Traveling

Percakapan Singkat Dengan Abang Imigrasi di Paris

20150924_163740

Sekarang saya mau cerita pengalaman ketika pertama kali tiba di Paris setelah menempuh perjalanan selama 2 hari dari Indonesia (kan transitnya lama). Dari setiap perjalanan, pengalaman yang paling saya tunggu-tunggu saat memasuki negara baru adalah proses pemeriksaan keimigrasian di counter imigrasi. Saya suka aja gimana deg-degannya kalo kudu menghadapi interview singkat sama abang imigrasi di luar negeri. Continue reading “Percakapan Singkat Dengan Abang Imigrasi di Paris”

Advertisements
Uncategorized

Pengalaman Terbang Paling Wow!!!

WOW!
WOW!

Dari 8 pesawat yang akan saya gunakan selama Eurotrip kemarin, saat yang paling saya tunggu-tunggu adalah pengalaman terbang dengan maskapai Low Cost-nya Iceland yaitu WOW Air. Iceland’s only high performance low-cost airline. We promise that WOW feeling! Continue reading “Pengalaman Terbang Paling Wow!!!”

Traveling

Libur Telah Selesai

Binnenhof
Binnenhof

Aku pulang!! Maksudnya saya udah kembali dari perjalanan panjang ke benua Eropa tepat dini hari kemarin. Ada banyak sekali kejadian bodoh dan lucu yang ingin saya ceritakan mulai dari tersesat di Paris, diusir satpam di terminal bus di Roma, pipis sembarangan di tempat terindah di dunia, sampai pengalaman paling wow di pesawat. Continue reading “Libur Telah Selesai”

Traveling

Honeymoon With My Sister to Jeju Island

Jeju Air
Jeju Air

Ketika akan memutuskan akan mengunjungi Korea yang ke dua kalinya saya mengajak kakak saya untuk pergi dengan saya. “Mbak, gue mau ke Korea lagi, lo mau ikut gak?”

Dia mah langsung iya-iya aja diajak kelayapan gratisan, sayanya yang mumet nyari ongkos hahaha. Tapi gpp, saya lagi baek aja ngajak kakak saya jalan-jalan ke luar negeri bareng saya. Pulau Jeju adalah Pulau Bali-nya orang Korea. Saat liburan ke Korea Selatan saya memasukkan Pulau Jeju ke dalam itinerary saya karena.. jujur saja, saat itu saya keracunan drama korea. Continue reading “Honeymoon With My Sister to Jeju Island”

Tiket Pesawat

Pengalaman Berburu Tiket Pesawat ke Eropa

Foto pinjem dari http://www.premiumtours.co.uk/tours/tour/paris-day-trip-with-champagne-lunch-on-the-eiffel.id68.html
Foto pinjem dari http://www.premiumtours.co.uk/tours/tour/paris-day-trip-with-champagne-lunch-on-the-eiffel.id68.html

Eciyeehh udah bikin postingan ini aja, berangkatnya juga belom hehe. Kali ini saya mau berbagi tips cara ngedapetin tiket pesawat murmer ke yurop, walaupun dolar amerika dan euro lagi melambung tinggi, abaikan saja, kan belinya pake kurs malaysia ringgit (padahal mah gak ngaruh)

Beberapa hari setelah saya pulang dari New Zealand saya mulai menabung mimpi lagi, yaitu mimpi ke yurop di tahun 2015. Saya mulai daftar newsletter airlines timur tengah seperti Emirates dan Qatar Airways, karena cita-cita saya kepengen terbang ke yurop dengan kedua airlines tersebut. Tapi saya nggak menutup kemungkinan terbang dengan maskapai lain seperti KLM atau Air France kalo harga tiketnya lebihmurah. Continue reading “Pengalaman Berburu Tiket Pesawat ke Eropa”

Traveling

Persiapan Kelayapan ke Eropa

Gembolan buat yurotrip
Gembolan buat eurotrip

Wot? Eropa!? Apa saya nggak salah denger? Gilak, dolar lagi naek masak mau liburan ke luar negeri! Abisan mau gimana lagi, dulu kan beli tiketnya pas masih belom 14 rebu dolarnya. Kemaren pas kelar ngetes packing saya keluar kamar dan jalan-jalan sekeliling rumah sambil gembol ransel 2 biji dan bawa tas kamera sambil bilang ke emak kalo saya mau ke Eropa 2 minggu lagi. Dan tahukah kamu kalo ibu saya nggak percaya anaknya mau kelayapan ke Eropa haha. Baru juga balik dari Batam kemaren udah mau pergi lagi. Yah gimana dong namanya juga orang sibuk, preeetttt!! Continue reading “Persiapan Kelayapan ke Eropa”

cerita visa

Mengurus Visa Schengen Melalui Kedutaan Denmark

Dokumen untuk ditukarkan dengan selembar stiker visa
Dokumen untuk ditukarkan dengan selembar stiker visa

“Waduh rekeningnya minim banget, nggak ada dana di rekening lain? Punya orang tua, kakak?”

Saya masih saja teringat saran petugas aplikasi visa ketika akan mengajukan berkas aplikasi visa Schengen 2 minggu yang lalu. Saran dia benar, sayanya aja yang ndableg, udah tau mau ke Yurop malah masukin dana pas-pasan. Eropa, apa yang ada di pikiranmu saat mendengarkan kata Eropa? Perjalanan seru? Iya! Keren? Pastinya! Mahal? Banget! Visanya ribet? Entahlah. Continue reading “Mengurus Visa Schengen Melalui Kedutaan Denmark”

Traveling

Cerita Visa

Dokumen untuk ditukarkan dengan selembar stiker visa
Dokumen untuk ditukarkan dengan selembar stiker visa

Okeh, mumpung masih anget-anget taik ayam nih saya mau cerita udah ngapain aja dari pagi tadi. Pagi ini saya ngerasa gugup, deg-degan, gelisah, sampe mules gara-gara stress mikirin visa. Rencananya pagi ini, sekitar jam 10an saya pengen capcus ke belakang kantor buat apply visa. Semua dokumen udah saya siapin sejak kemarin, lengkap dengan bukti keuangan dan bukti konfirmasi tiket pesawat dan ho(s)tel yang sudah dibayar dengan lunas atau digaransi dengan kartu kredit. Saya tau banget kalo mau apply visa konon katanya kudu ada duit sebanyak 50 juta rupiah di rekening yang dibuktikan dengan rekening koran dan surat referensi dari bank tempat kita naro duit. Tapiiii berhubung jumlah saldo di rekening saya pas-pasan, maka saya nekad mengajukan aplikasi visa hari ini.

Setelah menyiapkan mental saya memberanikan diri untuk melangkahkan kaki ke lift dan jalan kaki ke pusat aplikasi visa yang berjarak selemparan kolor dari kantor saya. Sambil berjalan saya merasakan betapa kerasnya degup jantung saya. Tegangnya kelewatan, melebihi tegangan listrik di pusat pembangkit listrik. Saya harus berangkat ke pusat aplikasi visa hari ini, kalo enggak sekarang kapan lagi. I’m running out of time. Now or never.

Bener aja dong, saat tiba di sana dan duduk manis di depan mbak petugas penerima berkas visa, berkas yang pertama kali dicek adalah rekening koran saya yang berjumlah 5 halaman. Dicek angkanya bolak-balik sampai tiba di lembaran paling akhir yang berisi jumlah saldo di rekening saya dan.. Mbaknya bilang gini, “Maap-maap nih, jumlah saldonya minim banget, ada rekening lagi nggak? Ada simpenan lain? Sekedar saran aja sih, kalo bisa direkening ada banyak. Kurs hari ini berapa? Paling enggak buat biaya hidup di sana bisa40 juta kan.”

Jedeeer!! I knew it, pasti dia akan bilang begitu. Apa yang saya takutkan ternyata menjadi kenyataan. Rekeningnya kurang banyak, huaaaaa!! Iyaaa sih biaya hidup di negara-negara skandinavia itu mahal, tapi kan saya udah bayar tiket pesawat dan hostel, jadi di sana nanti tinggal bayar setengah akomodasi, transportasi dalam kota dan biaya masuk objek wisata (kalo mau). Saya juga ditanyalah apakah saya punya rekening lain atau tidak, rekening orang tua, atau siapapun yang bisa membiayai perjalanan saya. Ealah boro-boro mbak, saya kan single fighter, ini saya mau ke sana juga kan mau investasi, maksudnya investasi memori jangka panjang. Saya nggak punya investasi dalam bentuk logam mulia atau aset tak bergerak. Namanya juga backpacker kere, bisa sampe ke sana aja udah alhamdulillah, saya nggak bakalan macem-macem selama di sana.

Kemudian, si mbaknya langsung bolak-balik ngecek kelengkapan aplikasi visa saya satu persatu. Dimulai dari rekening koran, tiket pesawat, pokoknya semuanya deh. Sambil ngecek sambil nanya-nanya saya kerja di mana, berapa lama, interview kecil-kecilan gitu deh. Sambil ngejawab pertanyaannya sambil saya jelasin. “Ini lho tiket pesawatnya dari Jakarta ke Kuala Lumpur”. Kemudian dia nanya lagi, “Tiket pulangnya mana? Dari Kuala Lumpur ke Jakarta kok nggak ada!?”

“Begini lho mbak, jadi rute terbangnya itu saya berangkat dari Jakarta ke Kuala Lumpur, kemudian dari Kuala Lumpur ke Abu Dhabi, dari Abu Dhabi ke hatimu…”

Setelah dicek dengan seksama, sebagian besar berkas di halaman belakang yang nggak penting dikembaliin lagi ke saya. Cukup halaman pertama dan bukti kalo saya udah bayar tiket atau hotelnya. Di website pusat aplikasi visa disebutkan, kalo pemohon seharusnya gak beli tiket pesawat dulu. Kalo dipikir-pikir, saya ini nekad banget, beli tiket pesawat pp dan tiket antar kota duluan. Ya ampun, saya takut banget! Beneran!

Dokumen yang diperlukan
Dokumen yang diperlukan

Setelah semua dokumen diterima dengan lengkap, selanjutnya saya melakukan pembayaran dan menerima bukti pembayaran. Biaya visa ini lebih murah daripada visa New Zealand. Saya langsung pindah ngantri di depan loket ruangan tertutup untuk pengambilan sidik jari dan foto biometrik. Sidik jari dan foto biometrik diperlukan untuk database di negara-negara schengen, jadi kalo nanti mau apply visa lagi kita gak perlu ambil sidik jari dan biometrik. Mirip-mirip kayak mau bikin paspor gitu deh. Setelah selesai pengambilan foto biometrik dan sidik jari akhirnya selesai sudah tahapan-tahapan dalam mengajukan aplikasi visa ini. Saking gugupnya saya sampe blank pas keluar dari pusat aplikasi visa, nyari pintu keluar aja nyasar hehe.

Sebelum memilih di kedutaan mana saya akan mengajukan aplikasi visa, saya sempat browsing mencari informasi mengenai pengalaman orang-orang yang pernah apply visa di kedutaan Denmark, tapi karena minimnya postingan blog orang yang pernah apply visa di denmark saya nggak nemu. Kebanyakan orang-orang apply visa melalui kedutaan Belanda dan Perancis (TLS contact) karena katanya di kedutaan ini paling mudah prosesnya. Awalnya saya juga hampir memilih apply visa di kedutaan Perancis, tapiiii.. mahal *pelit*. Lagian saya males memodifikasi itinerary, berhubung saya orangnya jujur, baik hati, rajin menabung dan tidak sombong maka saya memilih mengajukan aplikasi visa melalui kedutaan Denmark. Kan katanya harus apply visa di negara yang paling lama didatengin. Proses aplikasi visa di kedutaan Denmark ini akan memakan waktu maksimal 15 hari, mohon doanya ya teman-teman. Bismillah…

Traveling

Nyari Teman Jalan Mengejar Aurora

Parkir di depan Lake Hawea
Parkir di depan Lake Hawea

Berasa deja vu, tahun lalu saya pernah bikin postingan nyari teman jalan ke Selandia Baru dan sukses road trip di Selandia Baru dengan modal nekad. Tahun ini saya kembali mencari teman hidup jalan yang bisa diajak road trip supaya bisa share cost sewa mobil, bensin dan penginapan. Berhubung kurs dolar amerika dan euro melambung tinggi maka saya mau nggak mau harus mencari alternatif supaya tetap bisa menikmati perjalanan. Tiket sudah di tangan, nggak mungkin juga ngebatalin rencana perjalanan saya.

Kalo kamu cewek, masih lajang, berusia antara 28 sampai 34 tahun, suka berpetualang, nggak manja, bisa diajak hidup kelayapan susah, sedang mencari ide jalan-jalan dan teman jalan bareng, bergabunglah di biro perjalanan kami. Ini kok kayak iklan nyari karyawan baru di koran yak hahaha. Nggak ding, saya cuma lagi nyari teman jalan buat menemani perjalanan saya ke tempat yang baru. Cowok juga boleh banget kok kalo mau ikutan, asal masih lajang yaaa, itu persyaratan mutlak huahahaha. Kalo cowok yang mau ngikut kudu jago nyetir dan kuat disuruh dorong mobil dan gak boleh ngerokok selama perjalanan *kejam*

Nah kalo kamu tertarik buat ngetrip bareng saya, cekibrot yaa..

Ke mana?
Tempat yang nggak kalah indah dengan Selandia Baru

Kapan?
Tepat 3 bulan dari sekarang sudah tiba di meeting point

Berapa lama?
Belum tau, belum dapet tiket pulang, tergantung dapetnya tiket promo super murah

Biaya berapa?
US$6400 kalo ikutan paket tour dari Jakarta, kalo sama saya biayanya bisa ditekan asalkan berani jadi backpacker gembel ngenes 😀

Agenda perjalanan
Road trip keliling tempat terpencil sambil makan kwaci di siang hari kalo tangan gak beku sambil ngegosip barengan 3 cewek lainnya dan mengejar aurora borealis di malam hari kalo aktifitas aurora lagi kuat

Kuota
1 orang, kalo banyak yang mau gabung bisa sewa kendaraan yang lebih besar seperti ini

Muat buat ngangkut banyak orang :-D
Muat buat ngangkut banyak orang 😀

Meeting point
Bandara internasional … *rahasia* 😀 Niat gak sih nyari teman jalan

Syarat lain
Visa schengen, ini yang bikin saya deg-degan, semoga visa kita diapprove, amin

**Update 1 Juli 2015, 11.50 WIB
Barusan udah ada yang gabung, lowongan ditutup ya, terima kasih 🙂

Iseng Doang

Sakau Jalan-jalan

The Birds and Campervan in Te Anau
The Birds and Campervan in Te Anau

Liat foto ini inget waktu baru tiba di Te Anau, New Zealand. Setelah memarkir mobil di hostel, saya jalan-jalan di depan danau di sekitaran hostel dan liat satu keluarga yang lagi main-main sama burung ini. Anak kecilnya lari-larian sampe burung-burung beterbangan. Ah saya merindukan jalan-jalan.

Liburan, liburan, liburan, itulah yang sedang ada di benak saya saat ini. 6 bulan sudah saya menahan diri untuk tidak melakukan perjalanan seperti biasanya. Berbeda dengan tahun 2015 lalu, saya masih menyempatkan untuk melakukan perjalanan ke tempat yang seru. Tahun ini udah hampir memasuki bulan ke 7 dan saya sama sekali belum ke mana-mana, rasanya itu sulit diungkapkan dengan kata-kata. Saya sakau jalan-jalan, sodara-sodara!

Saya bukannya lagi nahan diri jalan-jalan tapi saya lagi menahan diri gak jajan dan ngeluarin duit sama sekali kecuali buat bertahan hidup. Sepatu saya yang jebol aja belum diganti yang baru, duhh segitunya yak haha. Saya masih harus nabung sampai 3 bulan ke depan buat melengkapi persyaratan visa yang paling rese yaitu rekening koran 3 bulan terakhir, I hate this part. Bagian ngumpulin bahan buat apply visa sih saya suka, cuma nominal di rekening koran ini nya yang bikin saya stress. Ya keleus budget terbatas nekad jalan-jalan, disitu kadang saya merasa sedihhhh. Beneran sedih karena harus berpikir keras mau minjem duit siapa lagi buat diendapin di rekening hahha.

Belakangan ini saya lagi sibuk browsing websitenya booking dot com, hostelworld dot com, airbnb dot com buat ngebandingin akomodasi yang paling masuk ke budget saya. Beberapa kali berkirim pesan dengan beberapa host airbnb tapi sampai saat ini saya belum memutuskan mau nginep di mana. Pas lagi cerita-cerita kalo saya mau nyoba nginep di rumah orang, ehh saya ditakut-takutin kakak saya, hati-hati lho nginep di rumah pembunuh berdarah dingin mwahahaha. Gilak yaa, kebanyakan nonton horror tuh efeknya bisa jadi kayak gitu. Eh tapi ya kalo dipikir-pikir, kemungkinan itu ada ya, hiyyyy amit-amit jangan sampe. Tapi setelah browsing sana-sini banyakan review positif kok daripada negatif.

Nah sekarang saya mau ngayal lagi, liburan menyenangkan versi saya adalah liburan yang spontan nggak pake direncanain kayak liburannya Mr. Bean yang menangin undian jalan-jalan ke Cannes, Perancis. Sebenarnya liburannya dia udah diatur penyelenggara undian kali ya, cuma dianya aja yang sial mulu haha. Saya masih aja suka nonton Mr. Bean’s Holiday, banyak kebodohan dan kecerobohan yang terjadi pada perjalanannya Mr. Bean ke Cannes. Dari kecerobohan itu justru mewarnai setiap perjalanannya. Saya tuh pengennya jalan-jalan kayak gitu, nggak usah kebanyakan mikir, jalan aja terserah kaki mau melangkah ke mana. Tapi kalo nggak booking penginapan, bus, kereta, pesawat dari jauh-jauh hari jatohnya mahall. Lagi-lagi ngomongin duit..

Tahapan yang sekarang sedang saya hadapi adalah tahap mencari dan menentukan penginapan, seandainya saja saya bisa bepergian tanpa harus booking penginapan, terserah mau nginep di mana dan bebas tidur di mana saja. Kalo tahan dinginnya udara malam dan bisa tidur beralaskan rumput dan beratapkan taburan cahaya bintang tanpa ada binatang buas sih enak ya. Hayo di mana coba tempat yang bisa beginian. Saya lagi pusing nyari penginapan buat ketentraman hati dan persyaratan mengajukan aplikasi visa.

Waktu ke solo trip ke Korea Selatan saya nggak menjalankan agenda perjalanan saya sesuai dengan itinerary yang saya buat sebelumnya. Saya menginap di hostel sampai batas waktu yang tidak saya tentukan, setiap hari saya perpanjang terus aja, sampai-sampai pemiliknya cerewetin saya terus nanyain tinggal sampe kapan.  Kalo betah ya terus di sana, kalo ga betah ya tinggal cabut, gitu aja repot. Pemilik hostelnya agak-agak galak juga, kok saya betah ya tinggal di sana. Enaknya jalan-jalan sendiri itu bisa suka-suka gue, nggak ada yang ngatur dan nggak perlu toleransi sama teman jalan, egois ya saya hehe.

Waktu kelayapan ke Bromo beberapa tahun yang lalu, saya dan kakak saya berangkat ke Bromo tanpa persiapan apa-apa. Saat itu momennya pas tahun baru di mana sebagian besar penginapan terisi penuh, dengan bermodalkan print-an nomer telepon dan alamat penginapan kami nekad berangkat ke stasiun Surabaya dengan menggunakan kereta malam. Itu kali kedua saya kelayapan dalam sejarah per-traveling-an saya. Tanpa diduga perjalanan yang hanya sekedar nekad itu malah memberikan banyak kesan.

Sekarang saya lagi mikir mau nginep di hostel atau di rumah orang (airbnb), kalo traveler bebas  memang lebih cocok nginep di hostel supaya bisa dapet teman baru, kali aja bisa diajak jalan bareng dan nongkrong kayak waktu di Gyeongju. Tapi seiring bertambahnya usia, ceilehh, saya sekarang kok malah mikirin kenyamanan. Pengennya tidur di kamar private dengan fasilitas kamar mandi dalam, tapi kok ya mihil. Mau nggak mau balik lagi nginep di hostel kamar rame-rame. Saya juga mau balik lagi nyari penginapan termurah. Pokoknya mah semua harus serba murah, kalo bisa gratisan.

Saya pengen banget jalan-jalan sekeluarga ke tempat yang seru, selama ini saya selalu jalan-jalan sendirian dan meninggalkan orang tua saya di rumah. Pengen ngajak jalan-jalan tapi masalahnya ibu saya nggak suka jalan-jalan, baru diajak ke PRJ sama anak-anaknya aja udah ngeluh capek, yang ada saya kan bingung yak. Nggak usah jauh-jauh, ajak aja jalan-jalan ke ragunan rame-rame, coba dari yang dekat-dekat dulu.

3 minggu lagi kita lebaran, lebaran atau liburan? Sudahkah kamu merencanakan perjalanan mudik atau liburan seru dengan keluarga.