Iseng Doang

Drama Pervisaan

Haloooo, apa kabar! Akhirnya setelah seminggu terakhir kepala saya selalu migren karena ngurusin kerjaan, mulai hari ini kepala saya bisa adem lagi, cuma badan doang yang masih lelah dan agak panas dingin kecapekan. Kali ini saya gak mau posting yang berat-berat (emang pernah?), cukup di kantor aja mikir, kalo di blog mah cerita yang ringan-ringan yang nggak perlu pake riset dan browsing mencari sumber data, okeh!?

What’s on my mind?

Akhirnya mulai hari ini saya bisa kembali ngayal lagi dan ngebayangin liburan yang sudah di depan mata. Kalo diinget-inget, jaman saya pernah diminta ngumpulin data pemohon dan ada banyak sekali negara tujuan yang pengen didatangi mereka. Yang saya inget adalah tujuan ke negara-negara nan jauh di sana, sebut saja Finlandia, Perancis, dan Belanda yang bikin saya sirik. Gilak, keren banget ni orang mau ke Eropa!! Nah sejak saat itu saya mulai menabung mimpi untuk mengunjungi Eropa, saat itu tahun 2011. Continue reading “Drama Pervisaan”

Advertisements
cerita visa

Mengurus Visa Schengen Melalui Kedutaan Denmark

Dokumen untuk ditukarkan dengan selembar stiker visa
Dokumen untuk ditukarkan dengan selembar stiker visa

“Waduh rekeningnya minim banget, nggak ada dana di rekening lain? Punya orang tua, kakak?”

Saya masih saja teringat saran petugas aplikasi visa ketika akan mengajukan berkas aplikasi visa Schengen 2 minggu yang lalu. Saran dia benar, sayanya aja yang ndableg, udah tau mau ke Yurop malah masukin dana pas-pasan. Eropa, apa yang ada di pikiranmu saat mendengarkan kata Eropa? Perjalanan seru? Iya! Keren? Pastinya! Mahal? Banget! Visanya ribet? Entahlah. Continue reading “Mengurus Visa Schengen Melalui Kedutaan Denmark”

Traveling

Cerita Visa

Dokumen untuk ditukarkan dengan selembar stiker visa
Dokumen untuk ditukarkan dengan selembar stiker visa

Okeh, mumpung masih anget-anget taik ayam nih saya mau cerita udah ngapain aja dari pagi tadi. Pagi ini saya ngerasa gugup, deg-degan, gelisah, sampe mules gara-gara stress mikirin visa. Rencananya pagi ini, sekitar jam 10an saya pengen capcus ke belakang kantor buat apply visa. Semua dokumen udah saya siapin sejak kemarin, lengkap dengan bukti keuangan dan bukti konfirmasi tiket pesawat dan ho(s)tel yang sudah dibayar dengan lunas atau digaransi dengan kartu kredit. Saya tau banget kalo mau apply visa konon katanya kudu ada duit sebanyak 50 juta rupiah di rekening yang dibuktikan dengan rekening koran dan surat referensi dari bank tempat kita naro duit. Tapiiii berhubung jumlah saldo di rekening saya pas-pasan, maka saya nekad mengajukan aplikasi visa hari ini.

Setelah menyiapkan mental saya memberanikan diri untuk melangkahkan kaki ke lift dan jalan kaki ke pusat aplikasi visa yang berjarak selemparan kolor dari kantor saya. Sambil berjalan saya merasakan betapa kerasnya degup jantung saya. Tegangnya kelewatan, melebihi tegangan listrik di pusat pembangkit listrik. Saya harus berangkat ke pusat aplikasi visa hari ini, kalo enggak sekarang kapan lagi. I’m running out of time. Now or never.

Bener aja dong, saat tiba di sana dan duduk manis di depan mbak petugas penerima berkas visa, berkas yang pertama kali dicek adalah rekening koran saya yang berjumlah 5 halaman. Dicek angkanya bolak-balik sampai tiba di lembaran paling akhir yang berisi jumlah saldo di rekening saya dan.. Mbaknya bilang gini, “Maap-maap nih, jumlah saldonya minim banget, ada rekening lagi nggak? Ada simpenan lain? Sekedar saran aja sih, kalo bisa direkening ada banyak. Kurs hari ini berapa? Paling enggak buat biaya hidup di sana bisa40 juta kan.”

Jedeeer!! I knew it, pasti dia akan bilang begitu. Apa yang saya takutkan ternyata menjadi kenyataan. Rekeningnya kurang banyak, huaaaaa!! Iyaaa sih biaya hidup di negara-negara skandinavia itu mahal, tapi kan saya udah bayar tiket pesawat dan hostel, jadi di sana nanti tinggal bayar setengah akomodasi, transportasi dalam kota dan biaya masuk objek wisata (kalo mau). Saya juga ditanyalah apakah saya punya rekening lain atau tidak, rekening orang tua, atau siapapun yang bisa membiayai perjalanan saya. Ealah boro-boro mbak, saya kan single fighter, ini saya mau ke sana juga kan mau investasi, maksudnya investasi memori jangka panjang. Saya nggak punya investasi dalam bentuk logam mulia atau aset tak bergerak. Namanya juga backpacker kere, bisa sampe ke sana aja udah alhamdulillah, saya nggak bakalan macem-macem selama di sana.

Kemudian, si mbaknya langsung bolak-balik ngecek kelengkapan aplikasi visa saya satu persatu. Dimulai dari rekening koran, tiket pesawat, pokoknya semuanya deh. Sambil ngecek sambil nanya-nanya saya kerja di mana, berapa lama, interview kecil-kecilan gitu deh. Sambil ngejawab pertanyaannya sambil saya jelasin. “Ini lho tiket pesawatnya dari Jakarta ke Kuala Lumpur”. Kemudian dia nanya lagi, “Tiket pulangnya mana? Dari Kuala Lumpur ke Jakarta kok nggak ada!?”

“Begini lho mbak, jadi rute terbangnya itu saya berangkat dari Jakarta ke Kuala Lumpur, kemudian dari Kuala Lumpur ke Abu Dhabi, dari Abu Dhabi ke hatimu…”

Setelah dicek dengan seksama, sebagian besar berkas di halaman belakang yang nggak penting dikembaliin lagi ke saya. Cukup halaman pertama dan bukti kalo saya udah bayar tiket atau hotelnya. Di website pusat aplikasi visa disebutkan, kalo pemohon seharusnya gak beli tiket pesawat dulu. Kalo dipikir-pikir, saya ini nekad banget, beli tiket pesawat pp dan tiket antar kota duluan. Ya ampun, saya takut banget! Beneran!

Dokumen yang diperlukan
Dokumen yang diperlukan

Setelah semua dokumen diterima dengan lengkap, selanjutnya saya melakukan pembayaran dan menerima bukti pembayaran. Biaya visa ini lebih murah daripada visa New Zealand. Saya langsung pindah ngantri di depan loket ruangan tertutup untuk pengambilan sidik jari dan foto biometrik. Sidik jari dan foto biometrik diperlukan untuk database di negara-negara schengen, jadi kalo nanti mau apply visa lagi kita gak perlu ambil sidik jari dan biometrik. Mirip-mirip kayak mau bikin paspor gitu deh. Setelah selesai pengambilan foto biometrik dan sidik jari akhirnya selesai sudah tahapan-tahapan dalam mengajukan aplikasi visa ini. Saking gugupnya saya sampe blank pas keluar dari pusat aplikasi visa, nyari pintu keluar aja nyasar hehe.

Sebelum memilih di kedutaan mana saya akan mengajukan aplikasi visa, saya sempat browsing mencari informasi mengenai pengalaman orang-orang yang pernah apply visa di kedutaan Denmark, tapi karena minimnya postingan blog orang yang pernah apply visa di denmark saya nggak nemu. Kebanyakan orang-orang apply visa melalui kedutaan Belanda dan Perancis (TLS contact) karena katanya di kedutaan ini paling mudah prosesnya. Awalnya saya juga hampir memilih apply visa di kedutaan Perancis, tapiiii.. mahal *pelit*. Lagian saya males memodifikasi itinerary, berhubung saya orangnya jujur, baik hati, rajin menabung dan tidak sombong maka saya memilih mengajukan aplikasi visa melalui kedutaan Denmark. Kan katanya harus apply visa di negara yang paling lama didatengin. Proses aplikasi visa di kedutaan Denmark ini akan memakan waktu maksimal 15 hari, mohon doanya ya teman-teman. Bismillah…