My Story

Pengalaman Wawancara Beasiswa #8

Mumpung masih hangat, saya mau cerita pengalaman beasiswa #8. Maksudnya ini adalah aplikasi beasiswa saya yang ke-8, dari 9 beasiswa yang saya daftar. Tapi ini pengalaman wawancara yang ke-3 kalinya. Biasanya saya nyebutnya kegagalan #1, kegagalan #2, dst. Semoga yang #8 dan #9 dan #10 dan #11 gak gagal, amin. Kurang gigih apa saya coba. Saya ini tipe pekerja, eh pejuang, eh gigih. Soal pekerjaan, beasiswa, traveling, apapun itu pasti pantang menyerah.

2 minggu yang lalu saya dapet sms dari seseorang yang menyampaikan bahwa saya lolos seleksi administrasi beasiswa ke negeri x. Mereka udah kirim email tapi saya gak cek email, makanya mereka menghubungi saya melalui sms. Saya disuruh milh mau interview hari apa.

Minggu lalu saya dapat email pemberitahuan jadwal wawancara dan dijadwalkan pada hari selasa, jam 3 sore minggu ini. Minggu lalu saya sempet hilang semangat dan kepercayaan diri. Saya layu aja bawaannya, males ngapa-ngapain. Tapi kesempatan gak datang dua kali, saya mulai mengumpulkan semangat dan motivasi di akhir pekan dan mempersiapkan diri untuk wawancara.

Selasa siang saya dapet sms kalo jadwal wawancara diundur jadi jam 4 sore. Jadi kan saya bisa menyelesaikan pekerjaan dulu. Wawancara dilakukan di salah satu gedung perkantoran di Jakarta Selatan, gak jauh dari kantor saya. Hari senin kan saya piket jadi resepsionis sehari jadi bisa belajar dulu. Kemarin saya udah gak latihan lagi, kerjaan buanyak shay! Jam 4 saya udah sampe di tempat tujuan, tapi tak kunjung dipertemukan dengan staf. Jam 4 lewat barulah saya dijemput seorang mbak-mbak dan diajak ke foodcourt. IYA foodcourt! Ini mau ngedate atau wawancara? 😂

Saya diantar ke pojokan foodcourt, di sana sudah menunggu 1 orang wna dan 2 staf lokal sudah menanti kedatangan saya. Awalnya wawancara akan dilaksanakan di lantai sekian belas, tapi karena korona aku ra oleh nyang konora. Sesampainya di pojokan foodcourt saya langsung dipersilakan duduk tanpa saling jabat tangan dan basa-basi. Seperti biasa, pertanyaan pertama tentang perkenalan diri dan langsung ke rencana studi. Tidak ada pertanyaan tentang komunis atau nasionalisme, tidak ada pula leaderless group discussion.

Pertanyaan yang paling saya ingat adalah, “Kenapa kamu ambil MPA? Kampus bagus buat jurusan itu di kampus ABC”. Saya gambling waktu milih kampus itu, setelah gugling ternyata itu kampus paling bergengsi di negara itu haha. Duh sebenernya saya mau sekolah MBA tapi gak nyambung blas sama bekgronku. Yoweslah.

Hmm apa lagi yah.. Saya ditanya sekilas mengenai tentang perusahaan pemberi beasiswa. Kali ini saya tidak daftar beasiswa dari pemerintah Indonesia atau negara tetangga, tapi dari perusahaan swasta.

Wawancara kemarin berjalan lancar dan casual, nggak resmi banget. Gak lama kemudian pewawancara wna pamit undur diri karena ada meeting. Udah gitu doang wawancaranya? Oh gak deng, masih dilanjut dengan staf lokal. Jadi kaya ngobrol biasa gitu. Mereka bertanya, saya menjawab.

Terus pertanyaan yang bikin saya makjleb adalah, “Kalo kamu hamil pas S2 nanti gimana?” Pertanyaan ini gak kepikiran. Kalo kejadian, maka saya akan sujud syukur. Sekeras apapun berusaha, walaupun udah berenang di kolam renang umum, ya ndak bisa. Gagal dapet beasiswa, udah biasa. Gagal hamil, kok ya sedih uwuwuwu. Endingnya curcol 😆

Kelar wawancara saya dikasih voucher taksi pulang. Ya ampun baik amat sih. Tadinya kan saya mau naik ojek, bus patas dan angkot sampai rumah. Baru kali ini diongkosin pulang sama calon pemberi beasiswa. Semoga kita berjodoh ya, amin.

 

2 thoughts on “Pengalaman Wawancara Beasiswa #8”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s