Traveling

Things To Do in Santiago

Patagonia
Patagonia Chile. Stok foto Santiago menyusul, filenya ketelisut.

Satu hari di Santiago, enaknya ke mana ya? Itulah yang ada di benak saya ketika saya sedang menunggu pesawat yang akan membawa saya dari Lima ke Santiago. Saya hanya memiliki waktu 1 hari 1 malam di Santiago sebelum kembali ke Indonesia. Walaupun badan sudah lelah setelah 2 minggu ngemper di jalan, namun saya nggak mau rugi dengan tidak mengeksplor kota Santiago

Sabtu, 14 Maret 2019, jam 06.45 saya tiba di Santiago Aeropuerto Arturo Merino Benitez setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 3,5 jam dari Lima Aeropuerto Jorge Chavez. Saat melewati passport control saya diminta untuk menunjukan selembar kertas kecil atau kartu imigrasi untuk turis (mereka menyebutnya PDI) oleh petugas imigrasi chile yang telah saya dapatkan saat pertama kali tiba di Chile 2 minggu sebelumnya. Saya langsung panik, lupa naro kartu PDI. Ternyata kartu PDI itu penting buat turis selama berada di Chile. Setiap kali check in di hostel di Chile pun saya ditanyakan kartu PDI tersebut. Saya coba buka tiap lembar halaman paspor, dan ternyata kertas itu ketelisut di salah satu halaman paspor, legaaa!

Setelah berada di terminal kedatangan saya langsung melipir ke tempat penitipan bagasi untuk mengambil semua barang bawaan yang saya tinggal selama ke Peru. Yah namanya juga traveler kere dan nekat, gak sanggup bayar bagasi Sky Airlines dan Viva Air. Saya cuma bawa beberapa potong pakaian dan rice cooker doang ke Peru, sisanya ditaro di penitipan bagasi di bandara Santiago. Nekad? Iya haha.

Setelah gembol ransel ungu barulah saya bingung nyari tempat buat naik bus di bandara. Saya harus naik bus bandara menuju stasiun metro di pusat kota. Saya sudah memesan hostel di Santiago Backpackers. Kali ini saya nggak nginep gratisan kaya di Puerto Natales, hostel ini ratenya lumayan mahal dibanding hostel sebelumnya yang saya tempati.

Setelah sukses naik bus ke stasiun metro, saya mulai bingung beli tiketnya. Bukannya langsung beli malah nongkrong dulu nyari air mineral dingin, haus sekali rasanya. Saya bertanya kepada petugas di stasiun metro bagaimana cara membeli tiketnya. Oh ternyata mudah, saya hanya harus ke loket dan membeli dengan menggunakan bahasa isyarat hehe. Tiket metro sudah ditangan, saya pun langsung mencari peron yang tepat.

Di dalam metro pagi itu penuh sesak oleh para pekerja yang akan berangkat ke kantor. Saya berdiri di dalam metro dari saat kereta penuh sesak, sampai sepi, sampai penuh lagi. Saya merasa seperti sedang di telenovela. Mas-mas dan mbak-mbaknya cakep-cakep banget. Setiap kali mereka akan keluar, mereka akan bilang “Permiso” yang artinya permisi. Setelah tiba di stasiun tujuan, saya pun bilang “Permisi” bukan permiso, dan mereka pun pada ngasih jalan. Sama aja kok didengernya.

Hostel yang saya pesan berada beberapa blok dari stasiun metro. Pagi itu udara masih segar. Saya tersepona oleh bangunan sekeliling stasiun metro. Setelah hampir 2 minggu saya berada di desa (Punta Arenas Chile), di taman nasional Torres del Paine, dan di kota tua (Cusco, Aguas Calientes), akhirnya saya kembali ke kota besar yang bangunannya tampak modern. Saya bagai orang desa yang baru datang ke kota besar, oh noraknya haha.

Sambil memegang hp dan melihat peta saya berjalan menuju hostel yang keliatannya letaknya gak jauh dari stasiun metro. Pero (artinya tapi), karena energi saya tinggal 5 watt maka udah capek duluan. Saya butuh tiduuuuur! Sesampainya di hostel saya langsung check in dan diharuskan membayar deposit sebesar USD 20 kalau tunai, kalau kartu kredit beda lagi sih itungannya saya lupa. Kan saya kere, boro-boro pegang 20 dolar tunai, sisa duit saya cuma duit soles, mata uangnya peru sama peso chile. Kartu kredit sangat sakti di masa seperti ini haha. ATM, ah saya ga bisa tarik pake atm waktu di bandara Chile. Di Peru sih sukses.

Selesai check in, karena masih kepagian, saya belum bisa masuk kamar. Saya cuma ganti baju sebentar sebelum mulai keliling kota Santiago. Terakhir mandi itu kemarin sore di Cusco, Peru. Jadi saya nggak mandi 2 hari dong dan langsung jalan-jalan keliling Santiago.

Cuaca di Santiago hangat bila dibandingkan dengan Cusco. Di hotel di Cusco yang nggak pake AC aja saya kedinginan. Di Santiago saya liat mbak-mbaknya berpakaian minim, seksi-seksi banget sih. Menjelang malam baru deh dingin, menurut saya.

Jadi ada beberapa tempat yang saya kunjungi seharian waktu di Santiago, Chile. Mulai dari jalan-jalan nggak jelas di downtown, numpang ke toilet di bank, keluar masup ke gereja, ke halaman luar kantor presiden, ke 2 kampus yang namanya saya liat di list beasiswa, ke stasiun metro yang di dalamnya terdapat mural ciamik, ke tempat semacam museum, dan lupa lagi.

wp-15862723807441962439227.jpg
Plaza de Armas (foto dari sini )

Plaza de Armas

Saya perhatiin di latin america banyak amat ada Plaza de Armas, di Cusco ada Plaza de Armas, di Lima ada Plaza de Armas (tapi saya nggak ke sana), di Santiago juga ada Plaza de Armas yang merupakan jantung kota Santiago sejak tahun 1541. Salah satu bangunan yang eye-catching di Plaza de Armas ini adalah Metropolitan Cathedral of Santiago.

Palacio de la Monteda

Kalau Amerika punya White House, Inggris punya istana Buckingham, Korea punya Blue House, Indonesia punya istana bogor, Chile punya Palacio de la Monteda. Palacie de la Monteda adalah kantor presidennya Chile.

Santa Lucia Hill (Cerro Huelen)

Terletak antara Alameda del Libertador Bernardo O’Higginas di sebelah selatan, jalan Santa Lucía di barat dan Victoria Subercaseaux di timur. Bukit ini memiliki ketinggian 629 meter. Kayaknya saya sempat ketiduran deh di sini. Saking lelahnya saya terbang dari Cusco, transit seharian di Lima, terbang malam dari Lima ke Santiago, jalan kaki pake sendal jepit sampe gempor, akhirnya saya tepar. Saya cuma gak tahan ngantuk doang, makanya nemu bangku panjang langsung ketiduran. Jangan ditiru ya.

Pontificia Universidad Católica de Chile

Gara-gara berburu beasiswa saya jadi suka mampir ke kampus-kampus di luar negeri. Nah waktu ke Chile ada 2 kampus yang saya kunjungi, bukan untuk mendaftar sebagai calon mahasiswa baru, cuma penasaran aja mau liat-liat kegiatan di kampus di Chile seperti apa. Salah satunya adalah ke fakultas arsitektur Pontificia Universidad Católica de Chille. Sebenernya saya mampir ketika dalam perjalanan ke bukit Cerro San Cristóbal. Ya ampun saya jalan kaki jauh banget menuju ke gerbang bukit itu. Lewatin taman di pinggir kali yang mengelilingi bukit, di mana terdapat banyak pasangan yang pada pacaran. Melewati jembatan besar, yang di sebrangnya banyak muda-mudi nonton konser besar. Melewati kompleks perumahan, kemudian sampailah di kampus. Ke kampus cuma numpang ke toilet dan makan apel doang di kafe. Saya cocoknya jadi dosen, bukan mahasiswa di situ wkwk.

Univercidad de Chile

Kalo di Indonesia ada Universitas Indonesia, di Korea ada Korea University yang masuk dalam kelompok kampus bergengsi di Korea atau dikenal dengan sebutan SKY (SNU, Korea University, dan Yonsei University). Kalo di Chile ada Universitas Chile atau Univercidad de Chile. Kampus ini berada pada peringkat nomor 189 berdasarkan QS Global World Ranking. Saya mampir ke salah satu bangunan di kampus Univercidad de Chile dan duduk-duduk di dalam sejenak, bukan di kelas. Saya lupa-lupa inget sih, salah sendiri nggak dicatat perjalanannya. Jadi dulu saya duduk bego memandang salah satu patung yang ada di kampus sambil mencoba menebak kira-kira patung siapakah itu, ngapain coba. Waktu itu sepi banget, suasananya agak suram gitu haha.

Naik Cable Car di Cerro San Cristóbal

Lahan seluas 1800 hektar ini adalah lahan hijau terbesar di Santiago. Tempat ini memiliki panorama menakjubkan buat pacaran. Dari sini kita dapat melihat gedung-gedung pencakar langit di kejauhan, melihat sekeliling kota Santiago dari ketinggian. Di puncak bukit ini terdapat patung Virgen de la Inmaculada Concepción, ada semacam gereja terbuka juga. Paus John Paul II pernah mengadakan misa di sini tahun 1984. Saya menunggu matahari terbenam di puncak Cerro San Cristóbal, di bawah patung Virgin Marry, sambil liatin orang-orang pada selfie. Tapi berhubung matahari terbenamnya masih lama, maka saya memutuskan untuk cabut dan cus ke mall di Santiago buat nyari makan malam. Setelah siangnya makan makanan Chile, malam makan masakan Thailand.

Saya kembali ke hostel jam 9 malam. Sampai hostel saya langsung mandi, packing dan tidur (tapi kurang tidurnya). Pergelangan dan telapak kaki saya rasanya udah mau copot setelah seharian keliling Santiago pakai sendal jepit. Besok kalo jalan-jalan lagi dibawa sepatu buat jalannya, jangan cuma bawa hiking boot sama sendal jepit doang.

Keesokan harinya saya langsung check-out dan bergegas ke bandara untuk pulang. Saya masih harus terbang ke Melbourne – Singapore – Tangerang dalam waktu 2 harian, kayaknya itu rekor terbang terlama saya dah. Hari itu saya sarapan di bandara di Chile, makan siang di atas samudera pasifik selatan, makan malam di bandara di Melbourne, Sarapan bandara di Singapore.

Ternyata saya datangnya kepagian di bandara Santiago. Yaudah saya saya sarapan aja sambil mengamati orang-orang yang lewat di depan saya di bandara. Saya berharap sarapan nasi uduk, telur dadar, semur jengkol tapi saat itu saya sarapan roti bakar, scramble egg, jus jeruk asam & kopi (gak diminum kopi), gak nendang haha. Demikian cerita saya dari Amerika Selatan. Lain kali saya akan cerita pengalaman terbang dengan Latam Airlines. Okay, buenas noches.

4 thoughts on “Things To Do in Santiago”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s