YHA Lake Tekapo

New Zealand, New Zealand! Saya mau posting tentang New Zealand lagi nihh, hehe. Saya belom bosen ngomongin New Zealand.

Ok, hari pertama di New Zealand, setelah menempuh perjalanan dengan menggunakan intercity bus selama 3,5 jam-an (jaman es, jaman batu, jaman purba) dari Christchurch International Airport akhirnya saya tiba di Lake Tekapo. Apa sih yang special dengan Lake Tekapo sehingga memasukan Tekapo di hari pertama dalam itinerary saya? Lake Tekapo kan cuma danau biasa doang, tapi saya jatuh cinta dengan Lake Tekapo sejak beberapa tahun yang lalu. Saya sering googling dan menyimpan foto Lake Tekapo di komputer buat motivasi saya supaya bisa berangkat ke New Zealand.
Ketika akhirnya benar-benar menginjakan kaki di Lake Tekapo, perasaan saya bercampur aduk, antara lapar dan haus karena belum sarapan dan senang bercampur bahagia karena mimpi jadi kenyataan. Akhirnya, akhirnya saya sampe ke siniiii. Saat turun dari bus mata saya langsung dimanjakan oleh birunya danau yang membentang luas di hadapan saya dengan langit yang jernih. Alhamdulillah…

Setelah turun dari bus kami berjalan kaki untuk mengambil brosur di pusat informasi dan berjalan kaki sejauh beberapa puluh (atau ratus?) meter untuk menuju hostel yang telah kami booking 2 bulan sebelumnya. Di Tekapo saya menginap di YHA Lake Tekapo. Hostel yang berukuran mungil terletak di 3 Simpson Lane, lokasinya paling dekat dengan tempat pemberhentian bus. Di sekitaran hostel ini masih ada hostel lain, tadinya saya mau nginep di hostel sebelahnya tapi setelah membaca review di hostelworld saya mengurungkan niat saya dan lebih memilih menginap di YHA Lake Tekapo, walaupun harganya lebih mahal beberapa dolar.

Saat masuk ke dalam hostel kami disambut oleh mas-mas yang berdiri dibalik meja resepsionis dan menyapa kami dalam bahasa inggris, ya iyalah masa bahasa jawa. Setelah menunjukan scan-an bookingan hostel dari hape, kami ditanya akan membayar dengan kartu kredit atau cash. Saya pilih cash donk, kan duitnya masih banyak haha *ditabok*
Saat booking saya memilih kamar dormitory dengan kapasitas 5 orang yang hanya boleh ditempati oleh cewek dengan harga 38 dolar. Saat masuk ke kamar, saat itu baru ada 1 orang cewek yang menempati kamar kami. Cewek Australia yang berasal dari Brisbane ini sendirian jalan-jalan ke New Zealand, wuihh. Saya memilih kasur di atas (bunk bed), sedangkan teman saya di bawah. Badan saya panjang, kepala saya takut kepentok pas bangun tidur kalo tidur dibawah, jadi saya pilih kasur nomor 2. Kamar yang kami tempati ini ukurannya mungil banget, tapi nggak pengap dan lumayan nyaman.
Selain kami ber-3, beberapa saat kemudian datanglah ibu-ibu Jepang dan 1 orang cewek Jepang lainnya, masih muda. Ibu Jepang ini ramah, dan nampaknya agak kesulitan berkomunikasi dalam bahasa inggris. Kami memulai perkenalan dan ngobrol sebentar. Si ibu ini datang ber-2 dengan suaminya dan dalam perjalanan menuju Christchurch. Mereka mau mengakhiri perjalanan, sedangkan kami baru memulai perjalanan.

Setelah meletakan barang bawaan dan beristirahat sejenak, kami pun mulai keluar buat cari makan siang dan belanja di minimarket. Kami mampir ke restoran cina dan memesan nasi goreng. Sebenernya saya agak was-was kalo ke restoran cina, saya takut kemakan B2 doang. Nggak cuma di restoran cina aja, di restoran jepang, dan restoran lain juga banyak menyajikan menu B2, hiks.

Setelah kenyang makan dan beli bahan makanan, kami kembali lagi ke hostel buat meletakan belanjaan dan siap-siap ngambil kamera buat mengabadikan pemandangan Lake Tekapo. Kami jalan-jalan di sekitaran Lake Tekapo menuju The Church of The Good Shepherd, Setelah dari gereja kami niatnya pengen ngaso di bangku taman, tapi keduluan sama bapak-bapak. Udah tanggung juga, akhirnya kami duduk bareng dan ngobrol deh.

Kami manggilnya Om Gavin, ternyata dia adalah seorang pengusaha catering yang memiliki hobi fotografer. Sebelumnya saya liat si om jalan-jalan sendirian sambil jeprat-jepret pake kameranya. Keliatan banget penghobi fotografer, kameranya gede buanget dan berat kayak teropong. Saya bukan pecinta fotografi jadinya nggak ngerti itu kamera jenis apaan. Saya sempet nyobain pegang kameranya dan coba-coba liatin lensanya, keren dehh. Setelah ngobrol panjang lebar, kami ditawarin buat main ke peternakannya yang terletak di nggak jauh dari Christchurch (kalo sempet). Si om ini berbaik hati nulisin alamat dan nomor teleponnya, kalo misalnya suatu saat nanti kami pengen mampir ke rumahnya dan merasakan kehidupan lokal warga Selandia Baru. This is the reason why I love backpacking traveling, kamu tidak pernah tau akan bertemu dengan siapa. Sukur-sukur ketemu jodoh, amin amin!

Lanjut ke cerita hostel lagi ya. Kalo lagi nggak di luar saya paling sering bolak balik ke toilet cewek, ngapain? Internetan haha. Di toilet koneksi internetnya kenceng banget! Saya iseng-iseng foto pengumuman pada selembar kertas yang ditempel di pintu toilet.

Sebenernya nggak ada yang istimewa pada YHA Lake Tekapo ini, ukuran hostelnya mungil, kamarnya mungil, dapurnya lumayan luas, biasa aja gitu. Yang luar biasa adalah pemandangan di belakang hostelnya keren banget, langsung menghadap Lake Tekapo dan Mt. John di kejauhan. Saya suka duduk-duduk di ruang ngumpul sambil memandang bunga mawar dan danau di kejauhan, sambil sesekali liatin bebek yang seliweran di taman. Pemandangan yang kayak gini nih yang bikin saya betah berdiam diri di YHA Lake Tekapo.

YHA Lake Tekapo

YHA Lake Tekapo

My room

My room

Penghuni hostel

Penghuni hostel

Lorong menuju kamar

Lorong menuju kamar

pemandangan sekitar hostel

pemandangan sekitar hostel

12 thoughts on “YHA Lake Tekapo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s