Kami pun gabung dan makan buah yang dibawa mereka barengan. Buah mereka lebih menarik penyajiannya dan variasinya. Lah si masnya pandai bermain pisau, potong buah-buahannya kaya di hotel bintang 9 haha. Waktu lagi makan si mbak bule nanya, “Ini apa ya di kaki saya?” Itu lintah mbak’e.

Mereka trekkingnya 2 hari dan bermalam di hutan. Seru sih, tapi saya merindukan kasur hotel empuk saya di Medan haha. Mereka si 3 traveler itu world traveler, jadilah kami bertukar cerita dan ngobrol panjang lebar, sekalian ngetes bahasa inggris saya hehe.
Setelah kenyang kami pun berpisah dan jalan masing-masing. Mereka mah masuk terus ke hutan, sedangkan kami yang deket-deket aja deh. Kami kembali mengeksplor TNGL berharap bertemu kawanan orangutan lainnya.

Saya kena jebakan batman beberapa kali, menginjak kubangan lumpur yang dalam. Waktu lagi jalan sekilas saya lihat seonggok mahluk kecil berwarna hitam di mata kaki, kaki kanan saya. Plis deh, jangan lagi ada lintah dintara kita! Setelah saya raba-raba kaki saya dan loncat jejingkrakan gak ada yang jatuh. Saya nyesel pake celana yang bagian kakinya ketat, jadi gak bisa diangkat sebetis. Yawdahlah pasrah aja.

Karena cuaca mulai mendung kami menghentikan perjalanan kami dan memilih untuk kembali ke kampung. Tapi sebelumnya makan bekal nasi bungkus dulu dong, kan laper. Terus saya liat ke arah betis kanan saya ada bercak darah lagi. TUH KAN, ADA LINTAH di kaki saya!! Bodo amat, saya laper, makan lanjut teros!

Waktu lagi asik makan kaya ada sesok mahluk yang menyelidiki saya gitu dari semak-semak. Perasaan saya gak enak, masa iya ada babi hutan. Ealah ternyata ada kancil lari diantara semak-semak haha. Dasar kau kancil! Setelah makan kami balik ke kampung, lumayan jauh jalannya.

Saya kepikiran soal lintah, gimana kalo ada lintah naik sampai ke paha saya. Kami mempercepat langkah dan ujug-ujug si mas pemandu menawarkan gini. “Mbak mau liat ular berbisa gak? Di sana ada ular biasanya.” Saya menolaknya dan membiarkan dia melihatnya, saya minta direkamin aja liat dari layar kamera haha.

Sementara itu, saya masih gak enak bayangin ada lintah di paha saya. Saya ngibrit ke kamar mandi di restoran dan langsung buka celana dan nyalain senter hp ngecek keberadaan lintah di badan saya. Setelah saya cek, aman buibuk hahaha.

Perjalanan ke Bukit Lawang cuma sehari tapi saya hepi. Akhirnya ke hutan 😊