Traveling

Perjalanan Panjang ke Napoli

cimg3899
Pompeii

Tiba-tiba saya kepengen ngeblog. Tiba-tiba kepengen posting perjalanan waktu ke Eropa. Tiba-tiba saya ngantuk, kemudian matiin laptop dan tidur siang. Nggak deng hehe! Yuk ah kita flashback ke tahun 2015, ketika saya melakukan perjalanan ke benua Eropa. Kali ini saya mau cerita pengalaman perjalanan saya ke Napoli, Italia, negara ke-4 yang saya kunjungi di Eropa.

Sore itu pesawat Air Berlin yang saya tumpangi dari Dusseldorf mendarat dengan mulus di Leonardo da Vinci-Fiumicino Airport, Roma. Kali ini saya tidak se-excited seperti ketika mendarat di bandara Keflavik, Islandia seminggu sebelumnya. Lelah, hanya itu yang saya rasakan selama penerbangan dari Keflavik ke Dusseldorf sampai ke Roma dalam waktu seharian penuh. Walaupun saya sudah tidur di pesawat dan selama transit 5 jam di bangku bandara Dusseldorf, tetap saja saya merasa letih. Perjalanan saya masih panjang sampai akhirnya pulang kembali ke Indonesia dan saya mulai kecapekan setelah belasan hari menghabiskan waktu di jalan.

Sesampainya di Fiumicino Airport, saya dan teman jalan langsung mengambil bagasi, kemudian kami duduk-duduk bego di depan conveyor untuk beristirahat sambil mengamati orang-orang yang lalu lalang di terminal kedatangan. Kami mengumpulkan energi sebelum bergerak ke tempat penitipan bagasi yang terletak di terminal terminal 3. Kami baru berpindah negara selama beberapa jam, kemudian merasa asing berada di negara yang bahasanya belum pernah saya dengar.

Untunglah di bandara FCO tersedia wi-fi sehingga kami bisa browsing sejenak mencari informasi tentang Roma. Setelah puas browsing-browsing, cuci muka, bongkar muat ransel, ganti kaos kaki, ganti sepatu, kami langsung mengambil trolly dan berjalan menuju tempat penitipan bagasi.

Rencananya sore itu kami ingin menjelajah Roma selama seperempat hari, kemudian dini harinya melanjutkan perjalanan ke kota Napoli. Kenapa saya memilih Napoli, bukan Milan atau Pisa?? Karena.. saya pengen liat Pompeii. Saya sebenarnya nggak tau Pompeii itu seperti apa. Tiba-tiba waktu browsing tentang Italia saya nemu satu kota bersejarah yang menurut saya menarik untuk dikunjungi. Jadi, kenapa nggak ke Pompeii aja!

Kami naik bus dari bandara dan sampai di Termini Roma sekitar pukul 6 sore. Setelah keluar dari bus kami jalan-jalan sore di sekitaran stasiun Termini, pandangan kami teralihkan dengan restorang berlabel halal yang berjejer di pinggir jalan. Kami langsung masuk ke salah satu restoran kemudian langsung memesan makanan yang lama tak kami jumpai yaitu, nasi! Kami memesan nasi kebab. Kan udah lama nggak makan nasi. Travel rice cooker saya rusak waktu road trip di Islandia, terpaksa kami puasa makan nasi selama beberapa hari. Indonesia banget ya saya, kalo nggak makan pake nasi  bilangnya cuma ngemil. Oh iya, nasinya Italia ini beda, bentuknya panjang-panjang kayak nasi di Iran. Apa namanya? Long grain rice? Yang penting judulnya nasi dah.

Kami mondar-mandir nggak jelas di Roma, kemudian muter-muter di stasiun termini malamnya. Kami ngalor ngidul nyari wi-fi tapi nggak ketemu. Lama-kelamaan kami bingung sendiri mau ngapain di Roma malam-malam. Mau kelayapan kok ya capek banget. Mau nginep di hostel juga tanggung. Mau main ke rumah orang tapi nggk punya kenalan di Roma. Akhirnya jam 9 malam kami memutuskan pergi ke terminal bus di Tiburtina.

Kemudian muncullah masalah baru, gimana caranya supaya kami bisa sampai ke Tiburtina??? Dodol banget yak jalan-jalan ke Eropa nggak pake riset lengkap, matek! Saat itu saya belum punya hp canggih, teman jalan saya pun hapenya jadoel cuma bisa sms dan teleponan doang, dia punya tab tapi kan nggak ada koneksi internet. Sempurna! Nggak punya peta, nggak punya offline map, nggak punya wi-fi, nggak punya kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Italia, nggak punya teman, nggak punya pacar Italia, nggak punya duit. Waduh piye iki!?

Teman jalan : “Wait! Ini kan stasiun! Kita kan lagi berdiri di stasiun besar di Roma!”

Bijo : “Iya setangsiun, tapi kan stasiun ke luar kota dan ke luar negeri! Tuh liat tujuannya jauh-jauh bener. Keluar yuk, kita nyari bus atau nanya-nanya sama orang di luar sana.”

Kami langsung jalan ke terminal bus di Termini, di sana terdapat beberapa platform, bukan, apa namanya ya kalo di terminal bus.  Kami mencari target untuk bertanya. Kami bertanya kepada sopir bus yang baru turun dari bus, ya iyalah masak dari pesawat. Kami bertanya kepada mas-mas sopir bus gimana caranya ke Tiburtina. Kemudian mas-mas tersebut cuman geleng-geleng kepala sambil menyuruh kami bertanya kepada orang lain. Ohh mungkin dia nggak bisa bahasa inggris kali.

Kami beralih ke target berikutnya, seorang bapak-bapak dan bertanya kembali how to get to Tiburtina. Dia menjawab dengan jutek sambil mengarahkan tangannya ke a arah pintu masup setangsiun bawah tanah. “Noh, dari sonohh kalo mau ke Tiburtina!”

Buset galak bener! Biasa aja kali pak. Kami langsung manut berjalan ke arah pintu masup setangsiun kereta bawah tanah. Setelah menuruni tangga ke stasiun kami melihat seonggok mesin pembelian tiket otomatis. Kami mengamati sejenak, kemudian mencoba membelinya dengan mengikuti instruksi yang ada di layar mesin. Kami udah nggak norak lagi, kan udah pernah mencoba waktu beli mobilis tiket di Paris. Asalkan ada pilihan bahasa inggris kami pasti bisa. Kalo pake bahasa Italia kan nggak ngerti.

Setelah membeli tiket kami langsung masuk ke stasiun yang amat sangat sepi. Kami mencari tulisan yang mengarahkan ke Tiburtina. Kami bolak-balik turun naik tangga mencari jalan yang benar sampai akhirnya ketemu platform atau peron yang kami cari. Nggak lama kemudian datanglah kereta yang kami tunggu dan kami pun langsung masuk. Eh ternyata nggak jauh naik kereta dari Termini ke Tiburtina. Dulu saya masih polos, belum tau cara keluar bandara, stasiun atau terminal. Sekarang saya udah pinter soal mencari jalan kayak gini, tinggal liat di google map doang bisa. Dulu kan hape saya jadul huhu.

Sesampainya di stasiun Tiburtina, kami langsung keluar dari kereta. Teman jalan saya udah keluar duluan, kemudian saya ikutan keluar. Bukannya langsung lari mengejar teman jalan, saya malah langsung duduk begitu keluar dari pintu kereta. Tiba-tiba dalam sekejap saya langsung dihampiri seorang bapak tua yang mendekati saya yang sedang dalam posisi duduk. Si bapak tua berbicara di depan muka saya dengan suara keras, “ONE EURO!! ONE EURO!!!”

Saya reflex langsung merogoh saku jaket saya dan mengambil koin 1 euro kemudian memberikannya kepada bapak tersebut. Setelah si bapak pergi, saya langsung lari mengejar teman saya sambil gemeteran. “Huaaa gua abis dipalak!!”

“Kenapa lo?”

“Itu, bapak itu minta duit ke gue!”

Bengong

“Si bapak itu nggak tau kalo kita juga homeless kayak dia. Kita aja nggak tau mau tidur di mana mala mini. Untung dia cuma minta 1 euro doang, coba kalo minta 100 euro mau gue kasih apaan, gue kan gak punya duit huaaaaa” Masih shock.

Belum ada seharian di Roma saya udah kena palak. Oke sip, Roma gak asik. Stasiun Tiburtina diatas jam 9 malam ini sepi banget. Saat itu saya bersyukur, untunglah saya nggak kelayapan sendirian. Untunglah saya punya teman jalan yang bisa digandeng. Ini stasiunnya kok suram amat yaaa. Setelah keluar dari stasiun Tiburtina kami melihat banyak sekali cowok-cowok di kolong jembatan penyebrangan yang sedang berkumpul, ada yang lagi mabok, ada yang lagi duduk-duduk. Astaga kota apa ini. Saya langsung berjalan disamping teman saya dan memegang tangannya. Tumben-tumbenan saya jadi penakut. Ya lagian ngapain juga  2 orang cewek asia kelayapan jam 10 malem di Roma, berani bener.

“Aaaak gue mau pulang!” Rengek saya.

“Dih kenapa lo!?”

Setelah berjalan beberapa menit akhirnya kami sampai di terminal bus Tiburtina. Di sana banyak calon penumpang bus yang sedang menunggu bus. Kami mondar-mandir mencari posisi pw buat duduk sambil menunggu bus yang kami tunggu. Perut saya mulai lapar, lapaaar sekali. Terus saya inget kalo saya masih punya popmie-popmie-an yang saya beli di Reykjavik, Iceland. Saya berkeliling mencari air panas di warung tapii nggak dapet. Saya udah bolak-balik nanya air panas, eh mereka nggak ada yang ngerti apa yang saya ucapkan dalam bahasa inggris. Padahal waktu di Iceland gampang banget dapet air panas di minimarket, gratis lagi. Lha di Italia susah bener. Saya nggak tau apa bahasa italianya air panas. Saya menyerah, saya makan popmie pake air mineral yang saya bawa. Tapi kok ya nggak enak rasanya, yang ada malah kebuang.

Kami berpindah lagi duduk ke luar pintu terminal, ke arah di mana banyak orang sedang berkumpul. Di sini teman jalan saya sempat tidur nyenyak banget di bangku panjang. Saya cuma bisa menahan kantuk dan lapar sambil terjaga. Semakin malam udara semakin dingin. Sempurna, ngantuk, lapar, dingin. Terus kami pindah lagi duduk ke dalam terminal. Saya udah mulai ngantuk nggak karuan. Akhirnya kami berdua tiduran di bangku di dalam terminal. Pas lagi pules-pulesnya kami diteriakin bapak-bapak petugas keamanan terminal bus. Kami langsung bangun dalam sekejap. Si bapak menanyakan kami dalam bahasa Italia, kemudian kami cuma bisa geleng-geleng doang haha. Kami menjawab dalam bahasa inggris. Gini lho pak, kami lagi nungguin bus jam 2 pagi.

20151008_012947
Ngemper di trotoar

Karena terminal bus akan ditutup jam 12 malam, maka kami berdua dan calon penumpang lain disuruh keluar dari terminal dan menunggu bus di pinggir jalan. Setelah kami keluar, gerbang terminal dikunci dan lampunya dimatikan. Jiahhhh batal deh niat kami buat tidur di terminal bus. Kami menunggu dengan setia di trotoar di pinggir jalan bersama dengan calon penumpang lain. Suasana malam semakin mencekam, dingin semakin menusuk dan tiba-tiba saya kebelet pipis! Mau pipis di mana malam-malam di pinggir jalan!? Toilet di dalam terminal udah di tutup. Mau pipis sembarangan di semak-semak nggak bisa ada banyak orang. Saya hanya bisa mengalihkan pikiran, mengutuk malam yang dingin, sambil menahan kebelet. Karena udah nggak tahan akhirnya memutuskan untuk jalan mencari toko yang masih buka. Di kejauhan saya melihat 2 buah toko (nggak tau toko apaan) yang masih buka jam 1 pagi, saya langsung mampir dan numpang ke toilet.

Keluar dari toilet saya langsung mengucapkan terima kasih, kemudian saya ditanya oleh mas-mas pemilik toko. “Kamu orang Malaysia?”

“Heee bisa bahasa melayu dia! Bukaan, saya bukan dari Malaysia, Indonesia”

“Saya pernah tinggal di Malaysia” Kata mas-mas pemilik toko.

Sepertinya dia adalah imigran yang tinggal di Tiburtina. Saya lupa dia pendatang dari negara mana. Kalo dari tampang sih nggak kaya orang Malaysia. Dari Iran mungkin? Ya kali haha.

Saya kembali ke pinggir jalan di depan terminal, kembali menunggu bersama dengan para pemain telenovela yang ngganteng-ngganteng dan cantik-cantik. Menguping pembicaraan mereka. Kemudian datanglah bus tingkat Megabus kea rah kami. Saya langsung berdiri dan bersiap-siap untuk naik. Namun saat melihat tulisan yang tertera di jendela depan bus saya mendadak kecewa. Ternyata ini bukanlah bus yang saya tunggu, itu bus tujuan ke Florence  hiks. Saya lemas dan kembali duduk ke tempat semula. Lamanya lamanya lamanya. Udah 2 malam saya nggak tidur layak, saya capek banget.

20151008_020651
Megabus

Jam 2 dini hari akhirnya datanglah bus yang saya tunggu, Megabus tujuan Naples atau Napoly. Akhirnyaaaaaaa.. Kami langsung ngantri di depan pintu masup bus dan ngantri masup ke dalam bus. Kami langsung naik ke lantai 2 bus dan memilih kursi kemudian langsung tidur nyenyak. Baru aja memejamkan mata, tiba-tiba terdengar pengumuman bahwa bus sudah sampai di terminal bus di Napoli. Huaaaaa kok cepet banget!!! Tidurnya belum pulas! Pas saya cek jam waktu menunjukan hampir pukul 5 subuh. Aaaak saya masih ngantuk! Kenapa cepat sekali sampainya. Perjalanan sejauh 225 kilometer itu nggak berasa, cuma dalam sekedip mata sampainya. Berat rasanya turun keluar meninggalkan Megabus yang hangat.

Saat keluar dari bus saya disambut dinginnya udara pagi Napoli. Dinginnyaaa!! Termpat pemberhentiannya juga bukan berupa terminal bus besar. Nggak ada tempat tertutup buat ngangetin badan. Hmmm okay, baiklah, selamat datang ke Napoli, wahai rakyatku!!

(bersambung)

Advertisements

8 thoughts on “Perjalanan Panjang ke Napoli”

  1. Aduhhh perjalanan kamu kenapa penuh penderitaan gitu ya. Kadang jalan budget is OK tapi jangan terlalu hemat2 amat ahhh, nantinya malah gak menikmati. Trus gak ada itineraray dan gak ada wifi utk riset? Omaigaaat *panik*.Jadi penasaran nih mau baca cerita selanjutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s